Grogi? Iya, perasaan itu tadi muncul sebelum siaran on-air bedah buku One Gigabyte of Love di radio MAS FM. Saat berkendara dari kantor menuju studiopun lumayan banyak hambatannya. Dari jalur yang lumayan macet sampai menjelang perempatan Kaliurang, kira-kira makan waktu 3 menitan lah kalau dibilang. Sedangkan menjelang parkirpun harus pindah ke sekolah sebelah studio, karena sedang ada perbaikan menara pemancar yang ada di depan kantor persis.
Waktu masuk MAS FM, tidak ada seorangpun. Sendirian? Iya memang. Saya pergi sendirian saja, tapi itu bukan persoalan karena saya kemana-mana selalu sendiri. Seorang bapak kemudian bertanya kepada saya, "Ada yang bisa saya bantu?", saya cuma serahkan surat undangan kepadanya dan disuruh menunggu. "Tunggu sebentar ya Mas, saya panggilkan." Masuklah dia menuju ruang dalam. Dan kemudian bergerak ke ruang siaran, nah sejurus ada seorang penyiarnya yang menyapa saya dengan hangat dan menanyakan mau minum apa? Awalnya saya mau teh, tapi kemudian ganti dengan kopi tubruk, sembari menunggu penyiarnya datang.
Jam menunjukkan 10.45 ketika penyiarnya, Indra Dewi baru datang. Kami langsung berjabat tangan, dan katanya baru membaca sebagian buku tersebut. Sambil berlari kecil dia masuk kedalam dan baru muncul lagi sekitar 5 menit setelah secangkir kopi tubruk panas tersaji didepan saya. Setelah Indra Dewi muncul, kamipun sempat ngobrol-ngobrol tentang buku tersebut sekaligus komunitas MPers yang ada. Nah, saat jelang pukul 11.00 WIB, kami berdua masuk ke ruang siaran.
Rasanya seperti kembali pada masa lalu, waktu masih coba-coba jadi penyiar. Rasa grogi itu ada, apalagi harus menjadi narasumber suatu acara bedah buku. Musik mulai terlantunkan dan saya ditawari duduk dimana. "Mau duduk dimana Mas?" Disini?" (persis didepannya), atau disana? (sambil menunjuk ke sebuah meja yang terdiri dari beberapa microphone langsing)". Sayapun pilih duduk didepan saja. Apalagi ketika siaran dibuka, rasa grogi itu seketika cair.
Indra banyak bertanya tentang apa saja yang ada dalam buku ini, apa yang menjadi inspirasi sampai akhirnya terbentuk dalam buku, apa makna dari OGOL (One Gigabyte Of Love) itu serta juga ditanyakan tentang komunitas Multipliers sendiri. Rasa grogi itu cair seketika, tergantikan dengan rasa percaya diri. Sayapun berusaha menjawab sesuai dengan apa yang saya tahu. Termasuk bagian mana yang mengharukan, paling lucu dan ibaratnya perasaan dibuat macam naik roller coaster. Kebetulan juga saya bawa satu buku untuk penelepon yang terpilih. Termasuk tadi tulisan saya juga dibacakan oleh Indra....saya sendiri terasa lucu saja karena baru tahu isinya..hehehehe.
Ada dua telepon yang masuk, yakni dari seorang ibu (ibu Rini) dan bapak (bapak Tamzi). Pertanyaannya cukup menarik...Bu Rini menanyakan tentang segmentasi buku tersebut, apakah anak-anak, remaja atau dewasa. Serta sedikit tentang anaknya yang suka menulis tentang cinta. Sedangkan Bapak Tamzi bertanya tentang cara mendapatkan buku itu serta apa perbedaan buku ini dengan buku-buku lainnya yang sejenis.
Terus terang saja, kadang menjawab pertanyaan yang masuk tadi cukup menyita tenaga, karena banyak hal yang ingin dijelaskan. Termasuk segmentasi, ditoko buku mana serta bedanya dengan buku-buku yang sejenis. Berikut juga harganya. Pertanyaan juga seputar pekerjaan, harapan, asal mula mulai dari MP itu sendiri sampai MPers Malang juga yang saya ceritakan meski sekilas karena keterbatasan waktu.
Alhamdulillah, sekitar pukul 11.50 WIB, siaran on-air untuk One Gigabyte Of Love selesai juga. Terima kasih banyak untuk MAS FM yang telah menyiarkannya dan semoga buku ini dikenal banyak oleh masyarakat Malang pada khususnya. Oh iya, Bapak Tamzi beruntung mendapatkan satu buku gretong yang sudah saya siapkan.
Sayang memang rekan-rekan tidak hadir, saya hanya sendirian, bisa dimaklumi karena kegiatan masing-masing dan banyak urusan yang mungkin tidak bisa ditinggalkan. Tapi it's okay. Tanpa foto-fotoan (lagipula saya sendirian jadi maaf ya tidak pakai foto), tapi hati tetap gembira. Karena setidaknya pesan itu tersampaikan ke khalayak. Agar menulis dan menulis untuk saling mencerahkan (mengutip kata-kata Mbak Bunce/HTR)
Biar sendiri, tapi saya yakin doa rekan2 tetap mengalir dan ALHAMDULILLAH, LANCAR....Mudah-mudahan saja ini hanya langkah awal...bukan titik akhir.
Bambang Priantono
230208
(Ditulis setelah pulang siaran, tidak semua tertulis disini mengingat waktunya..heheh)