Indonesia, Dangerously Beautiful!!!!

Bambang's posts with tag: dialek melayu

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag dialek melayu

Menurut Fernandez (2007), bahasa Melayu sudah sampai ke kawasan timur Indonesia sebelum kedatangan Portugis. Migrasi Melayu secara bergelombang mulai terjadi pada abad ke-3 hingga ke-5, dan puncaknya terjadi pada abad ke-7, tepatnya masa kejayaan kerajaan Sriwijaya. Setelah kedatangan Portugis pada abad ke-16 sampai abad ke-18 di kawasan timur Indonesia (KTI) bertemulah dua kekuatan bahasa yang berimbang, yakni antara bahasa Melayu dan bahasa Portugis yang kemudian melahirkan lingua franca yang kuat dan mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu di KTI itu sendiri.

Seiring dengan perdagangan dan penyebaran agama Katolik oleh Portugis, terbentuklah suasana komunikasi yang saling berdampingan. Bahasa Melayu dapat bersanding dengan bahasa Portugis dan inilah yang mengakibatkan bahasa Melayu disana mempunyai perbedaan dengan saudara-saudara Melayunya yang lain.

Melayu Indonesia Timur (menurut Adelaar dan Prentice, 1996) terlihat berbeda dengan bahasa Melayu di Kawasan Barat Indonesia (KBI), bahkan dengan bahasa Melayu di negara lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh persamaan sejarah yang dimiliki bahasa-bahasa Melayu disana. Fitur-fitur khas Melayu Indonesia Timur ini adalah sebagai berikut :

1. Konstruksi posesif (kepemilikan) yang terdiri atas pemilik (pronomina)+punya + obyek atau benda yang dimiliki.

Contoh :

Kita pe buku (Manado)

Beta pung buku (Ambon, Kupang)

Sa pu buku (Papua)

  1. Pronomina jamak berasal dari pronomina tunggal + orang

Contoh :

Kita + orang = kita

Menjadi

Torang (Manado), katong (Ambon, Kupang), kitorang/kitong (Papua), kotong

(Kupang), katorang (Banda)

Dia + orang = mereka

Menjadi

Dorang yang selanjutnya disingkat menjadi dong

Sering juga nama orang ditambahkan dengan dong seperti

“Susi dong pung kaka” (biasanya terjadi di Ambon)

  1. Retensi ter- dan ber-sebagai satu-satunya afiks Melayu asli yang produktif.

Ter menjadi ta contoh tersangkut menjadi tasangko

Terbuka menjadi tabuka

Ber menjadi ba, mirip dengan afiks pada bahasa Minang dan Banjar, tapi juga dalam bahasa Melayu lama

Contoh

Berkelahi dengan bakalae

Bertanya dengan batanya

Me menjadi ma

Contoh

Menangis menjadi manangis

Menari menjadi manari

  1. Ada sebagai pemarkah Melayu tentang eksistensi, disini menunjukkan keadaan progresif.

Contoh :

Andi ada tidur : Andi sedang tidur

Ali ada? Ada…..ada pi : Ali ada? Ada…sedang pergi

  1. Bentuk-bentuk reduksi dari kata ganti penunjuk, ini dan itu mendahului kata benda dan berfungsi sebagai penentu.

  2. Penggunaan dari reduksi bentuk pergi yang selain sebagai kata kerja, juga berfungsi sebagai preposisi yang berarti ‘menuju’

Contoh :

Pergi menjadi pi atau pigi

Pi ka Susi dong pung kaka

Pi makang : pergi makan

  1. Konstruksi-konstruksi kausatif yang terdiri dari auksiliari kasi/beri atau bikin/buat ataupun dapa/kena/ter/di dan verba pusat.

Contoh :

Kasi tunjuk/ kastunju : memberi petunjuk

Kasi tau/ kastau : memberitahu

Bikin bae/ beking bae : memperbaiki

Bikin susa/ beking susa : menyusahkan/ buat susah

Dapa bunuh : dibunuh

Dapa pukul : terkena pukul

Diduga ciri-ciri yang diwariskan secara reguler tersebut merupakan ciri-ciri dari Melayu Klasik yang telah hilang.


Ciri-ciri lainnya antara lain :

  1. Sufiks kan yang berakar dari akan, dan diduga berasal dari varian Melayu Kalimantan yang mengalami nasalisasi di dialek Manado dan Ambon menjadi akang (yang juga bermakna seperti ‘it’ dalam bahasa Inggris)

Contoh : Taru akang disitu : taruh benda itu disitu

                Kita inga tatawa akang : saya pernah menertawakan

  1. Penggunaan pronomina beta, yang hanya dipakai oleh raja di kawasan barat untuk makna saya, justru menjadi ungkapan sehari-hari dalam dialek Ambon dan Kupang. Sedang di Manado menggunakan kita, sedang Papua menyingkat saya menjadi sa.

  2. Nasalisasi atau penyengauan kata kerja berakhiran –n menjadi -ng, dan berlaku dalam dialek Manado, Ambon, Ternate pada khususnya. Sedangkan akhiran n utuh berlaku pada dialek Kupang dan Papua.

Contoh

Bikin menjadi biking atau beking atau bekeng

Makan menjadi makang

Jalan menjadi jalang

Kasihan menjadi kasiang

Tuan menjadi tuang

Tapi dengan tidak menjadi dengang, melainkan deng

  1. Untuk penyangatan, biasanya digunakan kata batul, skali, mati atau sampe

Contoh :

Nyong Ba gaga batul e! : Abang Ba gagah sekali! (Ambon)

Kita ada durian pe okii skali! : Saya punya durian yang ukurannya besar sekali. (Manado)

Tu nona cantik mati! : Gadis itu cantik sekali (Kupang)

Ko sombong sampe : Kamu sombong sekali (Papua)

  1. Penggunaan baku untuk menyatakan saling…satu sama lain

Contoh :

Bakudapa : bertemu

Bakupolo : berpelukan

Bakusedu : bercanda, berkelakar

Bakubae : berdamai

Bakupukul : saling memukul

Bakuhantam : saling menghantam

Bakuveto : saling adu mulut

Dimana baku ini juga sudah masuk menjadi bagian integral dalam bahasa Indonesia.

