Bambang's posts with tag: dialek melayu
Menurut Fernandez (2007), bahasa Melayu sudah sampai ke kawasan timur Indonesia sebelum kedatangan Portugis. Migrasi Melayu secara bergelombang mulai terjadi pada abad ke-3 hingga ke-5, dan puncaknya terjadi pada abad ke-7, tepatnya masa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Setelah kedatangan Portugis pada abad ke-16 sampai abad ke-18 di kawasan timur Indonesia (KTI) bertemulah dua kekuatan bahasa yang berimbang, yakni antara bahasa Melayu dan bahasa Portugis yang kemudian melahirkan lingua franca yang kuat dan mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu di KTI itu sendiri. Seiring dengan perdagangan dan penyebaran agama Katolik oleh Portugis, terbentuklah suasana komunikasi yang saling berdampingan. Bahasa Melayu dapat bersanding dengan bahasa Portugis dan inilah yang mengakibatkan bahasa Melayu disana mempunyai perbedaan dengan saudara-saudara Melayunya yang lain. Melayu Indonesia Timur (menurut Adelaar dan Prentice, 1996) terlihat berbeda dengan bahasa Melayu di Kawasan Barat Indonesia (KBI), bahkan dengan bahasa Melayu di negara lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh persamaan sejarah yang dimiliki bahasa-bahasa Melayu disana. Fitur-fitur khas Melayu Indonesia Timur ini adalah sebagai berikut : 1. Konstruksi posesif (kepemilikan) yang terdiri atas pemilik (pronomina)+punya + obyek atau benda yang dimiliki. Contoh : Kita pe buku (Manado) Beta pung buku (Ambon, Kupang) Sa pu buku (Papua) -
Pronomina jamak berasal dari pronomina tunggal + orang Contoh : Kita + orang = kita Menjadi Torang (Manado), katong (Ambon, Kupang), kitorang/kitong (Papua), kotong (Kupang), katorang (Banda) Dia + orang = mereka Menjadi Dorang yang selanjutnya disingkat menjadi dong Sering juga nama orang ditambahkan dengan dong seperti “Susi dong pung kaka” (biasanya terjadi di Ambon) -
Retensi ter- dan ber-sebagai satu-satunya afiks Melayu asli yang produktif. Ter menjadi ta contoh tersangkut menjadi tasangko Terbuka menjadi tabuka Ber menjadi ba, mirip dengan afiks pada bahasa Minang dan Banjar, tapi juga dalam bahasa Melayu lama Contoh Berkelahi dengan bakalae Bertanya dengan batanya Me menjadi ma… Contoh Menangis menjadi manangis Menari menjadi manari -
Ada sebagai pemarkah Melayu tentang eksistensi, disini menunjukkan keadaan progresif. Contoh : Andi ada tidur : Andi sedang tidur Ali ada? Ada…..ada pi : Ali ada? Ada…sedang pergi -
Bentuk-bentuk reduksi dari kata ganti penunjuk, ini dan itu mendahului kata benda dan berfungsi sebagai penentu. -
Penggunaan dari reduksi bentuk pergi yang selain sebagai kata kerja, juga berfungsi sebagai preposisi yang berarti ‘menuju’ Contoh : Pergi menjadi pi atau pigi Pi ka Susi dong pung kaka Pi makang : pergi makan -
Konstruksi-konstruksi kausatif yang terdiri dari auksiliari kasi/beri atau bikin/buat ataupun dapa/kena/ter/di dan verba pusat. Contoh : Kasi tunjuk/ kastunju : memberi petunjuk Kasi tau/ kastau : memberitahu Bikin bae/ beking bae : memperbaiki Bikin susa/ beking susa : menyusahkan/ buat susah Dapa bunuh : dibunuh Dapa pukul : terkena pukul Diduga ciri-ciri yang diwariskan secara reguler tersebut merupakan ciri-ciri dari Melayu Klasik yang telah hilang.
Ciri-ciri lainnya antara lain : -
Sufiks kan yang berakar dari akan, dan diduga berasal dari varian Melayu Kalimantan yang mengalami nasalisasi di dialek Manado dan Ambon menjadi akang (yang juga bermakna seperti ‘it’ dalam bahasa Inggris) Contoh : Taru akang disitu : taruh benda itu disitu Kita inga tatawa akang : saya pernah menertawakan -
Penggunaan pronomina beta, yang hanya dipakai oleh raja di kawasan barat untuk makna saya, justru menjadi ungkapan sehari-hari dalam dialek Ambon dan Kupang. Sedang di Manado menggunakan kita, sedang Papua menyingkat saya menjadi sa. -
Nasalisasi atau penyengauan kata kerja berakhiran –n menjadi -ng, dan berlaku dalam dialek Manado, Ambon, Ternate pada khususnya. Sedangkan akhiran n utuh berlaku pada dialek Kupang dan Papua. Contoh Bikin menjadi biking atau beking atau bekeng Makan menjadi makang Jalan menjadi jalang Kasihan menjadi kasiang Tuan menjadi tuang Tapi dengan tidak menjadi dengang, melainkan deng -
Untuk penyangatan, biasanya digunakan kata batul, skali, mati atau sampe Contoh : Nyong Ba gaga batul e! : Abang Ba gagah sekali! (Ambon) Kita ada durian pe okii skali! : Saya punya durian yang ukurannya besar sekali. (Manado) Tu nona cantik mati! : Gadis itu cantik sekali (Kupang) Ko sombong sampe : Kamu sombong sekali (Papua) -
Penggunaan baku untuk menyatakan saling…satu sama lain Contoh : Bakudapa : bertemu Bakupolo : berpelukan Bakusedu : bercanda, berkelakar Bakubae : berdamai Bakupukul : saling memukul Bakuhantam : saling menghantam Bakuveto : saling adu mulut Dimana baku ini juga sudah masuk menjadi bagian integral dalam bahasa Indonesia. -
Reduksi alias penyingkatan menjadi hal yang biasa dalam Melayu Indonesia Timur ini. Misalnya sudah menjadi su atau so (Manado), juga menjadi ju atau jo, dengan menjadi deng, jangan menjadi jang, saja menjadi sa, coba menjadi co dan banyak lagi. Pengaruh Portugis, kemudian Belanda yang kuat memberikan warna dalam kosakata-kosakata Melayu Indonesia Timur, dan jumlah kosakata Portugis di Melayu Indonesia Timur lebih banyak daripada yang ditemukan di bahasa Melayu Kawasan Barat. Pengaruh serapan Portugis paling kuat dirasakan dalam bahasa Melayu Larantuka (Flores, NTT), sedangkan pada dialek Melayu Papua dan Manado, kosakata Portugis tidak sekuat pada Larantuka. Bahkan Melayu Papua sendiri cenderung paling dekat dengan bahasa Indonesia baku dibandingkan dengan varian Melayu lainnya.
