Menurut Fernandez (2007), bahasa Melayu sudah sampai ke kawasan timur Indonesia sebelum kedatangan Portugis. Migrasi Melayu secara bergelombang mulai terjadi pada abad ke-3 hingga ke-5, dan puncaknya terjadi pada abad ke-7, tepatnya masa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Setelah kedatangan Portugis pada abad ke-16 sampai abad ke-18 di kawasan timur Indonesia (KTI) bertemulah dua kekuatan bahasa yang berimbang, yakni antara bahasa Melayu dan bahasa Portugis yang kemudian melahirkan lingua franca yang kuat dan mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu di KTI itu sendiri.
Seiring dengan perdagangan dan penyebaran agama Katolik oleh Portugis, terbentuklah suasana komunikasi yang saling berdampingan. Bahasa Melayu dapat bersanding dengan bahasa Portugis dan inilah yang mengakibatkan bahasa Melayu disana mempunyai perbedaan dengan saudara-saudara Melayunya yang lain.
Melayu Indonesia Timur (menurut Adelaar dan Prentice, 1996) terlihat berbeda dengan bahasa Melayu di Kawasan Barat Indonesia (KBI), bahkan dengan bahasa Melayu di negara lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh persamaan sejarah yang dimiliki bahasa-bahasa Melayu disana. Fitur-fitur khas Melayu Indonesia Timur ini adalah sebagai berikut :
1. Konstruksi posesif (kepemilikan) yang terdiri atas pemilik (pronomina)+punya + obyek atau benda yang dimiliki.
Contoh :
Kita pe buku (Manado)
Beta pung buku (Ambon, Kupang)
Sa pu buku (Papua)
-
Pronomina jamak berasal dari pronomina tunggal + orang
Contoh :
Kita + orang = kita
Menjadi
Torang (Manado), katong (Ambon, Kupang), kitorang/kitong (Papua), kotong
(Kupang), katorang (Banda)
Dia + orang = mereka
Menjadi
Dorang yang selanjutnya disingkat menjadi dong
Sering juga nama orang ditambahkan dengan dong seperti
“Susi dong pung kaka” (biasanya terjadi di Ambon)
-
Retensi ter- dan ber-sebagai satu-satunya afiks Melayu asli yang produktif.
Ter menjadi ta contoh tersangkut menjadi tasangko
Terbuka menjadi tabuka
Ber menjadi ba, mirip dengan afiks pada bahasa Minang dan Banjar, tapi juga dalam bahasa Melayu lama
Contoh
Berkelahi dengan bakalae
Bertanya dengan batanya
Me menjadi ma…
Contoh
Menangis menjadi manangis
Menari menjadi manari
-
Ada sebagai pemarkah Melayu tentang eksistensi, disini menunjukkan keadaan progresif.
Contoh :
Andi ada tidur : Andi sedang tidur
Ali ada? Ada…..ada pi : Ali ada? Ada…sedang pergi
-
Bentuk-bentuk reduksi dari kata ganti penunjuk, ini dan itu mendahului kata benda dan berfungsi sebagai penentu.
-
Penggunaan dari reduksi bentuk pergi yang selain sebagai kata kerja, juga berfungsi sebagai preposisi yang berarti ‘menuju’
Contoh :
Pergi menjadi pi atau pigi
Pi ka Susi dong pung kaka
Pi makang : pergi makan
-
Konstruksi-konstruksi kausatif yang terdiri dari auksiliari kasi/beri atau bikin/buat ataupun dapa/kena/ter/di dan verba pusat.
Contoh :
Kasi tunjuk/ kastunju : memberi petunjuk
Kasi tau/ kastau : memberitahu
Bikin bae/ beking bae : memperbaiki
Bikin susa/ beking susa : menyusahkan/ buat susah
Dapa bunuh : dibunuh
Dapa pukul : terkena pukul
Diduga ciri-ciri yang diwariskan secara reguler tersebut merupakan ciri-ciri dari Melayu Klasik yang telah hilang.
Ciri-ciri lainnya antara lain :
-
Sufiks kan yang berakar dari akan, dan diduga berasal dari varian Melayu Kalimantan yang mengalami nasalisasi di dialek Manado dan Ambon menjadi akang (yang juga bermakna seperti ‘it’ dalam bahasa Inggris)
Contoh : Taru akang disitu : taruh benda itu disitu
Kita inga tatawa akang : saya pernah menertawakan
-
Penggunaan pronomina beta, yang hanya dipakai oleh raja di kawasan barat untuk makna saya, justru menjadi ungkapan sehari-hari dalam dialek Ambon dan Kupang. Sedang di Manado menggunakan kita, sedang Papua menyingkat saya menjadi sa.
-
Nasalisasi atau penyengauan kata kerja berakhiran –n menjadi -ng, dan berlaku dalam dialek Manado, Ambon, Ternate pada khususnya. Sedangkan akhiran n utuh berlaku pada dialek Kupang dan Papua.
Contoh
Bikin menjadi biking atau beking atau bekeng
Makan menjadi makang
Jalan menjadi jalang
Kasihan menjadi kasiang
Tuan menjadi tuang
Tapi dengan tidak menjadi dengang, melainkan deng
-
Untuk penyangatan, biasanya digunakan kata batul, skali, mati atau sampe
Contoh :
Nyong Ba gaga batul e! : Abang Ba gagah sekali! (Ambon)
Kita ada durian pe okii skali! : Saya punya durian yang ukurannya besar sekali. (Manado)
Tu nona cantik mati! : Gadis itu cantik sekali (Kupang)
Ko sombong sampe : Kamu sombong sekali (Papua)
-
Penggunaan baku untuk menyatakan saling…satu sama lain
Contoh :
Bakudapa : bertemu
Bakupolo : berpelukan
Bakusedu : bercanda, berkelakar
Bakubae : berdamai
Bakupukul : saling memukul
Bakuhantam : saling menghantam
Bakuveto : saling adu mulut
Dimana baku ini juga sudah masuk menjadi bagian integral dalam bahasa Indonesia.
-
Reduksi alias penyingkatan menjadi hal yang biasa dalam Melayu Indonesia Timur ini. Misalnya sudah menjadi su atau so (Manado), juga menjadi ju atau jo, dengan menjadi deng, jangan menjadi jang, saja menjadi sa, coba menjadi co dan banyak lagi.
Pengaruh Portugis, kemudian Belanda yang kuat memberikan warna dalam kosakata-kosakata Melayu Indonesia Timur, dan jumlah kosakata Portugis di Melayu Indonesia Timur lebih banyak daripada yang ditemukan di bahasa Melayu Kawasan Barat. Pengaruh serapan Portugis paling kuat dirasakan dalam bahasa Melayu Larantuka (Flores, NTT), sedangkan pada dialek Melayu Papua dan Manado, kosakata Portugis tidak sekuat pada Larantuka.
Bahkan Melayu Papua sendiri cenderung paling dekat dengan bahasa Indonesia baku dibandingkan dengan varian Melayu lainnya.
Kesamaan sejarah telah menyebabkan perkembangan bahasa Melayu di Indonesia Timur berbeda dengan di kawasan barat, termasuk diantaranya ciri linguistik yang tidak dimiliki oleh kawasan barat itu sendiri. Bentuk-bentuk klasik Melayu yang sudah hilang dalam bahasa Melayu kawasan barat masih dipertahankan di kawasan timur.
Sumber :
Adelaar, K. Alexander (1994); Collins, James T (2005); dan Fernandez, Inyo Yos (2006)
Melayuonline.com
Berbagai sumber
Bambang Priantono
150508