  1. Reduksi alias penyingkatan menjadi hal yang biasa dalam Melayu Indonesia Timur ini. Misalnya sudah menjadi su atau so (Manado), juga menjadi ju atau jo, dengan menjadi deng, jangan menjadi jang, saja menjadi sa, coba menjadi co dan banyak lagi.

Pengaruh Portugis, kemudian Belanda yang kuat memberikan warna dalam kosakata-kosakata Melayu Indonesia Timur, dan jumlah kosakata Portugis di Melayu Indonesia Timur lebih banyak daripada yang ditemukan di bahasa Melayu Kawasan Barat. Pengaruh serapan Portugis paling kuat dirasakan dalam bahasa Melayu Larantuka (Flores, NTT), sedangkan pada dialek Melayu Papua dan Manado, kosakata Portugis tidak sekuat pada Larantuka.

Bahkan Melayu Papua sendiri cenderung paling dekat dengan bahasa Indonesia baku dibandingkan dengan varian Melayu lainnya.


Kesamaan sejarah telah menyebabkan perkembangan bahasa Melayu di Indonesia Timur berbeda dengan di kawasan barat, termasuk diantaranya ciri linguistik yang tidak dimiliki oleh kawasan barat itu sendiri. Bentuk-bentuk klasik Melayu yang sudah hilang dalam bahasa Melayu kawasan barat masih dipertahankan di kawasan timur.


Sumber :

Adelaar, K. Alexander (1994); Collins, James T (2005); dan Fernandez, Inyo Yos (2006)

Melayuonline.com

Berbagai sumber


Bambang Priantono

150508



Dikarenakan Indonesia Timur pada dasarnya bukan wilayah asli penutur bahasa Melayu dan dimasa lalu bahasa ini menjadi bahasa pasaran, maka sudah barang tentu pengaruh-pengaruh dari berbagai wilayah termasuk bahasa lokal dan asing ikut campur dalam proses pembentukannya.

Sebenarnya jika perlu diulang, bahasa Melayu Indonesia Timur terbagi atas beberapa varian, yakni :

  1. Melayu Manado

  2. Melayu Makassar

  3. Melayu Ternate

  4. Melayu Bacan

  5. Melayu Ambon

  6. Melayu Banda

  7. Melayu Kupang

  8. Melayu Larantuka, dan

  9. Melayu Papua

Ciri khas yang sering muncul dalam bahasa Melayu Indonesia Timur secara umum adalah sebagai berikut :

  1. Penyingkatan kosakata, baik yang berakar dari bahasa Melayu sendiri ataupun serapan bahasa-bahasa sekitarnya.

  2. Tata bahasa yang banyak mirip dengan tata bahasa-bahasa Eropa seperti rumah saya menjadi saya punya rumah.

  3. Kekunoan (archaism), dimana beberapa aspek bahasa Melayu lama yang sudah tidak dipakai diasalnya masih terpakai di kawasan Indonesia Timur.

Dan perlu diperhatikan, sebagian pakar berpendapat kalau bahasa Melayu Indonesia Timur tidak diturunkan langsung dari Sumatera atau Semenanjung, melainkan konon berasal dari varian yang ada di Pulau Kalimantan dan tersebar melalui perdagangan ataupun misi Kristen dimasa silam. Nah, berikut ini kita membandingkan antara Melayu Manado, Ambon, Kupang dan Papua dimulai dari kata dasar terlebih dahulu.


Ya

Manado, Ambon : iyo

Papua, Kupang : iya


Tidak

Manado : nda, nyanda

Ambon : seng (konon dari kata sem dalam Portugis yang arti aslinya ‘tanpa’), tra

Kupang : sonde (konon dari kata zonder dalam bahasa Belanda atau disingkat son)

Papua : tra


Saya

Manado : Kita

Ambon : Beta (aslinya penyebutan diri bagi bangsawan Melayu, tapi disana jadi sehari2)

Kupang : Beta (kadang-kadang disingkat bet)

Papua : Sa (singkatan dari saya)


Kamu

Manado : ngana

Ambon : Ose (dari ‘voce’, Portugis), dengan varian se atau os

Kupang : lu (pengaruh Cina)

Papua : ko (kau), kam (kamu)

 

Dia

Manado, Ambon, Kupang : dia, antua (beliau)

Papua : dia, de


Kita/Kami

Manado : torang

Ambon, Kupang : Katong

Papua : kitorang, tong, kitong


Kalian

Manado : kamorang

Ambon, Kupang : kamong

Papua : kam


Mereka

Manado : dorang

Ambon, Kupang, Papua : dong


Suami/kekasih

Manado, Kupang, Ambon, Papua : paitua

(gabungan dari akar kata pãe (port) dengan tua)


Istri/ kekasih

Manado, Kupang, Ambon, Papua : maitua

(gabungan dari akar kata mãe dengan tua)


Rumah Saya

Manado : kita pe rumah

Ambon, Kupang : beta pung rumah

Papua : sa pu rumah

Nanti akan disambung bagian berikutnya.....

 

Bambang Priantono
020508


Blog EntryBagaimana Bahasa Melayu Logat Papua Itu?Apr 29, '08 7:23 PM
for everyone
Sebagai lingua franca, bahasa Indonesia/Melayu dipakai dengan luas dibumi Papua. Dan uniknya, sejak tahun 1926 bahasa Melayu sudah dianggap sebagai bahasa pemersatu dikawasan paling timur negeri ini. Bahasa Melayu Logat Papua banyak dipengaruhi bahasa sekitarnya termasuk pengaruh bahasa Melayu Ambon yang masuk melalui kawasan kepala burung (Papua Barat) dan menyebar sampai ke pelosok-pelosok.

