Pembelajaran  | |
| Category: | Books | | Price: | Rp. 33.000,- / RM12-13/ Sing $ 5 (berubah2 sesuai dengan kurs nilai tukar) |
Penerbit : Lingkar Pena Publishing Harga : Rp. 33.000,- / RM12-13/ Sing $ 5 (berubah2 sesuai dengan kurs nilai tukar) Halaman : 290 halaman Tahun terbit : 2008
Buku ini merupakan kumpulan tulisan para blogger yang tergabung dalam multiply. Berisi 53 kisah yang berbeda-beda namun dengan benang merah yang sama, yakni cinta universal. Ini juga karya ramai-ramai blogger pertama yang dibukukan di Indonesia. Karena selama ini yang ada hanyalah blogger tunggal, maka inilah buku ramai-ramai pertama yang dibuat secara keroyokan. Dengan cover yang menggelitik karena berupa keyboard dan tetikus (mouse) dengan tanda cinta, maka cover ini sudah sangat mewakili komunitas mana yang menulisnya. Insyaallah selain memperkaya jiwa, membeli buku ini juga sekaligus ‘menyumbang’. Maksudnya adalah karena setiap buku yang anda beli akan menjadi salah satu wujud kepedulian pada kegiatan sosial Multiply Indonesia.
Ayo serbu bukunya ditoko2 buku terdekat Click a thumbnail to enlarge:
| Category: | Books | | Price: | Rp.5.000 plus tarif GPRS |
Apakah belajar bahasa asing itu bikin bete? bikin capek? Ah, masak sih?
Ingin tahu? penasaran? coba baca naskah yang satu ini di handphone kamu-kamu...
Caranya?
Yuk, ketik ZMB 6590003 kirim ke 6768.
Biaya Rp 5000,- plus tarif GPRS.
Catatan : pastikan GPRS dan MMS anda dalam keadaan aktif.
Penulis: Bambang Priantono Kategori: tips
Layanan ini merupakan kerjasama antara Penulis lepas dengan Zabit mobile book...
Buruan diintip, insyaallah banyak manfaatnya!!! :) Click a thumbnail to enlarge:
Kata ajep-ajep diperkirakan ada dua kemungkinan asalnya, yakni suara daging ditusuk yang sekilas terdengar seperti ‘jeb-jeb’, dan juga suara house music yang berdentam-dentam di diskotik yang sekilaspin terdengar seperti ‘jep-jep-jep’. Dari makna kedua ini muncullah istilah gaul ‘ajep-ajep’ yang artinya adalah dugem (dunia gemerlap) atawa clubbing sampai tepar (till you drop). Biasanya dugem sampai mabuk dengan tangan telunjuk didepan seperti nunjuk-nunjuk dan kepala digeleng-gelengkan mengikuti irama musik yang terdengar seperti ‘jep-jep’. Ejaannya bisa ajep-ajep atau ajeb-ajeb. Kata ‘ajep-ajep’ makin populer sejak penayangan Extravaganza di Transtv. Contoh kalimatnya adalah: Noli : Yuk, ke SE! Yuli : Ngapain sech? Noli : ya, ajep-ajep dong! Yuli : oke coy!
