Bambang's posts with tag: cerita
Alhamdulillah, kini kamera Canon A 590 itu sudah seminggu lebih ada ditangan saya. Ada kira-kira 200 gambar yang berhasil saya ambil, di berbagai kesempatan. Baik foto keluarga, di kampus, ataupun di tempat2 menarik sekitar rumah maupun kota, dan kalau ada waktu mau jalan-jalan ke kota lain juga.
Hal yang paling saya senangi adalah memotret dari sudut, bukan frontal. Entah sudut kiri, kanan atau bawah...terlebih saat memotret rumah ibadah, malah kesan agung itu sangat terasa kalau dipotret dari bawah, sampai miring-miring waktu ngejepretnya. Malahan kemana-mana sekarang saya selalu bawa kamera itu, supaya kalau ada momen oke, bisa langsung kejepret...
Mungkin kesannya gila ya, apalagi masih barang baru. Tapi, insyaallah nggak...saya sudah suka dengan fotografi meski masih baru belajaran, dan foto-foto yang nangkring di MP inipun hanya saya ubah ukurannya, sisanya? nggak sama sekali. Canon A 590 ini ternyata betul-betul bagus, paling nggak buat saya sendiri, dan akan dijaga sebaik-baiknya...sampai nanti bisa ngumpul duit untuk beli yang lebih bagusan..
Insyaallah sering-sering memotret, agar bisa menggoda kawan-kawan dengan obyek2 sekitar..hehehe (apalagi yang candid..asyik banget) dan beli banyak baterai agar gak kehabisan hehehehe....
Bambang Priantono 040708
|  | Ini sebagian kecil dari sekian jepretan tentang kampanye pilkada (pemilihan kepala daerah) disini...maklum dua kali jadi bingung jepret mana dulu. Ya sutralah..yang penting ini lho
Ada poster himbauan agar gak golput (saya gak golput nanti), kampanye damai juga dan agar mengena disampaikan dalam bahasa Jawa dialek Malangan...itu sedikit dari saya. Semoga Malang senantiasa aman tentram |
Batik buat kondangan? Biasa! Batik buat nutup jenazah? Biasa! Batik buat acara tradisi? Biasa juga! Sejatinya tulisan sejenis sudah banyak, hanya saja saya masih tertarik sekali untuk membahasnya kembali. Setiap hari Jumat, para pegawai negeri (kaki tangan negara) diwajibkan untuk memakai batik (bukan pilihan) baik yang berkecimpung dilembaga pemerintahan maupun lembaga pendidikan (baik negeri maupun sebagian swasta). Bahkan anak sekolah terutama dulu, dihari tertentu juga pakai seragam batik. Tapi ya itu tadi, batik masih dipandang sebelah mata karena mengesankan tua, old fashioned alias jadul. Dalam kurun beberapa waktu terakhir, kaum wanita seperti kembali tergila-gila dengan batik, dimana-mana kini mulai banyak ditemui orang-orang berbaju batik dalam berbagai model, entah baju lengan panjang, lengan pendek, sampai dalam bentuk baby dolls dan jilbab, kendati sebenarnya sejak beberapa tahun lalu batik juga menjadi bagian fesyen remaja dalam bentuk celana atau rok, belum menyeluruh. Di kampus-kampus, mall, dan tempat-tempat umum lainnya, tidak pula memandang asal usul penggunanya karena sebenarnya batik bisa dipakai oleh siapa saja. Biasanya batik yang digunakan adalah batik cap, bukan batik tulis, sehingga harganyapun jatuh lebih murah. Satu baby doll dibeberapa tempat bisa didapat hanya dengan Rp 50.000 sampai 69.000 tergantung kualitasnya, bahkan di pasar-pasar tradisional bisa didapat dengan harga lebih miring. Jika yang dipakai sebagai bahan baju batik tulis, pastinya harga akan melambung. Mungkin karena harga murah itulah akhirnya berbondong-bondong kaum remaja putri dan wanita membeli batik hingga penggunanya dapat dijumpai dengan mudah. Biasanya dipadu padankan dengan celana kain atau jeans, sedang yang memakai kerudung dipadu dengan baju kaos lengan panjang hitam dan celana senada/ jeans. Artinya, bisa dech batik jadi baju hang out yang oke. Teman saya yang doyan dugem pernah cerita kalau bule-bule yang dugem disebuah kafe diwilayah Malang banyak yang pake batik saat ajeb-ajeb..
Pendeknya sekarang pemasyarakatan batik sudah kembali menemukan jalurnya, dan tinggal waktu yang berbicara apakah trend ini akan berkesinambungan atau tidak? Harapan saya pribadi, semoga terus berlanjut dan jadi ciri bagi masyarakat dunia kalau Indonesia juga punya coraknya sendiri meskipun terkena arus global. Long Live Batik Indonesia
Bambang Priantono 030608 (foto adalah hasil jepretan diam2 dikawasan Matos)
Agak lama gak nulis di jurnal, bikin tangan gatel...biarpun sepi juga harus dilakoni...