Dalam beberapa aspek, bahasa Melayu Papua banyak kemiripan dengan Ambon, Manado dan Kupang. Namun diaspek lainnya ada juga ciri yang tidak dimiliki daerah lainnya, tapi paling tidak lebih cepat dipahami daripada dialek Melayu Ambon sendiri. Berikut ini ada beberapa contoh kosakata Melayu Papua yang diambil dari situs yaswarau.com

Anana : anak-anak/ teman-teman (yang sebaya dengan penutur)
Contoh : Tadi sa deng anana tong pi ke mall. (tadi saya dan anak2/teman2 pergi ke mall)
Ba : ber, me, be (awalan)
Contoh : sa baganti tempat duduk deng dia. (saya berganti tempat duduk dengan dia)
Bae/baek : baik
Contoh :Kaget tra bae (kaget sekali)
Baku : saling
Contoh :Dong dua baku marah (mereka berdua saling marahan)
Bokar : besar
Contoh : Saya dapat ikan bokar sekali (saya dapat ikan besar sekali)
Cakar, cabut : lari, menghilang, menghindar
Contoh : Pace de lia mace datang dan de cabut sudah mo (ketika melihat wanita itu datang menujunya, laki-laki itupun menghindar).
Co : coba
Contoh : We! Co kam diam dulu ka! (Hei! Coba kalian diam dulu dong!)
De : dia
Contoh : De lagi sendiri
Deng : dengan
Contoh : Sa deng ko (saya dengan kamu)
Dong : mereka
Contoh : Dong tra marah ko (mereka tidak marah denganmu)
Jang : jangan
Contoh : Jang ko marah dia (jangan marahi dia)
Ka : akhiran kah
Contoh : Ko su makan ka? (kamu sudah makankah?)
Ka : atau
Contoh : ko pilih hitam ka putih? (kamu pilih hitam atau putih?)
Ka : mohon (please)
Contoh : Ko jang marah saya ka (jangan marahi saya ya)
Kam : kalian, kamu
Contoh : Jang kam marah ka
Kas : kasih, beri
Contoh : kas tau dia (beritahu dia)
Kitorang, kitong: kita semua
Contoh : Kitong ke sekolah
Ko, koi : kamu
Contoh : ko mo pigi mana?
Komin : penduduk asli Papua
Contoh : Pace dan mace komin makan pinang (lelaki dan perempuan asli Papua makan pinang/gambir).
Lia, liat : lihat
Contoh : Ko tra lia ka? (kamu tidak lihat ya?)
Lipa : pukul
Contoh : Ko mo dapat lipa ka? (kamu mau dipukul ya?)
Mace : mama, perempuan
Contoh : Mace, ko mo pi mana? (kamu/perempuan mau pergi kemana?)
Maitua : pacar/istri
Contoh : sa pu maitua (Istri/pacar saya)
Mo : mau, hendak
Mo : pelengkap ungkapan
Contoh : tra mandi saja mo (nggak mandi saja ah)
Molo : menyelam
Contoh : tadi sa pi molo di laut (tadi saya menyelam dilaut)
Ne : ungkapan kekaguman/keheranan/terkejut, dibaca mirip kata ‘ne’ dalam bahasa Jepang
Contoh : Ne…barang ini bongkar sampe! (Wow, barang ini besar banget)
Paitua : pacar (lelaki), orang tua, suami
Contoh : ko pu paitua sapa? (pacarmu siapa?)
Paku : pukul, hajar, sikat
Contoh : Pace de paku sa dar muka langsung bintul (Dia memukul saya dimuka hingga bengkak) 
Pangaru : Hebat
Contoh : wan..ko paling pangaru...( ..kawan..kamu paling hebat..)
Pasiar : jalan-jalan (pesiar)
Pele : memagari, menutup
Contoh : Kam pele tempat itu sudah! (kalian tutup saja tempat itu)
Pelei : heran, bingung, terkejut
Contoh : Pelei! Kam tidak kenyang ka? (Heran! Kamu nggak kenyang ya?)
Pi, pigi : pergi
Pica : hancur, benjol
Contoh : Denias! Ko mo pica ka? 
Pu : punya
Contoh : sa pu kepala sakit (kepala saya sakit)
Sa : saya
Sampe : sampai, tiba, berlebihan, sangat
Contoh : De su sampe jam dua siang (dia sudah sampai jam dua siang), ko sombong sampe (kamu sombong sekali)
Su : sudah
Contoh : sa su maafkan ko
Ta: ter (awalan)
Terko : jatuh
Tra : tidak
Contoh : ko tra makan ka? (kamu tidak makan?)
Trada : tidak ada
Tralaku : jelek, tidak baik
Contoh : Ko pu sifat paling tralaku e…(sifatmu jelek sekali)
Trapapa : tidak apa-apa
Contoh : trapapa, jang ko marah

Sudah, itu saja yang didapat....terima kasih buat yaswarau.com 
Bambang Priantono
300408

Category:Other
Melayu Kupang adalah varian Melayu Kreol yang dituturkan oleh masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya (propinsi Nusa Tenggara Timur), yang mana pada masa awalnya merupakan Lingua Franca antar kelompok yang membentuk kota Kupang ini sejak masa penjajahan Belanda, baik etnis Timor (Uab Meto), Tetun, Rote, Ndao, Sabu, Flores, Alor, Solor, Arab, Jawa, Cina, Bugis hingga Portugis dan Belanda, disatukan oleh varian Melayu ini..

Dari segi tata bahasa, Melayu Kupang identik atau serupa dengan Melayu Ambon maupun Manado. Namun ada kosakata-kosakata berbeda yang tidak ada di dua varian tadi...karena kuatnya pengaruh bahasa seperti Rote-Sabu maupun Belanda didalamnya...
Nah, bagi penutur bahasa Indonesia, tidaklah sulit untuk memahami tutur kata orang Kupang ini...bahkan bahasa Melayu Kupang kian merata diseluruh Nusa Tenggara Timur dengan adanya media-media yang memfasilitasi Melayu Kupang, seperti misalnya kolom 'TAPALEUK' di Pos Kupang yang sangat menarik...

Nah, ini sebagian dari kosakata Melayu Kupang, bagi penutur Melayu dimanapun, silakan periksa sama dan bedanya...