Kesamaan sejarah telah menyebabkan perkembangan bahasa Melayu di Indonesia Timur berbeda dengan di kawasan barat, termasuk diantaranya ciri linguistik yang tidak dimiliki oleh kawasan barat itu sendiri. Bentuk-bentuk klasik Melayu yang sudah hilang dalam bahasa Melayu kawasan barat masih dipertahankan di kawasan timur.
Sumber : Adelaar, K. Alexander (1994); Collins, James T (2005); dan Fernandez, Inyo Yos (2006) Melayuonline.com Berbagai sumber
Bambang Priantono 150508
Dikarenakan Indonesia Timur pada dasarnya bukan wilayah asli penutur bahasa Melayu dan dimasa lalu bahasa ini menjadi bahasa pasaran, maka sudah barang tentu pengaruh-pengaruh dari berbagai wilayah termasuk bahasa lokal dan asing ikut campur dalam proses pembentukannya. Sebenarnya jika perlu diulang, bahasa Melayu Indonesia Timur terbagi atas beberapa varian, yakni : -
Melayu Manado -
Melayu Makassar -
Melayu Ternate -
Melayu Bacan -
Melayu Ambon -
Melayu Banda -
Melayu Kupang -
Melayu Larantuka, dan -
Melayu Papua Ciri khas yang sering muncul dalam bahasa Melayu Indonesia Timur secara umum adalah sebagai berikut : -
Penyingkatan kosakata, baik yang berakar dari bahasa Melayu sendiri ataupun serapan bahasa-bahasa sekitarnya. -
Tata bahasa yang banyak mirip dengan tata bahasa-bahasa Eropa seperti rumah saya menjadi saya punya rumah. -
Kekunoan (archaism), dimana beberapa aspek bahasa Melayu lama yang sudah tidak dipakai diasalnya masih terpakai di kawasan Indonesia Timur. Dan perlu diperhatikan, sebagian pakar berpendapat kalau bahasa Melayu Indonesia Timur tidak diturunkan langsung dari Sumatera atau Semenanjung, melainkan konon berasal dari varian yang ada di Pulau Kalimantan dan tersebar melalui perdagangan ataupun misi Kristen dimasa silam. Nah, berikut ini kita membandingkan antara Melayu Manado, Ambon, Kupang dan Papua dimulai dari kata dasar terlebih dahulu.
Ya Manado, Ambon : iyo Papua, Kupang : iya
Tidak Manado : nda, nyanda Ambon : seng (konon dari kata sem dalam Portugis yang arti aslinya ‘tanpa’), tra Kupang : sonde (konon dari kata zonder dalam bahasa Belanda atau disingkat son) Papua : tra
Saya Manado : Kita Ambon : Beta (aslinya penyebutan diri bagi bangsawan Melayu, tapi disana jadi sehari2) Kupang : Beta (kadang-kadang disingkat bet) Papua : Sa (singkatan dari saya)
Kamu Manado : ngana Ambon : Ose (dari ‘voce’, Portugis), dengan varian se atau os Kupang : lu (pengaruh Cina) Papua : ko (kau), kam (kamu) Dia Manado, Ambon, Kupang : dia, antua (beliau) Papua : dia, de
Kita/Kami Manado : torang Ambon, Kupang : Katong Papua : kitorang, tong, kitong
Kalian Manado : kamorang Ambon, Kupang : kamong Papua : kam
Mereka Manado : dorang Ambon, Kupang, Papua : dong
Suami/kekasih Manado, Kupang, Ambon, Papua : paitua (gabungan dari akar kata pãe (port) dengan tua)
Istri/ kekasih Manado, Kupang, Ambon, Papua : maitua (gabungan dari akar kata mãe dengan tua)
Rumah Saya Manado : kita pe rumah Ambon, Kupang : beta pung rumah Papua : sa pu rumah Nanti akan disambung bagian berikutnya..... Bambang Priantono 020508
Sebagai lingua franca, bahasa Indonesia/Melayu dipakai dengan luas dibumi Papua. Dan uniknya, sejak tahun 1926 bahasa Melayu sudah dianggap sebagai bahasa pemersatu dikawasan paling timur negeri ini. Bahasa Melayu Logat Papua banyak dipengaruhi bahasa sekitarnya termasuk pengaruh bahasa Melayu Ambon yang masuk melalui kawasan kepala burung (Papua Barat) dan menyebar sampai ke pelosok-pelosok. Dalam beberapa aspek, bahasa Melayu Papua banyak kemiripan dengan Ambon, Manado dan Kupang. Namun diaspek lainnya ada juga ciri yang tidak dimiliki daerah lainnya, tapi paling tidak lebih cepat dipahami daripada dialek Melayu Ambon sendiri. Berikut ini ada beberapa contoh kosakata Melayu Papua yang diambil dari situs yaswarau.com