Beberapa hari terakhir ini hujan abu terus turun....ini keliatan terlebih malam hari. Saya pulang dari main internet sekitar jam 8 malam dan saat perjalanan pulang ke rumah, biasanya helm saya buka teropongnya karena kalau malam hari jalan depan malah gak kelihatan. Walhasil karena hujan abu itu, mata saya kelilipan parah dan rasanya abu sebagian masuk ke pernapasan, sampai-sampai saya harus tutup kembali teropong helm agar tidak kemasukan abu.
Dan yang bikin bete pastinya sepeda motor selalu kotor. Padahal sudah dibersihin, eh gara-gara abu malah kena lagi. Sampai harus mengibas-ngibaskan tangan ke jok sepeda agar bisa diduduki dalam keadaan bersih. Aduh, jadi ingat hujan abu parah 14 tahun lalu neh...atap-atap jadi kayak kena salju.
Yah, sudah musim kemarau kena hujan abu limpahan dari Gunung Semeru...apalagi gunung satu itu sedang aktif-aktifnya mengeluarkan asap, dan daerah dibawahnya pastilah kena. Hehehehe....diterima saja, karena memang sudah jadi ketetapan-Nya..
Bambang Priantono 020708 (foto jok yang kena abu)
Hari ini sebenarnya saya mau ke dua tempat, yakni BNI dan Danamon. Ke BNI tujuannya ya untuk nabung duit gajian, meski di saldonya masih banyak..xixixixixixi...tapi kan perlu ngirit biar gak pontang panting pas tanggal tua entar. Sedangkan ke Danamon untuk menutup kartu kredit yang sudah saya pakai selama 2 tahun terakhir.
Sekitar jam 11.45 saya meluncur ke jalan, rencananya ke BNI didekat kantor aja, tapi ....eh katanya ada gangguan sistem dari pusat. Merapat lagilah saya ke BNI cabang utama di Jalan Basuki Rahmat, hasilnya juga idem ditto....gangguan jaringan sejak pukul 10.30 dan entah sampai jam berapa bisa dipakai lagi. Ya sudahlah, akhirnya saya putuskan meluncur ke Bank Danamon yang masih tetanggaan dengan MOG (Malang Olympic Garden) dikawasan Jalan Kawi.
Di Bank yang sedang ramai itu, saya dikasih nomor antrian ke CSO alias pelayanan pelanggannya. Menunggu-menunggu dan menunggu, dapat nomor antrian 536. Akhirnya setelah nomor antrian saya dipanggil, saya langsung duduk didepan CSOnya dan mengutarakan langsung untuk menutup kartu kredit saya. Oleh si Mbak CSO kartu saya dipinjam sebentar setelah mengetahui struk pembayaran saya sebelumnya, dan dia masuk kedalam untuk klarifikasi data di Card Center Jakarta. Sekitar 10 menitan saya menunggu dengan H2C alias Harap-harap cemas. Semoga saja keturutan..
Nah, pucuk dicinta ulam tiba, si Mbak CSO tadi memberitahu kalau sisa tagihan saya masih ada 30 ribu, so karena memang niatnya mau menutup, ya sudah saya relakan saja duit 30 ribu + 15 ribu (untuk administrasi) itu untuk menutupnya. KTP sayapun diminta dan mengisi formulir pengunduran diri dari keanggotaan kartu kredit tersebut. Setelah selesai, akhirnya kartu saya digunting dan saya diminta menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran. Enak-enak nunggu di kasir itu saya ditelepon Papa untuk membayar tagihan telepon..hehehehe...sabar dong ah...
Alhamdulillah lega juga akhirnya, setelah bukti pengunduran diri itu saya terima, saya senang setengah mati. Setidaknya satu kartu sudah putus, sedangkan yang satunya saya biarkan dulu untuk sementara sampai ada rejeki lagi untuk menutupnya. Merdeka dah pokoknya!!!!
Bambang Priantono 300608
Akhirnya, setelah diidam-idamkan sekian lama, kesampaian juga beli kamera digital. Nggak tahu kenapa kok saya suka banget asal milih...kayak merem-merem dulu, dan asal tunjuk. Eh, ketemunya malah Canon A 590 yang lumayan bagus buat saya....spec-nya juga oke, dan tentunya sesuai dengan anggaran yang cekak...maklum standar gaji disini kan lain dengan yang di Jakarta sono..hehehehehe
Total jenderal harganya sih 1,88 jutaan, warnanya saya suka banget. Hitam dan anggun, tongkrongannya juga mirip dengan kamera gede, jadi kalau bawa dia kemana-mana jadi pede....gak mau kalah dengan fotografer yang sudah jadi. Tapi Mbak pramuniaganya pasti sebel dengan saya, karena kebanyakan nanya saat ambil barangnya. Sorry ya mbak, soalnya saya kan rada gaptek soal perkameraan...hehehehe
Akhirnya sudah gak perlu lagi minjem2 kamera adik. Cukup bawa kamera sendiri, tapi....kuatirnya pasti obyek peminjaman akan beralih ke saya, soalnya spec-nya lebih lumayan ketimbang OLYMPUS punya adik saya...Alhamdulillah..