A
Ada : ada (selain keberadaan juga menunjuk kondisi sekarang)
Adi : adik
Adi nona : adik perempuan
Adu : aduh
Aer : air
Ama : bapak
Ame : ambil
Ana : anak
Ana kici : anak kecil
Andia : dia
Angka : angkat
Angka lagu : putar lagu
Ator : atur
Ator bae-bae : diatur saja
Awii : ungkapan kagum, heran

B
Ba’iu : jual mahal, bertingkah
Babalas : berbalas
Babaris : berbaris
Babunyi : berbunyi
Bae : baik
Bafoe : sibuk
Bai : baik
Bajalan : berjalan
Bajual : berjualan
Bakalai : berkelahi
Bakanal : berkenalan
Bakawan : berkawan
Bakores :
Baku liat : berpapasan
Balogat : cara bicara, logat
Balom : belum
Balurus : bersikap lurus
Bamaki : memaki
Bamasak : memasak
Baomong : ngomong
Banya : banyak
Banyanyi : menyanyi
Bapa : bapak
Bapanas : kepanasan
Baptua : dia, beliau
Bapukul : memukul
Barabut : berebut
Barapa : berapa
Baribu : beribu
Barita : berita
Baro'o :
Baruba : berubah
Basayang : saling menyayangi
Basong : kalian
Batabrak : menabrak
Batanya : bertanya
Batriak : berteriak
Batul : betul
Bauji : menguji
Be : saya (potongan dari beta)
Begena? : bagaimana
Bekin : bikin
Bepung : saya punya
Besar : besar
Beta : saya
Betong : kita
Bingung bodo : bingung betul
Bodok : bodoh, kurang tahu, belum tahu
Bokor : baskom
Bosong : kalian
Bini : istri
Bu : bung
Bunti :
Bunu : bunuh

C
Cari hal : cari perkara
Cepur : basuh
Cerek : ketel, ceret
Cuka minyak! : makian halus
Cules : tidak mau membantu

D
Da! : halo, mari
Dadiok :
Daging se'i : makanan khas Kupang terbuat dari daging
Dar : dari
Darmana : darimana
Deka : dekat
Deka-deka : dekat-dekat
Deng : dan, dengan
Dia : dia
Do : dulu
Do’i : cungkil, gali
Doi : duit, uang
Dolo : dulu
Dong : mereka

E

F
Falores : pulau Flores
Fam : nama keluarga
Frek : acuh, cuek

G
Gamatar : gemetar
Gara-gara : perkara
Glas : gelas
Gonceng : bonceng (sepeda motor)

H
Habok : pukul
Hamper : hampir
Harbabiruk :
Harim :
Hela : mengarahkan

I
Iko : ikut
Ina : ibu, nyonya
Itam : hitam
Itu su! : begitulah
Iya toh? : kan?

J
Jalan datang : mendekati, mendatangi
Jamput : jemput
Jang : jangan
Jang sampe : semoga tidak, mengawali praduga
Jao : jauh
Jeh : ungkapan keheranan, tepat, pas
Ju : juga

K
Kabas : kibas
Kaen : kain
Kake’ek : pelit
Kamaren : kemarin
Kambale : kembali
Kambali : kembali
Kanapa : kenapa
Karas : keras
Karmana : bagaimana
Karna : karena
Kasasar : kesasar
Kasetenggal : tinggalkan
Kasibeli : belikan
Kasihidup : hidupkan
Kasijatuh : kerjai
Kasimati : matikan
Kasitau : beritahu
Kas lap : mengepel
Katong : kita
Katumu : ketemu
Kawen : kawin
Ke : seperti, macam
Kentara : nampak
Kerbo : kerbau
Ketong : kita
Kinyang : kenyang
Koh : ungkapan mengakhiri pertanyaan,
Konco : teman
Konto : kentut
Konyadu : ipar
Korsi : kursi
Kotong : kita
Kurus : cabai

L
Lae : lagi
Lai : lagi
Laklaki : lelaki
Lam-lama : lama-lama
Lancar omong : terus bicara
Laru : sejenis minuman keras
Lauk : lauk pauk
Lebe : lebih
Lebi : lebi
Lia : lihat
Lonceng : jam tangan, arloji
Lu : kamu
Lu pung mau : salah sendiri

M
Ma : tapi
Main gila : mengganggu
Maitua : istri, nyonya
Malas tau : cuek
Maloi : mencari
Mama : ibu
Mamati : bentuk penyangatan, contoh : andia su talalu jahat mamati
Mamtua : dia (perempuan)
Mangamok : mengamuk
Mangkali : barangkali
Manyalak : menyalak, menjadi-jadi
Mara : marah
Masala : masalah
Maso : masuk
Mati : mati, sangat
Mati tadudu : mati berdiri
Meloi : mengintip
Mete : begadang
Minom : minum
Mo : mau
Muka : wajah
Musti : harus

N
Na : lah, nih
Nae : naik
Naraka : neraka
Ngali : bodoh
Nona : mbak, perempuan
Nyadu :
Nyong : mas, lelaki

O
O : ya…contoh “jang mara o” (jangan marah ya)
Olok : ejek
Oma : nenek
Omong kosong : bohong
Ontong : untung
Opa : kakek
Oto : mobil

P
Padhal : padahal
Pagawe : pegawai
Pajabat : pejabat
Pake : memakai
Pakian : pakaian
Pamalas : malas
Pamarenta : pemerintah
Pange : panggil
Pangko : pangku
Panta : pantat, bokong
Pantat : pantat, alat kelamin perempuan (kasar)
Papoko : pukul
Parmisi : permisi
Parsetan : persetan, cuek aja
Pasawat : pesawat
Pasiar : pesiar, jalan-jalan
Pata : patah
Payrasaan : malu, perasaan
Penu : penuh
Pi : pergi
Pi salamat : memberi selamat
Picah : pecah
Pigi : pergi
Pikiran : sedang susah, melamun, punya masalah pribadi
Pimana : pergi kemana, mau kemana
Po’a : tuang
Poi : wajah buruk, buruk rupa
Pokrol :
Penyok : bengkok, wajah buruk
Puka meyong : makian halus
Puka pelo : makian halus
Puki : alat kelamin perempuan
Puki mai : makian kasar
Pung : punya
Purak : jelek, buruk
Putar balik : tidak terus terang

R
Raba-raba : mengira-ngira
Rebis :
Roko : rokok
Ruba : ubah
Ruma : rumah

S
Sa : saja
Sadiki : sedikit
Sakola : sekolah
Sam : sama
Sambarang : sembarangan, semaunya
Sambel : sambil
Sanang : senang
Sapa : siapa
Sasando : alat musik petik khas Rote
Selamat! : (tidak usah pakai pagi, siang, sore dst)
So’a : dapat
Sodara : saudara
Son : tidak (kependekan sonde)
Sonde : tidak
Sonde toe : tidak peduli sekitar
Sono : nyenyak
Stel : buat, atur
Strat : jalan
Su : sudah
Sumendua : sudah mendua
Sun : cium
Surasa! : rasakan!
Susa : susah
Syalom : salam

