Indonesia, Dangerously Beautiful!!!!

Festival Malang Kembali 2008 ini adalah penyelenggaraan tahun ketiga sejak diadakan pada tahun 2006. Hanya untuk kali ini festival diadakan dengan lebih singkat dari tahun-tahun sebelumnya, dari semula 5 hari menjadi hanya 4 hari, mulai dari tanggal 22 sampai tanggal 25 Mei 2008. Slogan yang dipakai adalah ‘Sejuta Tradisi, Satu Aksi’ dimana berbagai atraksi kesenian dan segala macamnya tumpah ruah dalam festival yang berlangsung di sepanjang Jalan Ijen ini. Aneka lomba dan pertunjukan juga digelar, seperti lomba Kakang Mbakyu Cilik yang diselenggarakan hari Jumat tanggal 23 Mei pada pagi hari, lomba egrang, serta yang lebih penting adanya diorama.

 

Gembar-gembor itu juga kian diperkuat dengan munculnya spanduk-spanduk ejaan Ophuysen yang berjajar disepanjang jalan mendekati Jalan Ijen bahkan sampai jalan Jakarta (dekat kantor). Dan menurut berita yang saya dengar dari beberapa media, dikatakan Festival Malang Kembali untuk kali ini akan dibuat lebih tertib dengan melarang penjual jalanan untuk memasuki areal festival dan parkir yang lebih teratur serta peraturan lebih ketat dari biasanya.

 

Kesan penerapan aturan itu tercermin dengan sebuah baliho yang terpampang di Jalan DI Panjaitan, tergambar seorang laki-laki berbusana Jawa dan beberapa penari dengan latar belakang candi, slogannya adalah ‘Hargailah Boedaja Sendiri, Pakailah Boesana Tradisi’. Baliho besar itu sudah terpasang selama lebih dari dua minggu sebagai pengganti baliho bergambar Pak Peni (Walikota Malang). Kemudian juga beberapa diorama yang sebelumnya tidak ada kini diadakan, seperti diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah kota Malang dan sekitarnya mulai jaman Mataram Hindu sampai dengan penjajahan Belanda serta pertunjukan berbagai seni budaya, seperti festival Batik Malang yang diadakan Jumat pagi (sayang sekali tidak bisa dating karena masuk kerja), pertunjukan Ludruk, Keroncong, Ketoprak hingga Qasidah yang setiap hari temanya (katanya) berbeda.

 

Malahan ada diorama sawah berikut ternaknya (kerbau dan bebek) yang dipasang dekat dengan Museum Brawijaya

 

Tapi yang paling menarik lagi (seharusnya), adalah para pengunjung disarankan untuk memakai baju jaman dahulu. Baik baju petani atau baju-baju jaman perjuangan. Ini yang sebenarnya menjadi daya tarik bagi siapapun yang datang ke festival tahunan ini. Seharusnya dan seharusnya. Malahan dibeberapa sumber, ada pengamanan berlapis untuk memantau pemakaian busana tempo doeloe dan dibuka persewaan untuk baju tempo doeloe dan pernak-perniknya seharga 5000 sampai 15.000 perak didepan gerbang festival.

 

Inilah slogannya, tapi apa yang terjadi?

 

Mungkin ini pandangan saya, ada kegembiraan sekaligus kekecewaan yang terbersit dalam pikiran saya saat datang ke festival itu hari Jumat sorenya…

 

 

Bersambung, karena masih ada kelanjutannya

 

Bambang Priantono

240508


17 CommentsChronological   Reverse   Threaded
otto13 wrote on May 24
Yakin cuman seperti expo azah.....
bambangpriantono wrote on May 24
otto13 said
Yakin cuman seperti expo azah.....
Tunggu cerita selanjutnya
imboyzsuper wrote on May 24
pengen liat dulu ah ntar malem...tapi bau2nya agak mengecewakan Festival tahun ni...bener nggak om?
wirdayanti wrote on May 24
Foto2nya dong dek... :)
sandynata wrote on May 24
ndak lengkap kalo ndak ada potonya...
bambangpriantono wrote on May 24
pengen liat dulu ah ntar malem...tapi bau2nya agak mengecewakan Festival tahun ni...bener nggak om?
Rasakan aja sendiri ya...yang jelas ada yang mengecewakan bagi saya
bambangpriantono wrote on May 24
Foto2nya dong dek... :)
Sabar mbak..masih diedit
bambangpriantono wrote on May 24
ndak lengkap kalo ndak ada potonya...
Sabar sik tho....
sandynata wrote on May 24
gak iso sabar aku, isuk2 wes di telpon padahal jek asik turu.. :p
asianatelier wrote on May 24
jujur aja, penilaian saya pribadi mengenai FMK 2008 adalah SANGAT BURUK! FMK terdahulu masih lebih baik drpd FMK 2008 ini, tema "Kerajaan Singasari" amat sangat tdk terasa atmosfernya dlm FMK ini, banyak tenant2 yg menyalahi tema, sehingga menjadikan event ini spt Pasar Malam biasa, mungkin salah pilih tema, pdhl tema itu penting krn menjd jiwa dr event ini, lebih baik tetap memakai tema tempo doeloe era kolonial+era kemerdekaan...
nawhi wrote on May 24, edited on May 24
kalo menurut saya NGGAK SEMUANYA BURUK, dari segi stan2 yang ada sekarang ditata lebih beragam. antara penjual makanan dan kerajinan diselang-seling. (ini bukan mentang2 karena kerabat saya juga jualan di sana lho)
trus dari segi pengunjung, saya melihat sudah banyak yang ga malu2 lagi pake pakaian jadul. trus banyak aksi2 spontan yang cukup menghibur dari warga malang sendiri seperti: pantomim, anak2 rasta.
emang sih, ga sesuai tema tapi setidaknya warga malang sudah menunjukkan partsipasinya.
ardanti wrote on May 24
tlewati akhirnya acr ini. bun2 tlelap dng sukses di tugu. alma bobo,yah bundane bobo. 2 ponakan bobo pun jg. yah thn dpn smoga ada waktu. skrg dah@sby. kopdar gatot jg. waduh bubar
Comment deleted at the request of the author.
bambangpriantono wrote on May 24
sandynata : sengojo nggudo awakmu
bambangpriantono wrote on May 24
hadi : hehehehe, kepala orang isinya beda-beda, kepentingan dan tujuannya beda-beda
bambangpriantono wrote on May 24, edited on May 24
ihwan : ya memang sih aksi spontan sudah banyak dan bagus. Mungkin aku ini semi idealis, karena tidak sesuai dengan tema yang disodorkan jadi aku ya TETEP KECEWA...sori lho wan
bambangpriantono wrote on May 24
ardanti : kapan2 lagi aja...hehehehe
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help