Anana : anak-anak/ teman-teman (yang sebaya dengan penutur) Contoh : Tadi sa deng anana tong pi ke mall. (tadi saya dan anak2/teman2 pergi ke mall) Ba : ber, me, be (awalan) Contoh : sa baganti tempat duduk deng dia. (saya berganti tempat duduk dengan dia) Bae/baek : baik Contoh :Kaget tra bae (kaget sekali) Baku : saling Contoh :Dong dua baku marah (mereka berdua saling marahan) Bokar : besar Contoh : Saya dapat ikan bokar sekali (saya dapat ikan besar sekali) Cakar, cabut : lari, menghilang, menghindar Contoh : Pace de lia mace datang dan de cabut sudah mo (ketika melihat wanita itu datang menujunya, laki-laki itupun menghindar). Co : coba Contoh : We! Co kam diam dulu ka! (Hei! Coba kalian diam dulu dong!) De : dia Contoh : De lagi sendiri Deng : dengan Contoh : Sa deng ko (saya dengan kamu) Dong : mereka Contoh : Dong tra marah ko (mereka tidak marah denganmu) Jang : jangan Contoh : Jang ko marah dia (jangan marahi dia) Ka : akhiran kah Contoh : Ko su makan ka? (kamu sudah makankah?) Ka : atau Contoh : ko pilih hitam ka putih? (kamu pilih hitam atau putih?) Ka : mohon (please) Contoh : Ko jang marah saya ka (jangan marahi saya ya) Kam : kalian, kamu Contoh : Jang kam marah ka Kas : kasih, beri Contoh : kas tau dia (beritahu dia) Kitorang, kitong: kita semua Contoh : Kitong ke sekolah Ko, koi : kamu Contoh : ko mo pigi mana? Komin : penduduk asli Papua Contoh : Pace dan mace komin makan pinang (lelaki dan perempuan asli Papua makan pinang/gambir). Lia, liat : lihat Contoh : Ko tra lia ka? (kamu tidak lihat ya?) Lipa : pukul Contoh : Ko mo dapat lipa ka? (kamu mau dipukul ya?) Mace : mama, perempuan Contoh : Mace, ko mo pi mana? (kamu/perempuan mau pergi kemana?) Maitua : pacar/istri Contoh : sa pu maitua (Istri/pacar saya) Mo : mau, hendak Mo : pelengkap ungkapan Contoh : tra mandi saja mo (nggak mandi saja ah) Molo : menyelam Contoh : tadi sa pi molo di laut (tadi saya menyelam dilaut) Ne : ungkapan kekaguman/keheranan/terkejut, dibaca mirip kata ‘ne’ dalam bahasa Jepang Contoh : Ne…barang ini bongkar sampe! (Wow, barang ini besar banget) Paitua : pacar (lelaki), orang tua, suami Contoh : ko pu paitua sapa? (pacarmu siapa?) Paku : pukul, hajar, sikat Contoh : Pace de paku sa dar muka langsung bintul (Dia memukul saya dimuka hingga bengkak) Pangaru : Hebat Contoh : wan..ko paling pangaru...( ..kawan..kamu paling hebat..) Pasiar : jalan-jalan (pesiar) Pele : memagari, menutup Contoh : Kam pele tempat itu sudah! (kalian tutup saja tempat itu) Pelei : heran, bingung, terkejut Contoh : Pelei! Kam tidak kenyang ka? (Heran! Kamu nggak kenyang ya?) Pi, pigi : pergi Pica : hancur, benjol Contoh : Denias! Ko mo pica ka? Pu : punya Contoh : sa pu kepala sakit (kepala saya sakit) Sa : saya Sampe : sampai, tiba, berlebihan, sangat Contoh : De su sampe jam dua siang (dia sudah sampai jam dua siang), ko sombong sampe (kamu sombong sekali) Su : sudah Contoh : sa su maafkan ko Ta: ter (awalan) Terko : jatuh Tra : tidak Contoh : ko tra makan ka? (kamu tidak makan?) Trada : tidak ada Tralaku : jelek, tidak baik Contoh : Ko pu sifat paling tralaku e…(sifatmu jelek sekali) Trapapa : tidak apa-apa Contoh : trapapa, jang ko marah
Sudah, itu saja yang didapat....terima kasih buat yaswarau.com
Bambang Priantono
300408
 Melayu Kupang adalah varian Melayu Kreol yang dituturkan oleh masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya (propinsi Nusa Tenggara Timur), yang mana pada masa awalnya merupakan Lingua Franca antar kelompok yang membentuk kota Kupang ini sejak masa penjajahan Belanda, baik etnis Timor (Uab Meto), Tetun, Rote, Ndao, Sabu, Flores, Alor, Solor, Arab, Jawa, Cina, Bugis hingga Portugis dan Belanda, disatukan oleh varian Melayu ini..
Dari segi tata bahasa, Melayu Kupang identik atau serupa dengan Melayu Ambon maupun Manado. Namun ada kosakata-kosakata berbeda yang tidak ada di dua varian tadi...karena kuatnya pengaruh bahasa seperti Rote-Sabu maupun Belanda didalamnya... Nah, bagi penutur bahasa Indonesia, tidaklah sulit untuk memahami tutur kata orang Kupang ini...bahkan bahasa Melayu Kupang kian merata diseluruh Nusa Tenggara Timur dengan adanya media-media yang memfasilitasi Melayu Kupang, seperti misalnya kolom 'TAPALEUK' di Pos Kupang yang sangat menarik...
Nah, ini sebagian dari kosakata Melayu Kupang, bagi penutur Melayu dimanapun, silakan periksa sama dan bedanya...