T
Tacu : wajan
Taku : takut
Takuju : terkejut
Talalu : terlalu
Taman : teman
Taman konco : teman karib
Tampa : tempat
Tampias : tempias
Tana : tanah
Tapaleuk : pergi, bepergian
Tartau : tidak tahu
Tenggal : tinggal
Tete manis : Tuhan
Ti’i : bibi
Tidor sono : tidur nyenyak
Tidur : tidur, menginap
Togor : tegur
Toke : gosok rambut dengan tinju, ketok
Toki : ketok, pukul
To’o : paman
Turu tere :

V
Vermaak : permak, dirubah

W
Wah : lho
Weh : lho


(Gambar : Pulau Timor)


ReviewReviewReviewReviewReviewKAMUS MELAYU AMBON-INDONESIA (AKHIR)Aug 3, '07 5:47 AM
for everyone
Category:Other
Yah, demikian sekelumit kamus maya bahasa Melayu Ambon dan Indonesia yang bisa saya persembahkan bagi anda semua...
Hanya sekedar pulungan kata, belumlah sempurna....
Dangke banya voor bu, usi deng laengnya yang su kastau beta banya...

R
Rai : kira
Rai-rai : kira-kira
Rame : ramai
Rasa : rasa
Rekeng : hitung
Rembeng : jinjing

S
Sabala : sebelah
Sabarang : sembarang
Sadap : sedap
Sadiki : sedikit
Sagala hari : sepanjang hari
Sageru : minuman keras lokal
Sahua : sahut
Sajo : sejuk
Sakola : sekolah
Salam : Islam
Salamat : selamat
Salamate : salam
Samangat : semangat
Sambong : sambung
Sambunyi : sembunyi
Samonti :
Samua : semua
Sanapang : senapan
Sangko : sangkut
Saniri :
Sarani : Kristen
Sasa : sesak
Satambong : seabrek, aneka macam
Saule : lelaki muda yang tampan
Seng : tidak
Sibu-sibu : sepoi-sepoi
Sirang : siram
Sio! : wahai!
Sirang : siram
Skakar : pelit
Skrek : kaget
Slaber : membersihkan, menyapu
Slak : gaya
Slaken :
Smerlap :
Snup : jajanan
Soa-soa : biawak
Sodara : saudara
Sodara piara : saudara angkat
Soldadu : serdadu, pasukan
Sombayang : sembahyang
Sondor : tanpa, tidak
Sono : nyenyak, tidur
Sorong : dorong
Spook : hantu, cerita tidak masuk akal
Sprei : kain kasur
Spul : bilas pakaian (bilas akhir)
Stell : gaya, pasang
Strap : hukuman, sanksi
Strat : jalan
Su : sudah
Suanggi : guna-guna, pengguna ilmu hitam
Sumbur : sembur
Sungga : pisau, parang
Sungga-sungga :

T
Ta’urung-urung : beriringan, ramai-ramai
Tabadiri : berdiri tegak
Tabal : tebal
Tabaos : berteriak/memberitahukan
Tabea : hormat
Tacigi :
Tado-tado :
Tagae : terkait
Tagal : karena
Tagal cinta pung tahela : akibat cinta (biasanya berkonotasi negatif)
Tahang : tahan
Tajangke : terjangkit, terkena
Takikis : terkikis
Tako : takut
Takojo : terkejut
Talalu : terlalu
Talamberang: tak tentu arah
Talanjang : telanjang
Talapas : terlepas
Tali hulaleng :
Talinga : telinga
Talipon : telepon
Talucu : tertelan, meluncur
Tamang : teman
Tampa : tempat
Tampias : tempias, keluar, terpercik
Tana : tanah, negeri
Tandang : tending
Tanta : tante, bibi : makcik
Tanuar :
Taong : tahun
Tapaku : terpaku
Tapalang : kursi panjang dari pelepah sagu
Tar : tidak
Tarada : tidak ada
Tarbae : tidak baik
Tarlama : nanti
Taro : taruh
Tasangko : tersangkut
Tasirang : tersiram
Tata : bapak
Tatidor : tertidur
Tau : tahu
Tegel : ubin
Tempo : waktu
Testa : kepala
Tete : kakek : datuk
Tete manis : Tuhan
Tetenga : penyu
Tidor : tidur
Tikang : tikam
Tingkai : sombong, angkuh
Tipu : tipu
Tipu-tipu abu nawas : akal bulus
Toro : turut
Totobuang : jenis alat musik khas Maluku
Totoruga : penyu
Toki : pukul, getok, ketok
Tra : tidak
Tua-tua garongkong : tua bangka
Tuang : Tuan/Tuhan
Tuangala : Tuhan
Tumbu : tumbuk, pukul
Tunju : tunjuk

U
Ua : paman
Uang : uang
Ujang : hujan
Ulu : hulu
Umpang : umpan
Upu : panggilan kehormatan untuk laki-laki
Usi : panggilan untuk perempuan
Utang : hutan
Uwate : paman

V
Voor : untuk

W
Walang : rumah kecil
Warmus : istilah untuk menyuruh orang menghabiskan pekerjaannya sampai selesai, tapi dalam hal terserah orang itu
Wate : paman
Wer : cuaca

Z
Zonder : tanpa

ReviewReviewReviewReviewReviewKAMUS MELAYU AMBON-INDONESIA (K-P)Aug 2, '07 6:04 AM
for everyone
Category:Other
Kadangkala tata bahasa Melayu Ambon sendiri bagi saya sedikit membingungkan, karena terpengaruh dengan tata bahasa ala Eropa (terutama bahasa Portugis dan Belanda), dan juga bahasa-bahasa sekitarnya (termasuk bahasa Tanah). Yah, saya nanti dijurnal coba-coba jelaskan ah, siapa tahu bagi penggemar bahasa Melayu bisa banding-bandingkan...
Okey..

