Festival Malang Kembali hari ini akan dibuka, moga-moga aja lebih baik dari tahun sebelumnya. Semalam saya sempat kebingungan mau cari pinjaman blangkon. Mana blangkon milik saya sudah dihadiahkan kepada sahabat tersayang, hingga akhirnya tidak punya sama sekali. Sebelnya, festivalnya kok diadakan pas tanggal tua ya? mana duit sudah kian menipis, dompet kian kritis....hehehehe...
Semalam saya bilang ke adik untuk pinjam kain jarit (batik)nya. Dia langsung bawakan dua helai sekaligus dengan corak berbeda tapi warna dasarnya sama yakni coklat. Saya cobain satu-satu, eh...alhamdulillah pas saja meski kurang panjang. Paling sebatas mata kaki, tak perlu diwiru lah, karena kalau diwiru justru tampak kependekan. Sedangkan saya ingin tampil ala pelajar tempo doeloe, namun beskap (baju jawa) tiada. Akhirnya terlintas ada satu jas yang belum pernah saya pakai. Warnanya abu-abu tua (mendekati hitam), dan belum dikeluarkan dari plastik, so ambil saja dan dicoba. Nah...ternyata setelah kerahnya (collar) dinaikkan dan dikancingkan menyamping, jadilah beskap darurat..hehehehee.
Blangkon
Bagaimana dengan blangkon? usut punya usut, diakibatkan tidak ada yang punya maka saya bingung mau pakai apa. Sempat kepikiran mau pakai kopiah saja, tapi kok malah katon wagu? Sembari melayani pelanggan toko, karena Papa Mama sedang keluar, saya mikir....eh! ketika mata saya tertumbuk pada kain batik punya adik, tiba-tiba saya berpikiran, gimana kalau ini saja yang dijadikan ikat kepala?
Ternyata....jalan!!! meski kelihatan kepanjangan, tapi 'blangkon' atau udheng atau ikat kepala darurat ini. Sedang untuk kain jaritnya saya ikat saja dengan sabuk (tali keledar) biar tidak lepas dan...jadi dach tampil ala tempo doeloe...
Ah, lega rasanya sudah ketemu jalan keluar. Soal alas kakinya, gampanglah bisa diatur...entah pakai theklek, atau sepatu atau sekalian aja nyeker alias telanjang kaki...lihat saja.
Namanya juga akal-akalan saat tanggal tua.
Bambang Priantono
220508