Kebeli juga kamera itu
Bambang Priantono 270608
Masih ingat nggak dengan Afiq? keponakan saya yang tinggal serumah itu? Moga-moga aja masih ingat ya...hehehehe.. Nggak berasa umurnya sudah masuk 2 tahun 3 bulan, dan dikarenakan tinggal satu rumah (apalagi adik saya gak dibolehkan pindah dari rumah besar tempat kami bernaung), maka perkembangan Afiq sehari-haripun sering saya catat. Untuk anak seusianya, Afiq termasuk agak lambat dalam berbicara, tapi soal bergerak dan agresivitas? jangan ditanya....sedari pagi sudah aktif banget...hehehehe... Konon kata Mama, dia mirip banget dengan saya waktu masih batita (bawah tiga tahun) Tapi ada hal yang suka saya catat, yakni penguasaan kosakatanya sehari-hari. Berikut ini kata-kata yang diucapkannya sehari-hari...
Ayah Sejak umur 1 tahun 11 bulan dia sudah menguasai kata-kata ini. Awalnya semua hal dipanggil ayah. Tapi sekarang sudah bisa mengarahkan ke ayahnya sendiri, meski kadang salah...
Kuku Maksudnya adalah kupu-kupu. Kalau melihat hewan itu, dia selalu menunjuk dengan menyebut kata kuku-kuku tadi berulang-ulang.
Itu Kalau Afiq mau sesuatu benda entah dirumah, di toko atau dimanapun dia selalu menunjuk dengan berucap 'itu-itu-itu'. Kalau gak dituruti, dijamin dia bakal mengeluarkan jurus jeritannya..
Eh, jatuh Waktu saya kesandung mainannya, saya agak kaget. Secara Afiq langsung berkata 'eh...jatuh' lantas tertawa sendiri.. dan hampir setiap ada benda jatuh, dia selalu berkata demikian.
Adek Dia sering nunjuk-nunjuk gambar atau foto bayi dengan sebutan adek...
A, B, C, D, E.... Bisanya sampai F, karena sering nonton acara mengeja di video, maka dia lama-lama bisa. Tapi sering gak pada tempatnya...hehehehe
Ngeng-ngeng Artinya mobil. Afiq dan anak seusianya barangkali sering mengidentifikasikannya demikian.
Maem Ini kata paling awal yang dikuasainya.
Mungkin itu sebagian kosakata yang dikuasainya...moga aja terus bertambah seiring usia...dan gak ada ruginya juga ngikutin perkembangannya, karena bisa lebih gape dalam menangani anak. Amien 
Bambang Priantono 260608
Selama ini aku selalu minjem kamera digital adikku kalau ada acara apa-apa. Aslinya sih dia gak masalah, apalagi jarang-jarang dia make kameranya, so, seringnya aku sendiri yang make..kadang seminggu, kadang bisa sampai sebulan lebih menggunakannya. Sampai-sampai kadang gak enak sendiri dengan suaminya... Biarpun diem, tapi yakin dah nggerundel kadang kala.
Ortupun sudah nganjurin kalo daku mending beli sendiri. Tapi secara waktu itu duitnya dipake buat cicilan laptop, ya sudah sementara keinginan itu ditunda dulu. Alhamdulillah, ada dana dikit bulan ini, jadi cicilan yang tinggal 3 bulan ini akhirnya dapat aku tutup dengan sukses....merdeka!!!!!
Dan sekarang dah kepikiran mau beli kamera sendiri. Biar gak usah nggerecokin punya adikku dan bisa potret sana sini dengan leluasa serta aman sentosa. Bagiku sih, kamera digital lebih penting daripada HP. Toh, biar HP sudah jadul, masih bisa dipake buat komunikasi dan SMS....iya toh?? Malahan udah nanya kiri kanan soal spec kamera yang oke dan harganya sesuai dengan kocek. Nanti habis kerja aku mau meluncur ke tempat yang dimaksud, alias tempat jualan kameranya...kali aja dapet yang murmer..
Doain dah moga2 cepet dapet kamera yang dimauin....Amin
Bambang Priantono 250608
Menurut buku petunjuk bahasa Jawa yang saya beli di kereta api dengan harga 1000 rupiah (hehehehe), monyet...iya, makhluk yang katanya saudaraan dengan kita itu (kata si Darwin) dan sebagian jenis punya potongan rambut mirip dengan gaya manusia masa kini itu diberi nama macam-macam tergantung dialek bahasa Jawanya sendiri..
Nah, kata bahasa Jawa Baku, monyet itu disebut sebagai kethek ('e' awal dibaca pepet, dan 'e' terakhir dibaca kaya pengkolan), sedangkan anaknya diberi nama yang beda, yakni munyuk atau didaerah tertentu disebut kowe...