Ini kosakata berikutnya

K
Ka : ke
Kabaresi :
Kabong : kebun
Kacupeng : kecil, anak kecil
Kadera : kursi
Kaeng : kain : fabrik
Kaka : kakak
Kakarlak : kecoa, juga sebutan bagi orang kulit putih
Kaki tangan haringan : gesit
Kalabor : sembarangan, kurang teratur
Kalakuang : kelakuan, sikap
Kalo : kalau
Kaluyu : ikan hiu
Kamareng : kemarin : kelmarin
Kamari : kemari
Kamboti :
Kamong : kalian
Kampong : kampung
Kampong dalang mulu : memaksa diri berbicara bahasa ibu
Kanari : kenari
Kanes : kenes
Kanjoli :
Kantang : istilah untuk kaum penyuka sejenis
Kapala : kepala
Kapala batu : keras kepala
Kapista : atraktif (konotasi negatif)
Karikil : kerikil
Karja : kerja
Karoco : kroco
Karosi : kursi
Kas : sama dengan artikel ‘ber-, me-‘
Kas’jau : jauhkan
Kas’tau : beritahu : bagi tahu
Kastunju : menunjukkan
Kasana : kesana
Katagorang :
Katanggisang: mengigau
Katong : kita
Kawaja : pelit
Keku : mengusung di kapal
Kepeng : uang
Kes : monyet
Kewel : mulut besar, bohong
Kincing : kencing
Kintal : halaman
Kio : dong, lah
Kler :warna
Kodok : kodok : katak
Koi : tempat tidur
Koliling : keliling
Konci : kunci
Konci rekeng : akhirnya
Konto : kentut
Kopo-kopo : kupu-kupu
Kora-kora : sejenis kapal besar untuk berperang
Kukis : kue
Kusu : binatang hantu (tarsius)
Kusu-kusu : alang-alang

L
La kata : agar
Lai : penekanan, sama seperti ungkapan ‘lah’
Laipose : genit : melaram
Laki : lelaki
Lak’laki : laki-laki
Lampu storongking : lampu petromaks
Laste : akhir, ujung
Lau : perairan dalam
Lenso : saputangan
Lepe : sendok : sudu
Lia : lihat
Loga-loga : goyah
Loko : memegang/berpegangan
Lombo : lembut
Lonceng : jam tangan, arloji
Lumpa : lompat

M
Maar : tapi
Macang : macam, seperti
Maitua : istri
Makang : makan
Makang patita : tradisi makan untuk perdamaian
Malang : malam
Malas : malas
Malas tahu : acuh tak acuh
Malayu : melayu
Malele : meleleh
Malu hati : malu
Mampos : mampus, mati
Mancari : mata pencaharian
Mangamu : mengamuk
Mangarti : mengerti
Mange-mange :
Manginte : mengintai
Mangkali : barangkali
Mangkera : bergerak kesana-kemari
Manise : manis, indah
Maniso : sibuk/repot
Manyau : menyahut
Maraju : merajuk
Mardika : merdeka
Marinyo : polisi
Maske : meskipun
Masu : masuk
Mata jalan : ruas-ruas jalan
Mata lomba : jenis lomba
Mata ruma : keluarga
Matawana: bergadang sepanjang malam
Maueng:
Meku :
Mener : tuan (ditujukan kepada pejabat)
Mete-mete :
Meti : surut
Mir : dinding, tembok
Mister : peduli
Momo : paman, oom
Mongo-mongo : bodoh, ceroboh
Mulu : mulut
Mulu basantan : mulut berbusa
Mulu karepu : sejenis kurap dipinggir mulut
Mungare : pemuda
Musti : harus

N
Nae : naik
Nai : naik
Nama : nama
Nanaku : menandai, nanya
Nene : nenek
Ngungare: pemuda
Nodek : tidak perhatian sedikitpun
Nona : panggilan untuk gadis
Nona baju merah : istilah utk bunga pesta
Nusa : pulau
Nyong : panggilan untuk kaum pria
Nyong gogos : cowok ganteng

O
Oma : nenek
Onozel : genit : melaram
Ontal : menggulung/melipat
Opa : kakek : datuk
Orang : orang
Orang pake-pake : dukun, bomoh
Orang tatua : orangtua
Oras : waktu, saat : masa
Ortega : orang tenggara (untuk org asal Maluku Tenggara)
Ose : kamu
Oto : mobil : kereta

P
Padede : malu-malu
Padis : pedas
Paitua : suami
Palasi :
Paleo : lamban
Paling : paling
Palungku : tinju
Pangkotor : kotor
Panta : pantat, bokong
Papalele : pengumpul kerang di pantai
Papang : papan
Par : untuk
Parampuang : perempuan
Pardidu : tanpa arah
Parigi : sumur
Parlente : penipu
Parsis : persis
Pasisou : suka menceritakan kejelekan orang lain
Paskali : sangat, sekali
Pastiu : bosan
Pata : patah, petik
Pata cingki : petik cengkeh
Patamayang :
Patai : pamit
Pela gandong : sistem kerukunan antar dua kampung beda agama.
Pele : pilih
Pende : pendek
Pi : pergi
Picah : pecah
Pohong : pohon
Poka-poka : subuh
Polo : peluk
Pono : penuh
Poro : perut
Potar : putar
Pukol: pukul
Pung : punya
Punggul : pungut

ReviewReviewReviewReviewReviewKAMUS MELAYU AMBON-INDONESIA (F-J)Aug 1, '07 5:22 AM
for everyone
Category:Other
Dalam hal kosakata, bahasa-bahasa tanah termasuk juga kadang bahasa para pendatang seperti Buton dan sebagainya yang juga mengisi dan memperkaya budaya masyarakat kawasan Ambon dan sekitarnya. Konon istilah-istilah Buton juga masuk melalui istilah-istilah kelautan....

Selamat menghayati bagi anda....anda penutur bahasa Melayu, silahkan cari bandingannya dengan bahasa Kreol Melayu satu ini..

Babang, nyong, momo, tanta, usi, caca...tolong beta lai...ada kata-kata yang beta balong paham akang...terutama yang beta kosong akang itu...dangke..

