Indonesia, Dangerously Beautiful!!!!


Supaya tidak banyak numpuk utang ceritanya. Maka saya ceritakan sekalian saja ya.
Nah, petang tanggal 13 Oktober itu saya pamitan dengan keluarga Kak Zana untuk ikut pakdhe dan budhe menuju Muar, yang letaknya sekitar 3 jam perjalanan dari Kuala Lumpur. Disana kita akan berhari raya dengan Nyai Marsiti, ibu kandung pakdhe karto yang sudah berusia 93 tahun. Saat kita memulai perjalanan, cuaca Selangor dan sekitarnya mendung tebal dan kemudian hujan turun dengan derasnya. Apalagi karena pakdhe karto katanya kalau malam penglihatannya kurang tajam, maka budhe nun dan kadang saya jadi pemandu jalan, khususnya untuk melihat-lihat papan penunjuk jalan. Jalan tol di Malaysia ini sangat panjang, sehingga perjalanan kemana-mana menjadi cukup mudah.

Tak lama setelah memasuki kawasan Seremban, kami istirahat sejenak untuk menghimpun tenaga, karena perjalanan yang ditempuh masih cukup jauh. Ada sekitar satu jam kita beristirahat ditempat istirahat yang ada diwilayah Seremban ini. Sepanjang perjalananpun saya dan pakdhe banyak ngobrol segala macam khususnya yang terkait dengan masyarakat Jawa Malaysia dan bahasa Jawa itu sendiri. Perjalanan sebenarnya sangat melelahkan, tapi mungkin karena jalan tol yang mulus dan tidak terlalu banyak macet, akhirnya semua lancar-lancar saja. Kerupuk udang dan sebotol minuman menjadi teman jalan ditengah kantuk yang melanda.

Sekitar pukul 11 waktu setempat, barulah kami sampai di Muar Bandar Maharani, kota kelahiran Pakdhe Karto. Kami memasuki rumah keluarga besar Karto yang ada di Lorong Perkasa, Jalan Haji Jaib Muar. Istirahat sejenak sambil menikmati kopi Muar dan beberapa jajanan ringan dulu...plus mata rasanya ngantuk sekali. Sayangnya Nyai Marsiti sudah tidur, dan karena tidak ada tempat, maka akhirnya saya diinapkan disebuah wisma yang letaknya agak jauh dari rumah keluarga Karto.

Wisma Chalet kalau nggak salah namanya, wisma berarsitektur Melayu ini saya diinapkan. Sementara Pakdhe dan Budhe tinggal dirumah besar. Sempat pakdhe marahi salah satu staf di wisma ini, karena tindakannya yang dianggap ngawur. Nah, rasain loh...

Dasarnya saya takut lho tidur sendirian ditempat asing. Tapi karena sudah capek sangat, akhirnya itu tadi...sleeping handsome..huehehehe...enaaak banget.

Bangun pagi sudah sekitar jam 6 waktu setempat. Mau cari air panas, eh pegawainya pada nggak ada! Lobby, dapur semuanya gak ada orang...gila banget. Malah staf yang sok ngawur itu datang hanya untuk ambil sesuatu dan nyuruh saya masak sendiri airnya. Pelayanan macam apa ini?? Wah, gak masuk nih..mentang-mentang hari raya, tapi pelayanan seharusnya tetap ada lah. Untungnya, pakdhe karto sudah datang jadi kita sarapan di rumah keluarga besar Karto dengan berkenalan dengan seluruh anggota keluarganya, termasuk Nyai Marsiti yang bertanya 'iki sopo?'....hehehehe...

Makannya sama dengan masakan-masakan Melayu umumnya. Percakapanpun kebanyakan menggunakan bahasa Inggris campur Melayu. Bahasa Jawa? Hmmm...tidak begitu banyak. Apapun itu, dibuat enak aja agar liburan terasa lebih menyenangkan dan asyik. Apalagi saya sudah berpegangan kalau liburan ini benar-benar dibuat untuk melupakan semua urusan di Indonesia...ruwet!!!!

Selepas makan pagi, saya dan pakdhe karto berkeliling kota Muar selama kurang lebih satu jam. Dipuas-puaskanlah memotret kiri kanan, termasuk kesibukan warganya yang masih ramai berniaga meski masih dalam suasana hari raya. Bahkan di Masjid Jamik, pakdhe sempat bercakap-cakap dengan beberapa orang Indonesia yang melintas dan ternyata asalnya dari Lombok...wahahahah..ramai juga ya orang Indo di kota ini ternyata.

Tanda-tanda berbahasa Melayu, Inggris, Cina, Tamil bahkan Birma saya temui banyak di Muar, dan seperti semacam ciri khas yang ada di Malaysia pada umumnya. Beda dengan di Indonesia yang semuanya pakai bahasa Indonesia atau Inggris...yah, lain kolam lain ikannyalah kalau begitu...Dari Masjid Jamik, kemudian sekolah tempat pakdhe karto menuntut ilmu, gedung pengadilan, pekan Tanjung Emas, tepi muara sungai Muar, sampai kota lama sudah dijelajah sebagian diantaranya, dan bagi pakdhe sendiri ini menjadi nilai nostalgia tersendiri, karena lahir dan besar dikota ini...dan satu lagi..wilayah Muar merupakan salah satu wilayah Johor yang banyak dihuni keturunan Jawa.

Yah, oke...nanti dilanjut lagi kisahnya...


Bambang Priantono
191007
(bendera Johor diambil dekat rumah keluarga Pakdhe)

10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
occyosy wrote on Oct 19, '07
ditunggu kisahnya ...
bambangpriantono wrote on Oct 19, '07
Oke...sik akeh kok yos..
kienamn wrote on Oct 19, '07
iya.. kami tunggu nie...
bambangpriantono wrote on Oct 19, '07
kienamn said
iya.. kami tunggu nie...
Sabar ya kak...sisanya kalau sempat besok...kalau x sempat ya pas pulang ke tanah air..
babikecap wrote on Oct 19, '07
Tekan nggon blonjone kapan Cak? [ dasar kodew!! ]
bambangpriantono wrote on Oct 19, '07
Tekan nggon blonjone kapan Cak? [ dasar kodew!! ]
Sik mubeng...huehehehe (dasar wedokz!)
rhedjozt wrote on Oct 19, '07
ditunggu....apanya ya?
bambangpriantono wrote on Oct 20, '07
ditunggu....apanya ya?
Apa aja dech...;p
lllsemeleketelll wrote on Oct 30, '07
kabeh kok podo nunggu :-? pasti nunggu itu tuhhh ;))
bambangpriantono wrote on Oct 30, '07
kabeh kok podo nunggu :-? pasti nunggu itu tuhhh ;))
Sabar, sik akeh fotoe..tapi dicilikno sik resolusie
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help