Sedangkan di dialek Jawa Timuran, monyet dipanggillah dengan sebutan bedhes...jadi ingat neh dengan iklan jaman dulu dimana boneka Suzan bernyanyi Si kuman, kuman kayak bedhes....
Nah, jadi untuk nama salah satu kesenian rakyat yang disebut topeng monyet, bahasa Jawa punya sebutan yang berbeda untuk setiap wilayahnya....apa saja?
Jawa Baku (tmk Jatim bagian barat) : Ledhek Kethek Jawa Timuran : Tandhak Bedhes
Kata ledhek dan tandhak kurang lebih artinya menari.
Tetapi khusus Banyuwangi (dialek Osing), monyet disebutlah dengan nama bojog yang sama dengan istilah bahasa Bali untuk makhluk mirip manusia ini... (kalau logat Banyumasan apa ya?)
Oke, mau pilih mana? kethek, bedhes apa bojog? toh sama saja..hehehehee
Bambang Priantono 240608 (gambar disedot dari google)
Who cares??? Hari ini benar-benar 'single fighter'. Dua rekan saya pada sibuk semua...satunya yang koordinator OJT sedang sibuk mengurus anak-anak SQ Team BCA dan memberi bimbingan, sampai-sampai saya gak mau ganggu. Sedangkan rekan satunya sibuk mempersiapkan fashion show untuk tanggal 2-3 Juli nanti.
Yah, saya sendiri yang harus menangani urusan magang ini...paling nggak untuk hari ini. Mulai masuk ke kelas-kelas gelombang tiga yang belum mengurus atau melapor kalau sudah diterima, mikirkan solusi buat yang masih mengambang. Menelepon beberapa perusahaan yang bisa dilobby, kemudian soal mengurus upacara penglepasan OJT gelombang 3 yang diadakan hari Sabtu nanti.
Belum juga mengajar anak-anak SQ Team yang ketinggalan kuliah bahasa Inggris, menguji anak kelas yang belum ujian dan cuap-cuap kasih motivasi dan nasihat segala macem...fuiiihh...capek juga. Tapi tetap harus dijalani sedemikian rupa...
O ya...pulang nantipun harus buka toko, soalnya Papa Mama antar eyang kakung ke Tuban...aaaahhh...lengkap sudaaahhhh....
Who cares lah.... Toh meski kadang saya 'mengganggu' teman saya yang menjadi koordinator OJT ini, tapi sekalian belajar memutusi suatu persoalan sendirian.....who cares...yang penting jalan. Ngeblog itu pelampiasan juga mumpung lagi kenceng lajunya. Jadi sekalian jadi tumpahan diri, biarpun gak banyak yang baca....Who cares...
Capek, tapi oke lah....itung2 pengurusan badan
Bambang Priantono 240608
Pilkada Jawa Tengah masih dalam proses perhitungan suara. Pasangan Bibit dan Rustriningsih masih terus memimpin dengan persentase yang tinggi. Tapi, disisi lain jumlah penduduk Jawa Tengah yang Golput alias golongan putih atau tidak mencoblos justru mencapai 45,25%!, mengungguli persentase para calon gubernur..hehehee. jumlah tersebut sudah diatas rata-rata golput Indonesia yang mencapai 30-35%.
Yah, kalau dilihat-lihat sih...jumlah golputnya kian banyak saja. Menurut Panwaslu sendiri, sebab musababnya sangat banyak. Bukan hanya karena masalah enggan memilih tapi juga akibat pendataan yang salah. Yang sudah meninggal atau pindah alamatpun masih terdata, dan data yang dipegangpun sudah kadaluwarsa. Belum lagi masih banyak yang tidak punya KTP lokal sampai gak bisa nyoblos plus alasan kerjaan, dan termasuk diantaranya tidak dikenalnya sosok calon-calon tersebut...intinya...banyaklah.
Tapi kalau dilihat-lihat sih, banyak yang sudah apatis...sudah EGP dengan janji-janji yang dilontarkan oleh para calon. Lebih-lebih belajar dari pilkada-pilkada sebelumnya, sejak 2005 sampai 2007, belum satupun janji yang diumbar itu direalisasikan sampai akhirnya banyak yang memilih Golput. Apalagi seruan-seruan agar golput ini kok makin kenceng aja ya?
Nah, banyaknya Golput ini justru memberi keuntungan bagi partai-partai yang sudah mapan untuk terus dominan. Seperti yang terjadi di Jawa Tengah dimana PDI-P sangat mengakar sebagaimana PKS di Jawa Barat.
Entah nanti di Jawa Timur apakah kasus golput ini melonjak atau bagaimana, yang jelas mau golput...ya pikir dulu dech, kalau mau nyoblos ya hayooo...(saya mau nyoblos kok meski kerja).
Bambang Priantono 240608
Goeie pagi selamat morgen untuk semua...