F
Fam : nama keluarga
Felem : film
Fikir : pikir
For/voor : untuk
Forok : garpu
Fuli : bunga pala

G
Gaba-gaba : pelepah sagu
Gaco : istilah permainan kelereng, berupa kelereng utama
Gagartang : emosi berlebihan
Gagawang : antusiasme yang berlebihan
Galojo : rakus : gelojoh
Gamutu : ijuk
Garadus : kardus, dus
Gareja : gereja
Gargantang : kerongkongan
Garobak : gerobak
Garser : tumbuh
Gemeente : pemerintah : pentadbir
Gepe : jepit
Gici-gici :
Gilih-gilih : terbahak-bahak

H
Hahakae : bercanda dengan cerita2 bohong dan lucu
Handeke :
Haringan : ringan
Hayal : bergaya aneh-aneh untuk menarik simpati
Hela : angkat, arahkan, tarik
Hela kaki : angkat kaki
Helahai : mengeluh sambil menarik napas panjang
Hidop : hidup
Hokmat : berbicara dengan suara keras, tegas dan berwibawa
Hole-hole : bohong
Hongi : riuh, gaduh
Horomate : hormat
Hotu : pergi keluar
Huele : Teriakan keras dengan irama tertentu tanda kegembiraan

I
Iko : ikut
Iko-iko : ikut-ikut
Ilang : hilang
Ilang jalan : kesasar
Inga : ingat
Ingatang : ingat, perhatikan
Inte : intai
Isi bagara : cari perhatian
Iskakar : pelit
Iskola : sekolah
Istaga : astaga
Istamplas : terminal
Istori :cerita
Itang : hitam
Itang gampang : sangat hitam, mudah hitam

J
Jaganti : raksasa
Jalang : jalan
Jambatang : jembatan
Jang : jangan
Jantong : jantung
Jari mai : ibu jari
Jiku : pojok, sudut
Jingkal : jengkal
Jua : juga, saja
Jujaro : anak gadis
Jujaro deng mungare : pemudi dan pemuda
Jumawa : marah sekali

ReviewReviewReviewReviewReviewKAMUS MELAYU AMBON-INDONESIA (C-E)Jul 31, '07 2:23 AM
for everyone
Category:Other
Pengaruh bahasa-bahasa Eropa sangatlah terasa khususnya bahasa Belanda dan Portugis...kemudian ditambah bahasa-bahasa daerah setempat yang lambat laun punah. Bahasa yang acap disebut bahasa tanah ini masih bertahan didesa-desa muslim di ambon dan sekitarnya.

Ada yang mau nambahin? silakan...

C
Cabar :
Caca : kakak perempuan (biasa dipakai kalangan muslim)
Cakadidi : cari perhatian
Capatu : sepatu
Capeo : topi
Cari kanal : berkenalan
Cawaning : cemeti
Cecelepu : tidak berdaya, sok sibuk, kelabakan
Cengke : cengkeh
Cikar : sikat (dalam artian makan dengan selera), contoh cikar ayam : sikat ayam
Cimpoa : sempoa
Cingki : cengkeh
Colo-colo : sejenis sambal
Cuki : *sensor*
Cukimai : makian kasar

D
Dame : damai
Dangke : terima kasih
Dapa : kena
Dar : dari
Dara : darah
Dara : perairan dangkal
Dara nae : naik darah
Deng : dengan, dan
Diang : diam
Doe : uang
Dolo : dulu
Donci : musik
Dong : mereka
Dorang : mereka
Doriang : durian
Dudu : duduk

E
Eleng : segan
Emper : hampir
Ence : panggilan untuk lelaki Cina
Enggo : hingga
Enggo blek :

ReviewReviewReviewReviewReviewKAMUS MELAYU AMBON-INDONESIA (A-B)Jul 30, '07 7:29 PM
for everyone
Category:Other
Bahasa Melayu Ambon konon bukan berasal langsung dari Sumatera atau Semenanjung, melainkan berasal dari varian Melayu di Pulau Kalimantan. Bahasa ini lebih tepat disebut sebagai Kreol Melayu karena pada awalnya tidak dituturkan penduduk asli dan menjadi bahasa Pidgin alias antar kelompok, yang kemudian jadi bahasa Ibu sehingga disebut Bahasa Kreol Melayu.
Disini adalah kata-kata bahasa Melayu Ambon yang saya dapat baik yang saya hafal maupun dari situs-situs warga Ambon dimana-mana....termasuk ambon-manise.com yang lama-lama saya makin suka dengan situs itu...:)

Tete, nene, nyong, non, abang, caca, usi dst.....ini beta kasi akang dolo yang A-B...yang laeng manyusul....
Ada kata-kata yang saya kosongi, berarti belum tahu artinya...tolong dong dibantuin artinya. Kalau ada yang keliru tolong dibenahi...hehehehe

Dangke banya..

A
Abang : kakak laki-laki (dipakai kalangan muslim)
Ada : ada, sedang
Ade’ : adik
Ado : aduh
Aer : air
Aer kabor : air keruh, juga ungkapan untuk suasana kacau
Akang : ….kan/ it dalam bahasa Inggris
Akor : baik, rukun
Ale : kamu, anda
Aleng : lamban
Alus : halus
Amanisal : keranjang tempat mengumpulkan ikan
Amato : salam
Ambon kart : ambon KTP
Ambong : ambon
Ampas tarigu : sejenis kue
Amper : hampir
Amplov : amplop
Ampong : ampun
Ana : anak : budak
Anana : anak-anak : budak-budak
Anana ucing : anak muda
Angka : berangkat
Antua : beliau
Apa : apa
Apalai : apa lagi
Apapa’ : apa-apa
Areng-areng : hanya
Arika : gesit
Arika : sejenis burung hutan
Asida : sejenis kue
Aso : ikut campur
Ator : atur