Oke, yuk ajep-ajep dulu….heheheheheheh
ABCDE ala Aming : Aduh Bo Cape Dech Euy… Xixixixixixi
(salah satu sumbernya : malesbanget.com)
Click a thumbnail to enlarge:
Bahasa Madura terkenal dengan sistem pelafalannya yang unik, sekaligus rumit khususnya bagi orang-orang bukan Madura. Banyak kosakata Madura yang serupa dengan Melayu maupun Jawa, namun dengan pelafalan yang khas itulah hingga orang luar susah memahaminya, terlebih saat temuwicara. Nah, coba kita sekarang bermain dengan kata kerja dasarnya dulu, yukk :
Ngoca’ / acaca = berbicara Atanya = bertanya Aberri = memberi Asalat = sembahyang Meyara = memelihara Adhenga’ = mendengar Maenga’ = mengingat (dari kata enga’) Kasokan = menyukai (untuk lawan bicara) Terro = menyukai, mencintai (untuk diri sendiri) Menta’ / nyo’on = meminta Mollèh = pulang Alakoh = bekerja Ngangguy = memakai Nabbu = menabuh Nope = meniup Entar = pergi Ajalan (baca ajhelen) = berjalan Len-jhelen = berjalan-jalan Aghelle’ = tertawa Nenggu = menyaksikan, menonton Aromat = merawat Ngakan (kasar)/ adha’ar (halus)/ nedheh (halus) = makan Ngenom = minum Tedhung = tidur Melleh = membeli Ajuwal = menjual Ataber = menawar Soh-lesoh = beristirahat, bersandar Noles = menulis Maca = membaca Nyare = mencari Ngaonengagi = mengetahui Narema = menerima Neppo = menipu Alorok = ngluruk, menuju Ngadebhi = menghadapi Mele = memilih Nanges = menangis Atemmo = bertemu Dhu-mabudhu = berlagak bodoh O- matao = berlagak pintar/ sok tahu Asowara = bersuara Ngalakone = melakukan Ngarte = mengerti Atellor = bertelur Ngeremme = mengeram Aleburan = menyenangi Arobuwi = merubuhkan Abillai = membela Abidaagi = membedakan Nonggu, atonggu = menunggu
Segini dulu ya...entar lemes..hehehehehehe
Karena Multiply ini kekurangan kolom, maka akhirnya harus ditempatkan disini. Sebenarnya bahasa Madura sayapun nggak bagus-bagus banget, malah masih kurang kosakatanya….hehehehe. Tetapi secara ada yang ‘mendorong-dorong’ saya sampai jatuh (eh..salah), maka akhirnya saya coba untuk membagi apa yang saya bisa. Bahasa Madura masihlah serumpun dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya, namun pelafalan bahasa Madura sangatlah unik sehingga seringkali menyulitkan bagi suku bukan Madura untuk mempelajarinya. Yah, setidaknya yang dasar-dasar dulu ya….toreh…
Dhe’ remma kabereh? (huruf ‘e’ dibaca seperti kata telan, sedangkan ‘b’ terbaca seperti bh) = apa kabar.. Beremma kabereh? = apa kabar? (dialek Sumenep) Bheres = sehat Ta’ tao / ta’ oneng = tidak tahu Atore/ tore = silahkan Glenon = permisi Pora = permisi (jika melintas) Iye (kasar), engghi (halus) = iya Je’ (kasar), bunten (halus) = tidak Ghi ta’ / ghi bellon = belum Dhimma? = dimana? Kamma? = kemana? Arapa ? / Ponapa? (halus) = kenapa? Dhe’ remma/ Beremma? = bagaimana? Apa ? / napa? (halus)= apa? Sémma? = yang mana? Sapa?/ Paséra? (Halus) = siapa? Bhille? = kapan? Berempa’? / Saponapa? (halus) = berapa? Bedhe = ada Mattor sakalangkong = terima kasih Dhe’-padhe’ = sama-sama Nyo’on sapora = minta maaf Gu’ –lagghu’ = besok Kene’ = kecil Rajeh = besar Tengghi = tinggi Naek, ongge = naik Toron = turun Ta’ andhi pesseh = nggak punya uang Ongghu = sungguh Raddin = cantik Bhegghus = bagus Sengko’ (biasa)/ Bhule (menengah)/ bedhen kaule (halus) = saya Be’en/Be’na(Sumenep)/Hedheh(Bangkalan)/Kakèh(Sampang)/Kao(Kangean)/sampeyan(menengah)/ panjenengngan (halus) = anda Berempa’ arghena paona? (biasa) = berapa harga mangganya? Saponapa argheneppon paona? (halus) = berapa harga mangganya? Étaber ghi = ditawar ya? Sengko’ terro ka be’en = aku cinta padamu