A Ada : ada (selain keberadaan juga menunjuk kondisi sekarang) Adi : adik Adi nona : adik perempuan Adu : aduh Aer : air Ama : bapak Ame : ambil Ana : anak Ana kici : anak kecil Andia : dia Angka : angkat Angka lagu : putar lagu Ator : atur Ator bae-bae : diatur saja Awii : ungkapan kagum, heran
B Ba’iu : jual mahal, bertingkah Babalas : berbalas Babaris : berbaris Babunyi : berbunyi Bae : baik Bafoe : sibuk Bai : baik Bajalan : berjalan Bajual : berjualan Bakalai : berkelahi Bakanal : berkenalan Bakawan : berkawan Bakores : Baku liat : berpapasan Balogat : cara bicara, logat Balom : belum Balurus : bersikap lurus Bamaki : memaki Bamasak : memasak Baomong : ngomong Banya : banyak Banyanyi : menyanyi Bapa : bapak Bapanas : kepanasan Baptua : dia, beliau Bapukul : memukul Barabut : berebut Barapa : berapa Baribu : beribu Barita : berita Baro'o : Baruba : berubah Basayang : saling menyayangi Basong : kalian Batabrak : menabrak Batanya : bertanya Batriak : berteriak Batul : betul Bauji : menguji Be : saya (potongan dari beta) Begena? : bagaimana Bekin : bikin Bepung : saya punya Besar : besar Beta : saya Betong : kita Bingung bodo : bingung betul Bodok : bodoh, kurang tahu, belum tahu Bokor : baskom Bosong : kalian Bini : istri Bu : bung Bunti : Bunu : bunuh
C Cari hal : cari perkara Cepur : basuh Cerek : ketel, ceret Cuka minyak! : makian halus Cules : tidak mau membantu
D Da! : halo, mari Dadiok : Daging se'i : makanan khas Kupang terbuat dari daging Dar : dari Darmana : darimana Deka : dekat Deka-deka : dekat-dekat Deng : dan, dengan Dia : dia Do : dulu Do’i : cungkil, gali Doi : duit, uang Dolo : dulu Dong : mereka
E
F Falores : pulau Flores Fam : nama keluarga Frek : acuh, cuek
G Gamatar : gemetar Gara-gara : perkara Glas : gelas Gonceng : bonceng (sepeda motor)
H Habok : pukul Hamper : hampir Harbabiruk : Harim : Hela : mengarahkan
I Iko : ikut Ina : ibu, nyonya Itam : hitam Itu su! : begitulah Iya toh? : kan?
J Jalan datang : mendekati, mendatangi Jamput : jemput Jang : jangan Jang sampe : semoga tidak, mengawali praduga Jao : jauh Jeh : ungkapan keheranan, tepat, pas Ju : juga
K Kabas : kibas Kaen : kain Kake’ek : pelit Kamaren : kemarin Kambale : kembali Kambali : kembali Kanapa : kenapa Karas : keras Karmana : bagaimana Karna : karena Kasasar : kesasar Kasetenggal : tinggalkan Kasibeli : belikan Kasihidup : hidupkan Kasijatuh : kerjai Kasimati : matikan Kasitau : beritahu Kas lap : mengepel Katong : kita Katumu : ketemu Kawen : kawin Ke : seperti, macam Kentara : nampak Kerbo : kerbau Ketong : kita Kinyang : kenyang Koh : ungkapan mengakhiri pertanyaan, Konco : teman Konto : kentut Konyadu : ipar Korsi : kursi Kotong : kita Kurus : cabai
L Lae : lagi Lai : lagi Laklaki : lelaki Lam-lama : lama-lama Lancar omong : terus bicara Laru : sejenis minuman keras Lauk : lauk pauk Lebe : lebih Lebi : lebi Lia : lihat Lonceng : jam tangan, arloji Lu : kamu Lu pung mau : salah sendiri
M Ma : tapi Main gila : mengganggu Maitua : istri, nyonya Malas tau : cuek Maloi : mencari Mama : ibu Mamati : bentuk penyangatan, contoh : andia su talalu jahat mamati Mamtua : dia (perempuan) Mangamok : mengamuk Mangkali : barangkali Manyalak : menyalak, menjadi-jadi Mara : marah Masala : masalah Maso : masuk Mati : mati, sangat Mati tadudu : mati berdiri Meloi : mengintip Mete : begadang Minom : minum Mo : mau Muka : wajah Musti : harus
N Na : lah, nih Nae : naik Naraka : neraka Ngali : bodoh Nona : mbak, perempuan Nyadu : Nyong : mas, lelaki
O O : ya…contoh “jang mara o” (jangan marah ya) Olok : ejek Oma : nenek Omong kosong : bohong Ontong : untung Opa : kakek Oto : mobil
P Padhal : padahal Pagawe : pegawai Pajabat : pejabat Pake : memakai Pakian : pakaian Pamalas : malas Pamarenta : pemerintah Pange : panggil Pangko : pangku Panta : pantat, bokong Pantat : pantat, alat kelamin perempuan (kasar) Papoko : pukul Parmisi : permisi Parsetan : persetan, cuek aja Pasawat : pesawat Pasiar : pesiar, jalan-jalan Pata : patah Payrasaan : malu, perasaan Penu : penuh Pi : pergi Pi salamat : memberi selamat Picah : pecah Pigi : pergi Pikiran : sedang susah, melamun, punya masalah pribadi Pimana : pergi kemana, mau kemana Po’a : tuang Poi : wajah buruk, buruk rupa Pokrol : Penyok : bengkok, wajah buruk Puka meyong : makian halus Puka pelo : makian halus Puki : alat kelamin perempuan Puki mai : makian kasar Pung : punya Purak : jelek, buruk Putar balik : tidak terus terang
R Raba-raba : mengira-ngira Rebis : Roko : rokok Ruba : ubah Ruma : rumah
S Sa : saja Sadiki : sedikit Sakola : sekolah Sam : sama Sambarang : sembarangan, semaunya Sambel : sambil Sanang : senang Sapa : siapa Sasando : alat musik petik khas Rote Selamat! : (tidak usah pakai pagi, siang, sore dst) So’a : dapat Sodara : saudara Son : tidak (kependekan sonde) Sonde : tidak Sonde toe : tidak peduli sekitar Sono : nyenyak Stel : buat, atur Strat : jalan Su : sudah Sumendua : sudah mendua Sun : cium Surasa! : rasakan! Susa : susah Syalom : salam
T Tacu : wajan Taku : takut Takuju : terkejut Talalu : terlalu Taman : teman Taman konco : teman karib Tampa : tempat Tampias : tempias Tana : tanah Tapaleuk : pergi, bepergian Tartau : tidak tahu Tenggal : tinggal Tete manis : Tuhan Ti’i : bibi Tidor sono : tidur nyenyak Tidur : tidur, menginap Togor : tegur Toke : gosok rambut dengan tinju, ketok Toki : ketok, pukul To’o : paman Turu tere :
V Vermaak : permak, dirubah
W Wah : lho Weh : lho
(Gambar : Pulau Timor) 
Yah, demikian sekelumit kamus maya bahasa Melayu Ambon dan Indonesia yang bisa saya persembahkan bagi anda semua... Hanya sekedar pulungan kata, belumlah sempurna.... Dangke banya voor bu, usi deng laengnya yang su kastau beta banya...