 Sudah pada sarapan belum hari ini? Kalau sudah, syukurlah..kalau belum? hayoo cari warung terdekat...biar gak teler saat beraktivitas. Sarapan apapun bentuknya sangat penting bagi kita semua untuk menjalankan rutinitas sehari-hari. Entah dengan segelas susu, teh manis hangat, kopi tubruk (ditubrukin dulu di kereta api), atawa sarapan lengkap dengan nasi/ roti isi, pokoknya sarapan dah!!
Di kampus, saya sering menghadapi kasus mahasiswi yang maag (gastrik)nya kambuh, masuk angin atau bahkan pingsan sehingga harus dibawa ke UKS. Kadang saya suka nimbrung masuk ke UKS untuk sekedar tanya, dan dari kasus kepingsanan itu, mayoritas ternyata disebabkan faktor belum sarapan. Saya sempat tanya.. "Kenapa kok sampai pingsan begini?" Dia cuma senyam-senyum saja meski lemas... "Belum sarapan pasti ya?" Diapun cuma mengangguk lemah.
Dalam hati saya sampai mikir "Dasar cewek".Kenapa kok bisa berpikiran seperti itu? pasalnya kasus tidak sarapan atau menghindari sarapan ini lebih banyak menimpa kalangan hawa. Alasannyapun macam-macam...dari yang diet (iya...dietrek-etrek), tanggal tua sampai yang tidak biasa sarapan. Aduuuh...memang repot kalau sudah alasan gak biasa sarapan ini...pantes aja kok pada loyo dan kena maag.. 
Padahal dengan sarapan itu sendiri, energi akan berlimpah sehingga meredam keinginan balas dendam saat makan siang. Teringat saya akan ucapan almarhum pakdhe saya "Sarapanlah bak raja, makan sianglah bak rakyat biasa, dan makan malamlah bak kaum fakir". Maksudnya barangkali harus seimbang, karena sarapan adalah sumber energi paling utama untuk memulai hari. Kalau makan malam?? ya paling sedikit, karena hanya sedikit energi yang kita keluarkan...paling pol bikin badan kian melar...
Makanya, sarapan doongg!!!! Sudah sarapan belum??
Bambang Priantono 240608
Kalau satu RT mati lampu? itu lumrah Kalau satu kelurahan mati listrik? biasa Kalau satu kota kena pemadaman bergilir? Ya..gitu dech Bagaimana kalau satu pulau mati lampu? Pusing nggak seh?
Gara-gara pemadaman bergilir ini saya jadi inget kejadian sembilan tahun yang lalu. Satu pulau listriknya (kalau yang gak ngerti, listrik itu letrik) mati semua. Ini bukan karena krisis energi, bukan karena jadwal pemadaman bergilir, tapi karena kabel penghubung antar pulaunya copot. Kenapa copot? gara-gara kecantol jangkar kapal barang di Tanjung Perak.
Saya lupa persisnya bulan apa, yang jelas kejadiannya tahun 1999. Ada sebuah kapal barang yang saat buang sauh tidak sengaja membuangnya dekat dengan jaringan kabel listrik Jawa-Madura, dan kemudian kecantollah jangkar itu hingga akhirnya listrik untuk Pulau Madura tewas dengan sukses. Seharian padam? nggak!!! malah justru Madura terpaksa tidak mendapat aliran listrik selama dua bulan. Bayangkan saja, dari ujung ke ujung tidak ada listrik dan kalau malam hari akhirnya terpaksa menghidupkan lampu teplok, lilin atau strongking (petromaks).
Atas kesalahan inipun pemilik kapal kena hukuman, perbaikan jaringan makan waktu sangat lama hingga pemda Kalimantan Barat juga kirimkan genset untuk penerangan di Pulau Madura, kendati saat itu juga sedang panas-panasnya antara Dayak dan Madura di Sambas. Toh, tetap dengan rasa solidaritas satu bangsa dan tanah air, akhirnya tetap kirim bantuan.
Saya merasakan sendiri pemadaman di Madura ini waktu diundang mengajar disebuah pondok pesantren. Oleh salah satu pengurusnya saya diajak keliling dan memang makin malam nuansa lampu teplok kian kental, semuanya menghidupkan lampu-lampu darurat agar ada sedikit penerangan disana. Yah, mandipun terpaksa dengan penerangan lilin. Tapi saya bertanya-tanya, apa mereka juga tetap bayar tagihan PLN biarpun listrik terputus begitu?
Akhirnya saat kembali ke Surabaya, dari atas ferry saya melihat gemerlap lampu-lampu kota Surabaya yang indah didepan saya, sementara saat menoleh ke belakang, pulau Madura nampak samar-samar bermandikan cahaya lampu teplok....Perbedaan yang kontras, hanya karena kesalahan menaruh jangkar, jutaan orang dirugikan.
Semoga saja neh, kasus seperti di Pulau Madura ini tidak terulang lagi, apalagi sampai 2 bulan..pusing tujuh keliling....
Bambang Priantono 200608
Apa sih yang dimaksud dengan Jawa Timuran?