Angka-angka
Settong = Satu Dhuwwe’ = Dua Tello’ = Tiga Ampa’ = Empat Lemma’ = Lima Enem = Enam Petoh = Tujuh Bhellu’ = Delapan Sanga’ = Sembilan Sapoloh = Sepuluh Sebheles = sebelas Dhu’bheles = duabelas Dhupolo = duapuluh Selekkor = duapuluh satu Dhuwelekkor = duapuluh dua Tello’lekkor = duapuluh tiga Ampa’lekkor = duapuluh empat Seghemmi’ = duapuluh lima
Samangken ghi (nanti lagi ya)
Gebyah kurang lebih artinya ‘meratakan’ sedangkan uyah adalah ‘garam’. Secara utuh, ungkapan gebyah uyah ini berarti menyamaratakan sesuatu. Kalau dalam istilah lengkapnya “Ojo nggebyah uyah” dan padanan bahasa Inggrisnya “Never judge the book from its cover.” Jangan melihat seseorang dari penampilannya, dan jangan menyamaratakan sesuatu. Misalnya, jika bule kelakuannya ‘rusak’, jangan digeneralisasi kalau semua bule itu bejad, karena sangat banyak bule yang baik dan bermoral tinggi. Itu contohnya.
BAMBUNG –bukan BAMBANG artinya adalah orang-orang yang melakukan tindakan menggelandang, tinggal dan hidup dijalanan tanpa tempat tinggal tetap. Biasanya mereka sering menjadi sasaran razia ketertiban kota.
BAMBUNG = gelandangan MBAMBUNG = menggelandang
Contoh :
Poro bambung podho ditangkepi pulisi = para gelandangan ditangkapi polisi.
Click a thumbnail to enlarge:
TANDHAK artinya Tarian BEDHES artinya Monyet
BEDHES adalah kosakata Jawa Timuran untuk Monyet. TANDHAK BEDHES adalah pertunjukan rakyat keliling dengan menggunakan monyet sebagai pemain utamanya. Monyet tersebut biasanya melakukan aksi-aksi lucu seperti membawa gerobak, pergi ke pasar, naik sepeda motor, memakai topeng dan sebagainya. Kadang giginya sudah dicabut agar tidak menggigit pemilik maupun penonton. Lucu memang, namun menyiksa sekali bagi monyet bersangkutan..
Di Jawa Tengah/Jawa Timur Bagian Barat dikenal dengan nama LEDHEK KETHEK, sedang di Jakarta disebut TOPENG MONYET Click a thumbnail to enlarge:
Salah satu kosakata khas yang ada di Jawa Timur (belahan timur) adalah EMBONG. Embong ini artinya adalah jalan. Dimana dalam bahasa Jawa Baku artinya adalah DHALAN atau RATAN (kata DHALAN inipun juga dipakai oleh masyarakat Jawa Timuran/bagian Timur). Contoh pemakaiannya adalah : EMBONG SAWO (Jalan Sawo) EMBONG KENONGO (Jalan Kenanga) EMBONG ARAB (Jalan Arab)...di Malang EMBONG BRANTAS (Jalan Brantas) EMBONG MALANG (Jalan Malang)
Namun sering masih ditambah dengan Jalan, sehingga tertulis begini JALAN EMBONG SAWO (Jalan jalan sawo)...hehehehehe
Dalam kalimat contohnya begini :
"Ojok dhulinan nang embong, engko ditabrak prahoto" (jangan mainan di jalan, nanti ditabrak truk)... Click a thumbnail to enlarge:
BRONPIT berasal dari kata BROOMFIETS yang artinya Sepeda Motor. Kata ini mulai dihidupkan kembali dalam siaran berita Suroboyoan, POJOK KAMPUNG. Di daerah Malang, kata ADAPES ROTOM sangat akrab, karena merupakan kebalikan dari SEPEDA MOTOR.
Sedang MONTOR MULUK (baca montor molo’) artinya adalah Pesawat Terbang dimana di Jawa Tengah disebut MONTOR MABUR.