R Rai : kira Rai-rai : kira-kira Rame : ramai Rasa : rasa Rekeng : hitung Rembeng : jinjing
S Sabala : sebelah Sabarang : sembarang Sadap : sedap Sadiki : sedikit Sagala hari : sepanjang hari Sageru : minuman keras lokal Sahua : sahut Sajo : sejuk Sakola : sekolah Salam : Islam Salamat : selamat Salamate : salam Samangat : semangat Sambong : sambung Sambunyi : sembunyi Samonti : Samua : semua Sanapang : senapan Sangko : sangkut Saniri : Sarani : Kristen Sasa : sesak Satambong : seabrek, aneka macam Saule : lelaki muda yang tampan Seng : tidak Sibu-sibu : sepoi-sepoi Sirang : siram Sio! : wahai! Sirang : siram Skakar : pelit Skrek : kaget Slaber : membersihkan, menyapu Slak : gaya Slaken : Smerlap : Snup : jajanan Soa-soa : biawak Sodara : saudara Sodara piara : saudara angkat Soldadu : serdadu, pasukan Sombayang : sembahyang Sondor : tanpa, tidak Sono : nyenyak, tidur Sorong : dorong Spook : hantu, cerita tidak masuk akal Sprei : kain kasur Spul : bilas pakaian (bilas akhir) Stell : gaya, pasang Strap : hukuman, sanksi Strat : jalan Su : sudah Suanggi : guna-guna, pengguna ilmu hitam Sumbur : sembur Sungga : pisau, parang Sungga-sungga :
T Ta’urung-urung : beriringan, ramai-ramai Tabadiri : berdiri tegak Tabal : tebal Tabaos : berteriak/memberitahukan Tabea : hormat Tacigi : Tado-tado : Tagae : terkait Tagal : karena Tagal cinta pung tahela : akibat cinta (biasanya berkonotasi negatif) Tahang : tahan Tajangke : terjangkit, terkena Takikis : terkikis Tako : takut Takojo : terkejut Talalu : terlalu Talamberang: tak tentu arah Talanjang : telanjang Talapas : terlepas Tali hulaleng : Talinga : telinga Talipon : telepon Talucu : tertelan, meluncur Tamang : teman Tampa : tempat Tampias : tempias, keluar, terpercik Tana : tanah, negeri Tandang : tending Tanta : tante, bibi : makcik Tanuar : Taong : tahun Tapaku : terpaku Tapalang : kursi panjang dari pelepah sagu Tar : tidak Tarada : tidak ada Tarbae : tidak baik Tarlama : nanti Taro : taruh Tasangko : tersangkut Tasirang : tersiram Tata : bapak Tatidor : tertidur Tau : tahu Tegel : ubin Tempo : waktu Testa : kepala Tete : kakek : datuk Tete manis : Tuhan Tetenga : penyu Tidor : tidur Tikang : tikam Tingkai : sombong, angkuh Tipu : tipu Tipu-tipu abu nawas : akal bulus Toro : turut Totobuang : jenis alat musik khas Maluku Totoruga : penyu Toki : pukul, getok, ketok Tra : tidak Tua-tua garongkong : tua bangka Tuang : Tuan/Tuhan Tuangala : Tuhan Tumbu : tumbuk, pukul Tunju : tunjuk
U Ua : paman Uang : uang Ujang : hujan Ulu : hulu Umpang : umpan Upu : panggilan kehormatan untuk laki-laki Usi : panggilan untuk perempuan Utang : hutan Uwate : paman
V Voor : untuk
W Walang : rumah kecil Warmus : istilah untuk menyuruh orang menghabiskan pekerjaannya sampai selesai, tapi dalam hal terserah orang itu Wate : paman Wer : cuaca
Z Zonder : tanpa
Kadangkala tata bahasa Melayu Ambon sendiri bagi saya sedikit membingungkan, karena terpengaruh dengan tata bahasa ala Eropa (terutama bahasa Portugis dan Belanda), dan juga bahasa-bahasa sekitarnya (termasuk bahasa Tanah). Yah, saya nanti dijurnal coba-coba jelaskan ah, siapa tahu bagi penggemar bahasa Melayu bisa banding-bandingkan... Okey..