Sering saya menulis artikel soal Jawa Timuran, termasuk diantaranya bahasa Jawa Timuran. Namun kalau saya menyebut 'Jawa Timuran', seringkali ada yang protes terutama sekali asal Madiun, Kediri, Tulungagung, dan sebagainya. Mereka menyebut tidak semua daerah itu pakai 'Jawa Timuran'. Dengan giraspun saya jelaskan dengan rinci, tapi kadangkala ada saja yang mempertanyakan soal itu. Jujur saja, saya sering pusing kalau menghadapi dilema soal mana yang 'Jawa Timuran' dan mana yang bukan.
Nah, apa sih yang dimaksud dengan Jawa Timuran?
Kalau Jawa Timur sendiri adalah sebuah propinsi yang mencakup belahan timur pulau Jawa, terbentang dari Mantingan (Ngawi) sampai Ketapang (Banyuwangi), dari pantai utara sampai pantai selatan, dari Jatirogo (Tuban) sampai Kangean (Sumenep). Secara administratif iya sama...Namun ada perbedaan-perbedaan yang perlu dijabarkan, terlebih soal dialek.
Nah, apa sih yang dimaksud dengan Jawa Timuran?
Jawa Timuran adalah dialek yang dituturkan oleh etnis Jawa mulai dari bantaran timur Kali Brantas (timur Kertosono) sampai kawasan Tapal Kuda alias Ujung Timur Jawa. Inipun juga terbagi dengan dialek-dialek seperti Suroboyoan, Malangan, Sidoarjoan, Gresikan, Probolinggan (terkenal dengan kata 'njipik' untuk ambil), Mojokerto, sampai Jombang sendiri. Memang batas-batas itu sudah kabur, namun barangkali dialek-dialek dikawasan itulah yang disebut trully Jawa Timuran alias Arekan. Baik dari segi dialek sehari-hari maupun budayanya yang lugas dan tanpa basa-basi hingga terkesan kasar oleh orang Jawa Mataraman.
Sedangkan sisi barat Kali Brantas sampai batas Jawa Tengah berbudaya dan dialek Mataraman, termasuk beberapa kawasan selatan Jember dan Banyuwangipun berlogat serupa.
Jadi kalau misalnya saya besok menyebut 'Jawa Timuran', ini berarti dialeknya...semoga tidak lagi disalahpahami oleh yang lain, dan bukan bermaksud membeda-bedakan, toh biar Mataraman, pesisiran, Jawa Timuran/Arekan, Madura, Pendalungan dan Osing tetap satu propinsi...hehehehe...
Terima kasih
Bambang Priantono 190608
Semalam tahlilan hari pertama telah dilaksanakan, dan akan berlanjut sampai hari ke-7 nanti. Banyak sanak saudara yang sudah pulang ke kota masing-masing karena harus bekerja esok harinya. Demikian juga orang rumah, meskipun masih merasa kehilangan atas kepergian Eyang Putri tanggal 17 kemarin, toh kehidupan harus tetap dilanjutkan.
Setelah tutup hampir dua hari, toko tempat papa mama menggantungkan penghasilan tadi dibuka kembali. Mama sempat bertanya pada saya, apa pantas dalam suasana duka begini toko dibuka? Saya hanya jawab, berduka ya berduka tapi kehidupan tetap harus jalan. Kalau mau buka, ya buka saja....jangan dibiarkan berlarut-larut. Ingat dengan tersenyumnya Sri Kresna saat kematian Gatotkaca di perang Bharatayudha.
Ya sudah, akhirnya toko dibuka dan sudah ada 3 pelanggan yang menunggu berbelanja ditoko kami. Alhamdulillah....
Selamat pagi untuk semuanya
Bambang Priantono 190608
Pemakaman itu telah usai... Pagi setelah online terakhir, saya meluncur ke rumah Budhe yang berjarak 1 km dari rumah saya. Nenek dimakamkan di pemakaman umum yang terletak persis disebelah rumah Budhe.
Dirumah Budhe hanya ada beberapa orang kerabat dan tamu, karena semuanya terkonsentrasi di rumah tante tempat nenek berpulang siang sebelumnya. Rencana semula jenazah hendak dikebumikan pukul 09.00 WIB, namun karena menunggu salah satu tante dari Jakarta datang, maka keberangkatan jenazah tertunda. Sayang sekali tante saya yang bermukim di Malaysia tidak bisa hadir karena kendala keuangan...saya yakin dia terpukul, namun apa mau dikata, jarak yang memisahkan.
Jenazah nenek baru datang sekitar jam 10.00 dan ternyata sudah disholatkan di rumah tante sehingga begitu sampai dipemakaman, langsung saja beliau dikebumikan. Saya tidak begitu bersedih, karena saya gembira beliau telah terlepas dari penderitaannya selama hampir lima tahun terakhir ini.
