Sebenarnya setelah kelas tidak ada murid karena mepet dengan hari raya ini saya berencana untuk tidak langsung pulang. Tapi untuk jalan-jalan sejenak untuk menghilangkan kepenatan jiwa raga karena kesibukan selama ini. Benar-benar bulan yang melelahkan, karena disaat berpuasa kita tetap harus aktif dalam kelas. Dan itulah tugas kita seharusnya.
Sebelumnya, saya dihantam rasa gelisah karena uang yang saya bawa dikhawatirkan tidak mencukupi hidup saya selama di Malaysia nanti. Malahan waktu saya telepon kiri kanan, tak sedikit yang kesannya 'menakuti', dengan berkata diluar fiskal masih harus bayar ini dan itu, jadi setidaknya harus sedia satu juta rupiah lagi dan sebagainya. Karuan saja, karena saya orang yang kadang cepat cemas, jadilah saya kalang kabut juga. Sampai akhirnya saya telepon sepupu yang sering ke luarnegeri..dengan rincian informasi sebagai berikut :
"Kalau fiskal, tetap tidak harganya?"
"Tetap...satu juta cukup"
"Lantas, untuk pajak bandara (airport tax) berapa?"
"Hmmm...kemarin waktu aku terakhir ke Singapura habis 75 ribu saja"
Tetapi karena dia pekerja kapal jadi bebas fiskal. Diapun sampai keluarkan semua dokumen-dokumennya seperti visa, dan tetek bengek lainnya.
Setidaknya saya masih agak lega, karena tidak serumit yang dibayangkan sebelumnya. apalagi juga perlu disertai surat-surat yang lengkap dan sejumlah uang. Pulang dari rumahnya sekitar pukul 20.30, dia titip sesuatu pada saya dengan memberi uang 30 Dollar Singapura, katanya kalau ditukar ke RM menjadi RM 70.
Belum lagi, teman-teman yang selalu menggojlok saya. Dengan banyak hal, dari yang pasukan RELA lah, razia lah, dan seterusnya dan seterusnya...kalau bagi saya sih itu mungkin bagi yang apes saja. Kebanyakan sih aman-aman saja selama di Malaysia. Jadi saya hanya pasrah dengan segala keadaan yang akan terjadi seterusnya setiba disana. Terlebih saya belum kenal betul dengan para penjemput saya selain Fazli. Sempatlah sedikit bertengkar dengan orangtua masalah itu...apalagi kesiapan ini dan itu.
Besoknya, masalah tetap sama. Saya bolak-balik mengecek kelengkapan surat-surat..mulai dari tiket penerbangan, paspor hingga surat pengantar segala macam dimasukkan dalam amplop dan masuk lagi dalam tas ransel. Kebetulan yang mengantar saya adalah papa, mama, novi dan afiq sendiri. Kamipun baru berangkat ke Bandara Juanda sekitar pukul 5.10 WIB karena menunggu Afiq bangun tidur. Begitu bangun tidur, tanpa mandi dia kami bawa serta ke bandara. Ternyata perjalanan kesana sangat lancar, karena jalur arah utara yakni ke Surabaya justru lengang. Sedangkan yang ke selatan sangat ramai. Kami sempat beli oleh-oleh untuk keluarga di Malaysia sana dikawasan Bakpao Telo, Pasuruan sambil menjaga Afiq yang sangat aktif.
Kita sampai di bandara sekitar pukul 7.55 WIB. Bandara baru yang sangat bagus dan modern, tapi karena saya sendiri yang katro sehingga masalah kunci gembok taspun sampai jadi bahan pertengkaran. Sayapun belum sempat pamitan penuh, karena harus lari-lari masuk kedalam ruang check-in dan mengurus semua hal terkait dengan imigrasi. Alhamdulillah, ternyata urusan imigrasi sangat mudah, meski harga airport tax naik jadi 100 ribu. Tapi sayang, pesawat yang hendak saya tumpangi mengalami penundaan sekitar satu jam sepuluh menit, sehingga harus menunggu sampai lama, sementara keluarga sudah pada pulang.
Untungnya, saya jumpa dengan teman SMP yang sudah 15 tahun tidak bertemu. Dia bekerja dikilang minyak di kawasan Johor ternyata, kami bercakap2 sekitar sejam karena dia akan naik duluan dengan menggunakan MAS jam 10...sementara saya harus menunggu lagi sampai pukul 13.10...Kak Zana menelepon, Novipun juga sama...
Saya jujur saja masih resah dan khawatir, apalagi ini penerbangan pertama saya ke luarnegeri (dan semoga menjadi awal dari perjalanan2 selanjutnya). Ketakutan itu baru terjawab setelah AirAsia tiba di Juanda dan saya naik kedalamnya....
Bersambung
Bambang Priantono
171007