Ini kosakata berikutnya
K Ka : ke Kabaresi : Kabong : kebun Kacupeng : kecil, anak kecil Kadera : kursi Kaeng : kain : fabrik Kaka : kakak Kakarlak : kecoa, juga sebutan bagi orang kulit putih Kaki tangan haringan : gesit Kalabor : sembarangan, kurang teratur Kalakuang : kelakuan, sikap Kalo : kalau Kaluyu : ikan hiu Kamareng : kemarin : kelmarin Kamari : kemari Kamboti : Kamong : kalian Kampong : kampung Kampong dalang mulu : memaksa diri berbicara bahasa ibu Kanari : kenari Kanes : kenes Kanjoli : Kantang : istilah untuk kaum penyuka sejenis Kapala : kepala Kapala batu : keras kepala Kapista : atraktif (konotasi negatif) Karikil : kerikil Karja : kerja Karoco : kroco Karosi : kursi Kas : sama dengan artikel ‘ber-, me-‘ Kas’jau : jauhkan Kas’tau : beritahu : bagi tahu Kastunju : menunjukkan Kasana : kesana Katagorang : Katanggisang: mengigau Katong : kita Kawaja : pelit Keku : mengusung di kapal Kepeng : uang Kes : monyet Kewel : mulut besar, bohong Kincing : kencing Kintal : halaman Kio : dong, lah Kler :warna Kodok : kodok : katak Koi : tempat tidur Koliling : keliling Konci : kunci Konci rekeng : akhirnya Konto : kentut Kopo-kopo : kupu-kupu Kora-kora : sejenis kapal besar untuk berperang Kukis : kue Kusu : binatang hantu (tarsius) Kusu-kusu : alang-alang
L La kata : agar Lai : penekanan, sama seperti ungkapan ‘lah’ Laipose : genit : melaram Laki : lelaki Lak’laki : laki-laki Lampu storongking : lampu petromaks Laste : akhir, ujung Lau : perairan dalam Lenso : saputangan Lepe : sendok : sudu Lia : lihat Loga-loga : goyah Loko : memegang/berpegangan Lombo : lembut Lonceng : jam tangan, arloji Lumpa : lompat
M Maar : tapi Macang : macam, seperti Maitua : istri Makang : makan Makang patita : tradisi makan untuk perdamaian Malang : malam Malas : malas Malas tahu : acuh tak acuh Malayu : melayu Malele : meleleh Malu hati : malu Mampos : mampus, mati Mancari : mata pencaharian Mangamu : mengamuk Mangarti : mengerti Mange-mange : Manginte : mengintai Mangkali : barangkali Mangkera : bergerak kesana-kemari Manise : manis, indah Maniso : sibuk/repot Manyau : menyahut Maraju : merajuk Mardika : merdeka Marinyo : polisi Maske : meskipun Masu : masuk Mata jalan : ruas-ruas jalan Mata lomba : jenis lomba Mata ruma : keluarga Matawana: bergadang sepanjang malam Maueng: Meku : Mener : tuan (ditujukan kepada pejabat) Mete-mete : Meti : surut Mir : dinding, tembok Mister : peduli Momo : paman, oom Mongo-mongo : bodoh, ceroboh Mulu : mulut Mulu basantan : mulut berbusa Mulu karepu : sejenis kurap dipinggir mulut Mungare : pemuda Musti : harus
N Nae : naik Nai : naik Nama : nama Nanaku : menandai, nanya Nene : nenek Ngungare: pemuda Nodek : tidak perhatian sedikitpun Nona : panggilan untuk gadis Nona baju merah : istilah utk bunga pesta Nusa : pulau Nyong : panggilan untuk kaum pria Nyong gogos : cowok ganteng
O Oma : nenek Onozel : genit : melaram Ontal : menggulung/melipat Opa : kakek : datuk Orang : orang Orang pake-pake : dukun, bomoh Orang tatua : orangtua Oras : waktu, saat : masa Ortega : orang tenggara (untuk org asal Maluku Tenggara) Ose : kamu Oto : mobil : kereta
P Padede : malu-malu Padis : pedas Paitua : suami Palasi : Paleo : lamban Paling : paling Palungku : tinju Pangkotor : kotor Panta : pantat, bokong Papalele : pengumpul kerang di pantai Papang : papan Par : untuk Parampuang : perempuan Pardidu : tanpa arah Parigi : sumur Parlente : penipu Parsis : persis Pasisou : suka menceritakan kejelekan orang lain Paskali : sangat, sekali Pastiu : bosan Pata : patah, petik Pata cingki : petik cengkeh Patamayang : Patai : pamit Pela gandong : sistem kerukunan antar dua kampung beda agama. Pele : pilih Pende : pendek Pi : pergi Picah : pecah Pohong : pohon Poka-poka : subuh Polo : peluk Pono : penuh Poro : perut Potar : putar Pukol: pukul Pung : punya Punggul : pungut
Dalam hal kosakata, bahasa-bahasa tanah termasuk juga kadang bahasa para pendatang seperti Buton dan sebagainya yang juga mengisi dan memperkaya budaya masyarakat kawasan Ambon dan sekitarnya. Konon istilah-istilah Buton juga masuk melalui istilah-istilah kelautan....
Selamat menghayati bagi anda....anda penutur bahasa Melayu, silahkan cari bandingannya dengan bahasa Kreol Melayu satu ini..
Babang, nyong, momo, tanta, usi, caca...tolong beta lai...ada kata-kata yang beta balong paham akang...terutama yang beta kosong akang itu...dangke..