Saya tiba-tiba teringat dengan salah satu kisah Mahabharata, yakni saat kematian Gatotkaca di medan peran Bharatayudha, semua Pandhawa mencucurkan airmata, terlebih Werkudara (Bima) selaku sang ayah, tetapi Sri Kresna nampak tersenyum. Ditanya kenapa dia tersenyum? Kresna menjawab, bahwa Gatotkaca telah mendapat tempat yang layak dan bahagia di Nirwana.
Saya yakin nenek dapat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, dan beristirahat diranjang surganya...Amien...
Selamat jalan Eyang Putri, doa kami bersamamu...
Terima kasih semuanya, pemakaman telah usai
Rr Oetari Sri Asih (1926-2008)
Bambang Priantono 170608
Kemarin sewaktu dikantor sekitar pukul 2 siang, saya mendapat kabar mengejutkan dari adik saya..Nenek saya yang selama ini tidak sadarkan diri karena stroke dan sempat dirawat di RS, akhirnya berpulang ke rahmatullah...
Lemas rasanya mendengar berita itu, dan langsung saya meluncur ke tempat nenek di Jalan Alalak, yah....saya hanya bisa terdiam, tapi tidak bisa menunjukkan kesedihan. Saya hanya lega, karena akhirnya Allah melepaskan penderitaan beliau yang sudah bertahun-tahun dirasakannya. Semoga beliau ditempatkan layak disisi-Nya...
Pemakaman dilangsungkan sebentar lagi pukul 9 WIB....mohon doa untuk beliau...terima kasih
Bambang Priantono 180608
Saya memang nggak pinter bicara soal makanan. Banyak ahlinya, apalagi yang punya akun di MP. Waduh, ngeper saya kalau ngomong soal makan memakan, bisa-bisa dibabat dach..hahahahaha. Tapi…sutralah, kan saya ngomong sesuai dengan apa yang saya ketahui toh. Alhamdulillah saya dikaruniai oleh-Nya naluri suka makan...hehehehehe
Salah satu makanan yang baru saya jumpai saat di Malaysia adalah Ketan Mangga. Memang jajanan itu bukan asli Malaysia, melainkan asal tetangga sebelahnya yakni negeri Gajah Putih alias Thailand. Itupun tidak sengaja, setelah makan Laksa Kluang di Kluang Station daerah Ampang, dan itu menjelang kita pergi pulang, Pakdhe Karto mendatangi gerai makanan khas Thailand yang penjaganya juga kebetulan orang Thai tulen. Hmmm…aneka jajanan khas Thailand bergelimpangan disana, tapi yang paling menarik perhatian saya adalah dua buah bakul besar yang isinya adalah ketan (pulut). Warnanya agak beda…yang satu putih-putih mangkak, sedangkan yang satunya putih tapi agak kehijau-hijauan. Kata Pakdhe, yang putih mangkak itu hanya pakai santan, alias polos. Sedangkan yang agak semu kehijauan itu pakai air daun pandan. Hmmm, pantes warnanya agak lain. Pakdhe pun belikan satu buat saya, yang uniknya sih…kedua-duanya dibeli, cara menyusunnya adalah…ketan dimasukkan dalam kemasan, kemudian diatasnya diberi irisan mangga manis, bukan yang kemampo (Jw : setengah matang). Tak lupa beliau mengucapkan khop khun krab alias terima kasih kepada si penjajanya dengan sikap tangan persis orang Bali. Ketan mangga yang nama aslinya adalah Khao Neow Ma-maung ini rasanya manis sekali, paduan manisnya ketan yang dimasak dengan santan kental, gula dan garam ini sangat terasa, dan kesannya jadi mirip krim alias creamy, lengket-lengket dan dimakan bersama dengan mangga. Waduh, enak banget, meski jujur aja agak neg, karena manis ketan dengan manis mangga. Kalau menurut versi saya sendiri sih enakan kalau mangganya yang kemampo atau ketannya yang nggak manis. Hehehee… dasar lidah Jowo, apalagi saya seringnya makan ketan pakai bubuk kedelai dan kelapa parut, jadi waktu ketemu khao neow ma-maung alias ketan mangga ini lidah jadi terasa ndheso. Tapi jelasnya lumayanlah, pengalaman lidah dan lambung kian bertambah…Mungkin kalau musim mangga entar mau saya coba ah, tapi dengan versi sendiri yang gak terlalu manis. Gak bagus untuk kesehatan kalau kebanyakan.. Matur nuwun sanget Pakdhe Karto amargi panjenengan sampun ngenalaken kaliyan kudapan saking Thailand niki... Bambang Priantono 160608 (foto asli jepretan sendiri)
Pemadaman bergilir masih terus saja bergulir...Sabtu malam minggu kemarin daerah saya kena, kini daerah Bareng yang masuk giliran. Sekiranya hari ini adalah hari bahagia salah satu rekan cewek saya dikantor, orangnya lucu dan polos sekali plus penggemar Rhoma Daratista (eh, salah!! Irama), karena dia melangsungkan pernikahannya hari ini, dan pastinya semua rekan diundang. Tapi jelasnya, bergiliran...karena nggak mungkin nggeruduk semua...nanti kampus sepi dong? Hehehehe...Jam 3 kita semua berangkat
Karena mobil tidak mencukupi, maka yang laki-laki harus naik sepeda motor. Saya boncengan dengan teman yang tahu lokasi rumah Miss Wiwik (demikian panggilannya)....apalagi daerah Bareng termasuk kawasan perkampungan padat penduduk yang struktur daerahnya berbukit-bukit, plus jalannya sempit pulak. Sempat kita kesasar, nggak nyadar kalau sebenarnya kita sudah deket dengan lokasi. Tapi itu belum selesai, ternyata lokasi sang pengantin masih 500 meter dari jalan utama dan mau nggak mau harus jalan kaki. Aaarrrggghhh....mana harus nanya kiri kanan lagi...