MONTOR KLONÈNG artinya mobil pemadam kebakaran (kereta bomba kalau Malaysia bilang). Kenapa dibilang KLONÈNG? Karena menggunakan suara sirene yang meraung-raung saat mendekati daerah kebakaran.
Click a thumbnail to enlarge:
Dalam bahasa Jawa baku, dikenal kata SIRAH dan ENDHAS. SIRAH berarti kepala, dengan artian kepala manusia. Sedangkan ENDHAS dipakai untuk kepala binatang.
Akan tetapi dalam konteks Jawa Timuran (terutama Surabaya bagian utara yang terpengaruh pesisiran, Malang Utara dan sekitarnya), kata ENDHAS dipakai untuk semua jenis kepala. Baik manusia maupun binatang, yang bagi masyarakat Jawa Tengah dianggap kasar. Namun memang demikian perbedaan ragamnya.
Contoh kalimat :
Endhasmu opo’o Min? kok nganthe’ getihen koyok ngono? (Kepalamu kenapa Min? kok sampai berdarah begitu?) Aku gak doyan ambek endhase pithik (aku tidak suka kepala ayam).
Catatan : tidak semuanya bisa dibegitukan...dan dipakai untuk lawan bicara yang sebaya saja..bukan untuk orang yang lebih tua atau dituakan.
Click a thumbnail to enlarge:
LADHING (baca : laDéng) berarti pisau, yaitu pisau secara umum. Contoh kalimatnya antara lain :
“Gowoen ladhinge nang Mak Bongky, dhe’e kate motong nyambik.” (Bawakan pisau ini ke Mak Bongky, dia mau memotong biawak). “Ati-ati, ladhinge landep. Ojok get-get nek motong.” (Hati-hati, pisaunya tajam. Jangan kencang-kencang kalau memotong).
Kata PISO (baca : péso) juga dipakai, tapi tidak sesering pemakaian kata LADHING. Sedangkan untuk kata GOLOK, sering dipakai kata BUDHING (baca : boDéng), ukurannya besar dan sering dipakai memotong benda-benda besar atau keras.
Click a thumbnail to enlarge:
Dialek Jawa Timuran mempunyai beberapa kata tanya yang khas. Agak berbeda dengan dialek-dialek Jawa lainnya. Contoh kata tanyanya antara lain :
YOK OPO? = kependekan dari KOYOK OPO?" yang maknanya "Bagaimana?" OPO'O ? = Kenapa?
Contoh kalimat : "Yok opo kabare, rek?" = Bagaimana kabarmu, teman?" "Lha yok opo maneh." = Mau gimana lagi "Opo'o endhasmu?" = kenapa dengan kepalamu? "Jukukno po'o" = ambilin kenapa sih...
Ini sebagian saja contohnya...selamat mempelajari
Bahasa Jawa dialek Jawa Timuran mempunyai persamaan dengan Jawa Baku sekitar 60 persen, dituturkan di kawasan timur Jawa Timur dari tepi timur Kertosono sampai Banyuwangi (lebih sedikit), orang Madurapun sebagian terutama yang tinggal di kawasan tersebut bisa berbahasa Jawa Timuran...Nah ini dia saya berikan tentang 3 kosakata Jawa Timuran...
KOEN = Kamu...dipakai untuk teman sejawat, seusia atau kepada yang lebih muda atau rendah status sosialnya.
PENO = berarti sama dengan KAMU atau ANDA. kata ini merupakan hasil pengaruh bahasa Madura, dari kata "BE'NA". Kosakata ini dialamatkan dalam bentuk lebih sopan.
SAMPEYAN = di dalam Konteks Jawa Timuran, kata SAMPEYAN merupakan bentuk penghormatan terhadap seseorang. Berbeda dengan konteks Jawa Tengahan yang cenderung menggunakannya untuk merendahkan.
Demikian dulu 3 kosakata Jawa Timuran hari ini.... Selamat belajar dan berpuasa....