F Fam : nama keluarga Felem : film Fikir : pikir For/voor : untuk Forok : garpu Fuli : bunga pala
G Gaba-gaba : pelepah sagu Gaco : istilah permainan kelereng, berupa kelereng utama Gagartang : emosi berlebihan Gagawang : antusiasme yang berlebihan Galojo : rakus : gelojoh Gamutu : ijuk Garadus : kardus, dus Gareja : gereja Gargantang : kerongkongan Garobak : gerobak Garser : tumbuh Gemeente : pemerintah : pentadbir Gepe : jepit Gici-gici : Gilih-gilih : terbahak-bahak
H Hahakae : bercanda dengan cerita2 bohong dan lucu Handeke : Haringan : ringan Hayal : bergaya aneh-aneh untuk menarik simpati Hela : angkat, arahkan, tarik Hela kaki : angkat kaki Helahai : mengeluh sambil menarik napas panjang Hidop : hidup Hokmat : berbicara dengan suara keras, tegas dan berwibawa Hole-hole : bohong Hongi : riuh, gaduh Horomate : hormat Hotu : pergi keluar Huele : Teriakan keras dengan irama tertentu tanda kegembiraan
I Iko : ikut Iko-iko : ikut-ikut Ilang : hilang Ilang jalan : kesasar Inga : ingat Ingatang : ingat, perhatikan Inte : intai Isi bagara : cari perhatian Iskakar : pelit Iskola : sekolah Istaga : astaga Istamplas : terminal Istori :cerita Itang : hitam Itang gampang : sangat hitam, mudah hitam
J Jaganti : raksasa Jalang : jalan Jambatang : jembatan Jang : jangan Jantong : jantung Jari mai : ibu jari Jiku : pojok, sudut Jingkal : jengkal Jua : juga, saja Jujaro : anak gadis Jujaro deng mungare : pemudi dan pemuda Jumawa : marah sekali
Pengaruh bahasa-bahasa Eropa sangatlah terasa khususnya bahasa Belanda dan Portugis...kemudian ditambah bahasa-bahasa daerah setempat yang lambat laun punah. Bahasa yang acap disebut bahasa tanah ini masih bertahan didesa-desa muslim di ambon dan sekitarnya.
Ada yang mau nambahin? silakan...
C Cabar : Caca : kakak perempuan (biasa dipakai kalangan muslim) Cakadidi : cari perhatian Capatu : sepatu Capeo : topi Cari kanal : berkenalan Cawaning : cemeti Cecelepu : tidak berdaya, sok sibuk, kelabakan Cengke : cengkeh Cikar : sikat (dalam artian makan dengan selera), contoh cikar ayam : sikat ayam Cimpoa : sempoa Cingki : cengkeh Colo-colo : sejenis sambal Cuki : *sensor* Cukimai : makian kasar
D Dame : damai Dangke : terima kasih Dapa : kena Dar : dari Dara : darah Dara : perairan dangkal Dara nae : naik darah Deng : dengan, dan Diang : diam Doe : uang Dolo : dulu Donci : musik Dong : mereka Dorang : mereka Doriang : durian Dudu : duduk
E Eleng : segan Emper : hampir Ence : panggilan untuk lelaki Cina Enggo : hingga Enggo blek :
Bahasa Melayu Ambon konon bukan berasal langsung dari Sumatera atau Semenanjung, melainkan berasal dari varian Melayu di Pulau Kalimantan. Bahasa ini lebih tepat disebut sebagai Kreol Melayu karena pada awalnya tidak dituturkan penduduk asli dan menjadi bahasa Pidgin alias antar kelompok, yang kemudian jadi bahasa Ibu sehingga disebut Bahasa Kreol Melayu. Disini adalah kata-kata bahasa Melayu Ambon yang saya dapat baik yang saya hafal maupun dari situs-situs warga Ambon dimana-mana....termasuk ambon-manise.com yang lama-lama saya makin suka dengan situs itu...:)
Tete, nene, nyong, non, abang, caca, usi dst.....ini beta kasi akang dolo yang A-B...yang laeng manyusul.... Ada kata-kata yang saya kosongi, berarti belum tahu artinya...tolong dong dibantuin artinya. Kalau ada yang keliru tolong dibenahi...hehehehe
Dangke banya..
A Abang : kakak laki-laki (dipakai kalangan muslim) Ada : ada, sedang Ade’ : adik Ado : aduh Aer : air Aer kabor : air keruh, juga ungkapan untuk suasana kacau Akang : ….kan/ it dalam bahasa Inggris Akor : baik, rukun Ale : kamu, anda Aleng : lamban Alus : halus Amanisal : keranjang tempat mengumpulkan ikan Amato : salam Ambon kart : ambon KTP Ambong : ambon Ampas tarigu : sejenis kue Amper : hampir Amplov : amplop Ampong : ampun Ana : anak : budak Anana : anak-anak : budak-budak Anana ucing : anak muda Angka : berangkat Antua : beliau Apa : apa Apalai : apa lagi Apapa’ : apa-apa Areng-areng : hanya Arika : gesit Arika : sejenis burung hutan Asida : sejenis kue Aso : ikut campur Ator : atur
B Ba’aso : mencampuri Babengka : sejenis kue Babengkeng : mengomel sambil bersungut-sungut Bacarita : bercerita Bacico : sikap tidak tenang, gelisah Badaki : berdaki, kotor Badang : badan Badansa : berdansa Badara : berdarah Badendang : berdendang Badepa : melangkah pindah-pindah Badiang : diam Badonci : bermusik Bae : baik Bagara : bergerak Bahasa tana : bahasa daerah, logat tempatan. Namun juga untuk sebutan bahasa kaum terasing di pedalaman Baileo : balai Bajalan : berjalan Bajualang : berjualan Bakalai : berkelahi : bergaduh Bakanda : selingkuh Bakanor : berbicara sambil bersungut2 Bakasang : terasi : belacan Bakubae : damai Bakudapa : berjumpa Baku malawang : melawan, bertengkar Bakupolo : berpelukan Balaga : berlagak Balagu : sikap antara suka dan tidak suka Bale : balik Bale muka : balik muka, memalingkan muka Balisah : gelisah Baloleng : sama dengan