Sampai?? Iya....tapi waktu kesana kami hanya melihat Miss Wiwik dengan pakaian pengantin yang anggun sekali...manglingi kata orang Jawa. Ternyata acara temu mantennya belum dimulai...wah, salah perhitungan nih...tapi tetep dipersilahkan duduk dan menikmati makanan yang ada....sederhana yang penting sip!!! mana ada ayam-ayam kampung berseliweran, karena diadakan dilapangan kampung...sungguh alami.
Tapi ada yang kurang.....e...ternyata listrik didaerah itu sedang kena pemadaman bergilir, dan baru hidup lagi pukul 20.00 WIB nanti malam. Pantes aja, gak ada suara musik atau minimal shalawatan, wong njekethek lampunya mati. Tapi kenapa ya nggak sewa gen set? Mungkin juga belum antisipasi kalau sewaktu2 ada pemadaman. Akhirnya tanpa pengeras suara, acara temu manten diiringi dengan shalawat spontan dari ibu-ibu kampung, dan the show must go on kendati lampu mati....Baru kali ini nih saya menghadiri pesta pengantin dengan kondisi pemadaman bergilir..
Kasihan Miss Wiwik, sudah capek-capek....eh, ternyata kena dampak pemadaman. Pesta tetap jalan, tapi pastinya akan terganggu, terlebih malam kian menjelang.
Tapi...selamat menempuh hidup baru ya Miss Wiwik... Biarpun jadi korban pemadaman yang entah sampai kapan kejadiannya ini...(Gini ni gara2 ikut global,...coba kalau kita isolatif dari dulu, pasti gak kayak gini dampaknya )
Bambang Priantono 160608
Pagi-pagi begini, baru datang di kantor, mana hari Senin sudah ada masalah yang harus diselesaikan cepet. Ah, setiap hari mah memang ada kok, tapi hadapi saja, jangan ngabur...malah gak selesai-selesai nanti. Daripada bete mikirin masalah, mumpung belum banyak orang mending saya cerita tentang isi laptop saya yang baru dua minggu ini lunas..hehehehe. Namanya juga kreditan, kalau beli tunai, aduh kapan ngumpulnya duit. Wong gaji pengajar kan gak sebanding dengan orang-orang kantoran yang lebih basah...jadi kreditlah solusinya. Gak papa, daripada gigit jari doang...Saya beli laptop merek BenQ itu (lupa jenis apa) karena waktu pameran sepuluh bulan yang lalu harganya pas banting-bantingan, jadi tertariklah saya membelinya..maaf gambar tidak disertakan lho...hehehehe...Bayar cicilannya aja ternyata bikin dompet senen-kemis selama beberapa bulan, tapi secara ada rejeki...ya sudah, lunasi aja sekalian. Dan jadilah laptop itu milik seutuhnya. Soal isi laptop...aslinya sih gak banyak-banyak amat. Apalagi kalau nulis atau baca-baca saya suka buka. Hitung-hitung sebagai alat hiburan, mana irit listrik lagi. Pemadaman? tinggal pasang batere, beres.... Apa saja ya isi laptop saya? Kalau dipikir-pikir jadinya sebagai berikut : 1. File-file dari Wikipedia.. (terutama bahasa, budaya, sejarah) 2. File terjemahan Al-Quran dalam banyak bahasa 3. Aneka mainan yang biasa-biasa aja...seperti mbangun kota (Caesar III), mbangun restoran (Diner Dash), dan ada 4 biji lainnya. 4. Musik-musik dari berbagai negeri...saya aslinya bukan kolektor musik banget. 5. Foto-foto hasil jepretan sendiri.. 6. Tulisan-tulisan di MP, baik yang jadul maupun jamod... Hmmm..apa lagi ya? Sekalian latihan ingatan. Seminggu sekali (kalau ingat) cuma saya defrag biar rapi...dan kadang-kadang diperiksa dengan anti virus. Alhamdulillah hingga detik ini belum tercemar virus sebijipun sejak beli pertama kali. Ya sudah, itu saja untuk pagi ini.....kalau isi laptop anda kira2 apa ya?? Hehehehe... Bambang Priantono 160608
| |