Sugeng enjang, nedho nrimo
Nyai atau Nyi adalah panggilan untuk kaum perempuan terutama di tanah Jawa, terutama sekali yang berilmu atau yang lebih tua. Namun kini citarasa makna Nyai mulai berubah, cenderung mengarah pada ulama wanita atau ustazah. Selama bulan Ramadan ini, salah satu televisi lokal terbesar di Jawa Timur yakni JTV menayangkan sebuah acara keagamaan yang penonton distudionya hampir semua adalah ibu-ibu, dan memang dibuat demikian, karena pembawa acaranya juga adalah seorang wanita. Yang agak berbeda mungkin adalah ustazah pembawa acaranya berasal dari etnis Cina (selain Irene Handono), dan mempertahankan nama Cinanya yakni Tan Mei Hwa. Acaranya juga disebut dengan Bu Nyai- Tan Mei Hwa, dimana inti acaranya adalah seputar puasa Ramadan serta kajian keagamaan yang disampaikan dengan cara khas Jawa Timuran, blak-blakan, interaktif. Pembawa acaranya juga ceplas-ceplos tanpa basa-basi, mirip dengan ulama-ulama setempat. Celetukannya juga cukup kena sehingga mudah dicerna oleh penonton distudio, dan insyaallah pemirsa dirumah. Bu Nyai- Tan Mei Hwa ini ditayangkan setiap hari selama bulan Ramadan pada pukul 4.00 WIB.
JAMUR ING MANGSA KETIGA jika dibedah arti harafiahnya adalah JAMUR = ya jamur, kalau Malaysia kata cendawan ING = di MANGSA = dalam bahasa jawa artinya musim KETIGA = kemarau
Artinya diharafiah adalah Jamur di musim kemarau, yang memaknai terjadinya sesuatu yang mustahil... atawa Apa yang selama ini dianggap mustahil dilakukan, ternyata kini bisa...dan jamur hanya tumbuh saat musim penghujan, jadi itu maksudnya
Uyah = garam Kecemplung = tercebur Segara = laut
Jika dibahasa Indonesiakan berarti : garam tercebur kelaut. Maksudnya disini percuma menggarami air yang dari sononya sudah asin, namun yang lebih dalam adalah "Memberi kepada orang yang sudah kaya" dengan kata lain "melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak berguna sama sekali" ibarat menggarami air laut yang sudah asin..
Padanannya adalah NGUYAHI BANYU SEGARA
Ungkapan ini jika dipilah satu-satu artinya begini :
SENDHAKEP atau SEDHAKEP artinya bersedekap NGAWE-NGAWE artinya melambai-lambaikan tangan.
Secara harfiah SENDHAKEP NGAWE-NGAWE adalah bersedekap namun melambai-lambaikan tangan. Dan jika dikaji lebih mendalam, maka maknanya ada kemiripan dengan MALU-MALU KUCING, yakni malu-malu tapi mau, atau sebenarnya butuh namun berlagak tidak butuh. Kurang lebih begitu, mungkin ada makna lainnya?
Baca Becik Ketitik, Olo Ketoro… Peribahasa ini jika dipilah artinya adalah, yang baik akan muncul ke permukaan, sedangkan yang buruk akan kelihatan. Jadi ibaratnya, jika suatu kebenaran ditutup-tutupi maka lambat laun ia akan muncul juga, dan sepandai-pandainya menyimpan bangkai busuk, maka lama-lama baunya akan tercium juga.
Tunggu saja, peribahasa ini akan segera terbukti
Disini "NGRUSAK PAGER AYU" kalau dibahasa Indonesiakan adalah MERUSAK PAGAR AYU....dimana peribahasa tersebut mengacu pada tindakan seseorang yang mengambil istri orang lain alias merebut istri orang alias selingkuh terang-terangan...
PAGAR AYU sendiri sebenarnya adalah para pengiring pengantin
Jadi, jangan Ngrusak Pager Ayu yaa.....
| |