B
Ba’aso : mencampuri
Babengka : sejenis kue
Babengkeng : mengomel sambil bersungut-sungut
Bacarita : bercerita
Bacico : sikap tidak tenang, gelisah
Badaki : berdaki, kotor
Badang : badan
Badansa : berdansa
Badara : berdarah
Badendang : berdendang
Badepa : melangkah pindah-pindah
Badiang : diam
Badonci : bermusik
Bae : baik
Bagara : bergerak
Bahasa tana : bahasa daerah, logat tempatan. Namun juga untuk sebutan bahasa kaum terasing di pedalaman
Baileo : balai
Bajalan : berjalan
Bajualang : berjualan
Bakalai : berkelahi : bergaduh
Bakanda : selingkuh
Bakanor : berbicara sambil bersungut2
Bakasang : terasi : belacan
Bakubae : damai
Bakudapa : berjumpa
Baku malawang : melawan, bertengkar
Bakupolo : berpelukan
Balaga : berlagak
Balagu : sikap antara suka dan tidak suka
Bale : balik
Bale muka : balik muka, memalingkan muka
Balisah : gelisah
Baloleng : sama dengan baronda
Balumpa : melompat
Bamaki : memaki
Banang : benang
Bandera : bendera
Bangka : bengkak
Baniang : semacam baju
Bapa : bapak
Bapa raja : kepala kampung, kepala desa
Bapili : memilih : mengundi
Barapa : berapa
Barenti : berhenti
Baribot : ribut, gaduh
Barmaeng : bermain
Baronda : jalan-jalan tanpa tujuan
Basar : besar
Basena : senang-senang
Basena batunang : orang berpacaran
Basisou : suka membicarakan kejelekan orang lain
Basudara : saudara
Batareak : berteriak
Batarewas : unjuk rasa, teriak
Batimbang : menimbang
Batimbang sabala : berat sebelah, pilih kasih
Baterek : mengganggu, meledek
Batul : betul
Bawarmus : memerintahkan sesuatu, tetapi terserah pada yang disuruh
Bembeng : bimbing
Bendar : kota : bandar
Beta : saya
Biden : berdoa
Bijiruku :
Biking : bikin, membuat
Bisi-bisi : bisik-bisik
Blakang : belakang, punggung
Bobou : bau
Bodo : bodoh
Bodok : sangat bodoh
Boslak :
Botol : botol
Botol manci : sejenis setan
Bu : bung (panggilan untuk lelaki)
Buat tahan : mempertahankan
Bulang : bulan
Bulang trang : bulan purnama
Bumbungan kapala : ubun-ubun
Burong : burung
Burong kondo : burung bangau
Burong paikole : burung wagtail
Burong Pombo : burung merpati
Busu : busuk
Busu-busu : jelek-jelek

Sebenarnya saya sudah lama penasaran dengan adanya komunitas berbahasa Melayu di Pulau Dewata ini. Ada satu referensi dari Depdikbud keluaran tahun 79 yang mendeskripsikan tentang bahasa Melayu dikawasan ini, hanya saja saya cari-cari lagi, buku tersebut sudah tidak ada. Hanya ada di UNAIR Surabaya. Yang pernah saya baca tentang bahasa Melayu Bali ini adalah, konon masyarakat Melayu asal Terengganu, Pahang dan Pontianak datang ke pulau Bali untuk berdagang pada abad ke-18, dan kemudian bermukim di wilayah sekitar Sungai Loloan (yang akhirnya menjadi nama kampung mereka), dan sekarang masuk kabupaten Jembrana, Bali bagian barat tepatnya kampung Loloan Barat dan Loloan Timur, Negara. Mulanya Islam datang ke Jembrana pada abad ke-17 dibawa pedagang-pedagang Bugis, atau pelarian Bugis yang ingin menghindari penangkapan VOC masa itu. Ditambah pada abad 18 adanya perantau2 asal Pontianak dan Semenanjung Melaka yang bermukim juga disana.

Kebetulan saya bertemu dengan salah satu mahasiswa saya yang asal Negara dan rumahnya tidak jauh dari Loloan. Dia keturunan Madura, namun sudah beberapa generasi berada di Bali, bahkan keluarga ibunya tinggal di kampung Loloan yang dikenal masih mempertahankan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-harinya, dan konon merupakan salah satu kampung Islam tertua di pulau Bali.

Bahasa sehari-harinya -menurut mahasiswa tadi- adalah bahasa Melayu, bahkan anak-anak kecilnyapun kurang pandai berbahasa Indonesia. Penduduknya umumnya beragama Islam sehingga berbeda dengan kampung-kampung sekitarnya yang mayoritas Hindu. Berikut dia juga memberi saya beberapa kosakata bahasa Melayu setempat yang ternyata masih tidak begitu beda jauh dengan bahasa Melayu lainnya. Dan masih dianggap sebagai bagian dialek Melayu. Berikut kata-kata yang berhasil saya cukil dari dia.

Kata ganti orang
Saya - awak
Kamu - kau
Dia - die (huruf e dibaca lemah)
Mereka - merekA
Kita - kiTA
Mereka tidak pernah menggunakan kata 'saya', dan 'awak' itulah yang sering dipakai. Sedangkan untuk menyebut 'kau' pada orangtua atau yang lebih dituakan, mereka menggunakan sebutan 'Bapak', ' Mak' dst.

Kata tanya
Siapa? - siape?
Bagaimana? - gi'ane?
Mana? - mane?
Kapan? - bile?
Kenapa? - na' ape?
Ya - ye
Tidak - gak

Kekerabatan
Ayah - bapak
Ibu - Mak
Kakak laki-laki - abang, akak
Kakak perempuan - akak
Kakek - embah
Nenek - embah
Paman - paman
Bibi - bibik
Sepupu - misan

Kata-kata pengaruh bahasa Bali
Marah - gedeg
(huruf e dibaca lemah)
contoh : Gedeg le awak sama kau (aku marah denganmu)

Hebat - aeng (e dibaca seperti beca)
contoh : Aeng le kau! (Hebat sekali kamu)

Le : penyangatan, huruf 'e' dibaca seperti kata beca

Kalimat lainnya
Saya mau pergi ke sekolah -
awak nak pergi ke sekolah
Jangan bermain disitu -
jangan sini kau mainan!
Kamu hebat sekali -
aeng le kau!
Aku pukul kamu -
ta' antem kau!
Aku marah padamu - gedeg le awak sama kau
Apa kabar? - Gi'ane kabar kau?

Itu hanya sedikit kata-kata yang bisa saya korek dari dia, dan mungkin pada akhir tahun saya insyaallah mau kesana untuk menyelami lebih dalam bahasa Melayu Loloan ini. Ciri khas lainnya menurut narasumber tadi, mereka melafalkan huruf 't' sebagaimana layaknya orang Bali (terkenal dengan 't' nya yang pekat). Sedangkan dengan masyarakat luar mereka, mereka menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Bali dengan logat yang konon kaku.

Sekian dulu gambaran bahasa Melayu Bali ini...semoga menjadi wawasan baru. Belum banyak yang bisa saya jabarkan tentang bahasa Melayu Loloan yang dituturkan oleh masyarakat keturunan  Melayu di Bali ini. Insyaallah akan saya tambahkan diwaktu2 mendatang.


Bambang Priantono

230707

(Kampung Loloan berada di kota Negara dalam peta)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help