baronda Balumpa : melompat Bamaki : memaki Banang : benang Bandera : bendera Bangka : bengkak Baniang : semacam baju Bapa : bapak Bapa raja : kepala kampung, kepala desa Bapili : memilih : mengundi Barapa : berapa Barenti : berhenti Baribot : ribut, gaduh Barmaeng : bermain Baronda : jalan-jalan tanpa tujuan Basar : besar Basena : senang-senang Basena batunang : orang berpacaran Basisou : suka membicarakan kejelekan orang lain Basudara : saudara Batareak : berteriak Batarewas : unjuk rasa, teriak Batimbang : menimbang Batimbang sabala : berat sebelah, pilih kasih Baterek : mengganggu, meledek Batul : betul Bawarmus : memerintahkan sesuatu, tetapi terserah pada yang disuruh Bembeng : bimbing Bendar : kota : bandar Beta : saya Biden : berdoa Bijiruku : Biking : bikin, membuat Bisi-bisi : bisik-bisik Blakang : belakang, punggung Bobou : bau Bodo : bodoh Bodok : sangat bodoh Boslak : Botol : botol Botol manci : sejenis setan Bu : bung (panggilan untuk lelaki) Buat tahan : mempertahankan Bulang : bulan Bulang trang : bulan purnama Bumbungan kapala : ubun-ubun Burong : burung Burong kondo : burung bangau Burong paikole : burung wagtail Burong Pombo : burung merpati Busu : busuk Busu-busu : jelek-jelek
Sebenarnya saya sudah lama penasaran dengan adanya komunitas berbahasa Melayu di Pulau Dewata ini. Ada satu referensi dari Depdikbud keluaran tahun 79 yang mendeskripsikan tentang bahasa Melayu dikawasan ini, hanya saja saya cari-cari lagi, buku tersebut sudah tidak ada. Hanya ada di UNAIR Surabaya. Yang pernah saya baca tentang bahasa Melayu Bali ini adalah, konon masyarakat Melayu asal Terengganu, Pahang dan Pontianak datang ke pulau Bali untuk berdagang pada abad ke-18, dan kemudian bermukim di wilayah sekitar Sungai Loloan (yang akhirnya menjadi nama kampung mereka), dan sekarang masuk kabupaten Jembrana, Bali bagian barat tepatnya kampung Loloan Barat dan Loloan Timur, Negara. Mulanya Islam datang ke Jembrana pada abad ke-17 dibawa pedagang-pedagang Bugis, atau pelarian Bugis yang ingin menghindari penangkapan VOC masa itu. Ditambah pada abad 18 adanya perantau2 asal Pontianak dan Semenanjung Melaka yang bermukim juga disana.
Kebetulan saya bertemu dengan salah satu mahasiswa saya yang asal Negara dan rumahnya tidak jauh dari Loloan. Dia keturunan Madura, namun sudah beberapa generasi berada di Bali, bahkan keluarga ibunya tinggal di kampung Loloan yang dikenal masih mempertahankan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-harinya, dan konon merupakan salah satu kampung Islam tertua di pulau Bali.
Bahasa sehari-harinya -menurut mahasiswa tadi- adalah bahasa Melayu, bahkan anak-anak kecilnyapun kurang pandai berbahasa Indonesia. Penduduknya umumnya beragama Islam sehingga berbeda dengan kampung-kampung sekitarnya yang mayoritas Hindu. Berikut dia juga memberi saya beberapa kosakata bahasa Melayu setempat yang ternyata masih tidak begitu beda jauh dengan bahasa Melayu lainnya. Dan masih dianggap sebagai bagian dialek Melayu. Berikut kata-kata yang berhasil saya cukil dari dia.
Kata ganti orang Saya - awak Kamu - kau Dia - die (huruf e dibaca lemah) Mereka - merekA Kita - kiTA Mereka tidak pernah menggunakan kata 'saya', dan 'awak' itulah yang sering dipakai. Sedangkan untuk menyebut 'kau' pada orangtua atau yang lebih dituakan, mereka menggunakan sebutan 'Bapak', ' Mak' dst.
Kata tanya Siapa? - siape? Bagaimana? - gi'ane? Mana? - mane? Kapan? - bile? Kenapa? - na' ape? Ya - ye Tidak - gak
Kekerabatan Ayah - bapak Ibu - Mak Kakak laki-laki - abang, akak Kakak perempuan - akak Kakek - embah Nenek - embah Paman - paman Bibi - bibik Sepupu - misan
Kata-kata pengaruh bahasa Bali Marah - gedeg (huruf e dibaca lemah) contoh : Gedeg le awak sama kau (aku marah denganmu)
Hebat - aeng (e dibaca seperti beca) contoh : Aeng le kau! (Hebat sekali kamu)
Le : penyangatan, huruf 'e' dibaca seperti kata beca
Kalimat lainnya Saya mau pergi ke sekolah - awak nak pergi ke sekolah Jangan bermain disitu - jangan sini kau mainan! Kamu hebat sekali - aeng le kau! Aku pukul kamu - ta' antem kau! Aku marah padamu - gedeg le awak sama kau Apa kabar? - Gi'ane kabar kau?
Itu hanya sedikit kata-kata yang bisa saya korek dari dia, dan mungkin pada akhir tahun saya insyaallah mau kesana untuk menyelami lebih dalam bahasa Melayu Loloan ini. Ciri khas lainnya menurut narasumber tadi, mereka melafalkan huruf 't' sebagaimana layaknya orang Bali (terkenal dengan 't' nya yang pekat). Sedangkan dengan masyarakat luar mereka, mereka menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Bali dengan logat yang konon kaku.
Sekian dulu gambaran bahasa Melayu Bali ini...semoga menjadi wawasan baru. Belum banyak yang bisa saya jabarkan tentang bahasa Melayu Loloan yang dituturkan oleh masyarakat keturunan Melayu di Bali ini. Insyaallah akan saya tambahkan diwaktu2 mendatang.
Bambang Priantono
230707 (Kampung Loloan berada di kota Negara dalam peta)
| |