Usia tanah air kita sebentar lagi akan menginjak 60 tahun. Sudah banyak peristiwa, baik yang manis maupun pahit telah dijejaki. Pemberontakan, kudeta, penderitaan juga telah silih berganti menjamah bangsa tercinta ini dan dengan kondisi negara yang semakin tidak membaik dikarenakan begitu berjibunnya kepentingan diatas segalanya. Yang ingin sekali saya pertanyakan, kemanakah rasa keindonesiaan kita? Kemana sih larinya?
Apakah kita hanya bangga sebagai bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus saja? Cobalah anda pikirkan baik-baik. Rasa nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia semakin hari semakin susut, ibarat obor makin lama makin mengecil apinya meninggalkan hati yang menggigil dan tersesat dalam kegelapan serta ketidakpastian. Saat ini kita sebagian besar hanya merayakan hari kemerdekaan dengan berhura-hura, melakukan aneka macam lomba dan prosesi-prosesi seremonial yang menurut saya hanya sebagai formalitas tanpa ruh kemerdekaan itu sendiri. Pada hakikatnya, kemerdekaan kita masih sangat jauh dari yang diharapkan selama ini. Rasa nasionalisme kita terkikis sebagai akibat kurang bangganya kita menjadi bangsa ini, dan faktor penyebabnya pun sangatlah kompleks sehingga menjelma sebagai lingkaran setan yang tak ada ujung pangkalnya.
Kemanakah rasa keindonesiaan kita selama ini? Kita bangga menyebut bangsa Indonesia, namun kiblatnya MTV, Hollywood, dsbnya. Kita mengucap Indonesia sembari mengagung-agungkan negara lain dan membanding-bandingkan dengan kondisi negeri yang (memang) benar-benar kian bobrok. Pengangguran dimana-mana, rakyat kesulitan mendapat sembako, BBM akan melonjak, korupsi kian memassal, sekolah kian mahal dan harga-hargapun makin membumbung bak pesawat ulang-alik lepas landas. Kiblat kita sebenarnya kemana? ke Indonesia? atau Luar Negeri? Memang nasionalisme mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dipraktekkan, karena akan dianggap sebagai chauvinist, anti globalisasilah, anti modernismelah dan lain sebagainya. Yahhh...sungguh ironis memang. Membanggakan orang lain dan tidak bangga dengan diri sendiri....sedih banget!!!!
Ditambah lagi pemerintah kehilangan rasa kepeduliannya terhadap anak negeri, dimana kebijakan-kebijakannya dan pembangunan ekonominya masih terpusat di Jakarta. Otonomi hanyalah pemanis bibir yang dipakai untuk menyenangkan rakyat dipelosok tanah air, semua masih tersentral di Jakarta yang juga lambat laun tak kuat menanggung beban (kuatirnya akan ambruk..hehe). Sedangkan di tingkat daerah, otonomi justru dipergunakan untuk memperkaya diri sendiri, melahirkan raja-raja kecil yang sewenang-wenang dan seenaknya menetapkan biaya ini biaya itu atas nama PAD (Pendapatan Asli Daerah), dan satu lagi...makin korup.
Banyak sekali daerah-daerah yang belum tersentuh pembangunan di tanah air ini. Daerah pedalaman hingga perbatasan. Dalam hal ini banyak sekali kasus karena tidak diperhatikan pemerintah, maka warga perbatasan berpindah kewarganegaraan. Kasus ini banyak terjadi di kawasan Tanjung Datu, perbatasan Kalbar dan Serawak, dimana banyak warga Kalbar disana yang kemudian menjadi warga Malaysia karena mendapat fasilitas lebih baik daripada yang diberikan di Indonesia. Selain itu, banyak warga perbatasan di Pulau Kalimantan yang banyak menggunakan Ringgit ketimbang Rupiah, dan lebih suka berdagang di Malaysia karena lebih mudah.....yah, ironi memang...Istilah "Negara kami Indonesia, Mata Uang kami Ringgit" sangat lazim terdengar sebagai satir yang masih belum menggugah perhatian pemerintah JAKARTA. Kasus Pulau Miangas di perbatasan Sulut-Filipina perlu juga diperhatikan, karena mereka banyak berdagang di Filipina dan aksesnya jauh lebih mudah kesana ketimbang ke Manado misalnya, dan dikhawatirkan kelak akan menjadi bom waktu.
Rasa keIndonesiaan warga perbatasan sangat perlu diperhatikan, karena mereka hampir tak tersentuh oleh pejabat pusat atau fasilitas-fasilitas yang memadai untuk mengalihkan pandangan mereka dari negara tetangga. Pemerintah seharusnya menjadikan kawasan perbatasan sebagai kawasan "etalase" Indonesia, bukan kawasan "kebun belakang", karena daerah perbatasan adalah kunci dan sebagai penarik bagi orang untuk masuk wilayah RI. Yah, semoga Jakarta mau mendengarkan, karena sudah sekian lama tenggelam dalam keacuhan sentralistiknya, dan daerah yang salah kaprah dalam menerapkan otonomi.
Keindonesiaan kita masih perlu dipertanyakan dan ditinjau ulang lagi. Rasa nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia terkikis karena faktor ekonomi, politik dan hal-hal lain yang sulit dinalar. Kemanakah kebanggaan itu? Apakah hanya dimiliki pada tanggal 17 Agustus saja tanpa menghargai pengorbanan para pahlawan bangsa yang telah mengorbankan darah dan nyawa demi kemerdekaan? Dimana rasa penghargaan itu?
Lelah rasanya mendengar konflik, kerusuhan, separatisme dan lain sebagainya karena sebab awal : Ketidakadilah Pusat atau Ketidakadilan seorang Ibu kepada sebagian anak-anaknya. Ibu yang seharusnya mengayomi justru menjadi pemecah belah, dan inilah yang terjadi di negeri kita tercinta ini. Pembangunan yang mengerucut di ibukota dengan gedung-gedung menterengnya sementara pelosok tanah air bahkan masih nomaden atau primitif. Duh, kemana tanggungjawab sang Ibu pertiwi?
Sangat diidamkan, keindonesiaan yang indah...tanpa konflik sukuisme, agamaisme, ataupun golonganisme. Semuanya satu dalam rumah besar yang sama dimana anggota keluarganya guyub rukun dalam damai dan sama-sama membangun. INDONESIA RAYA!! Entah kapan cita-cita itu terwujud?
Keindonesiaan juga dapat dipupuk melalui semangat kebersamaan serta kepedulian pemerintah terhadap setiap jengkal wilayahnya, sehingga tidak kecolongan lagi seperti yang sudah-sudah. Masih banyak PR yang harus dikerjakan pemerintah untuk menyelesaikan kekacauan multidimensional ini, dan kita sebagai warga wajib menanamkan pada diri kita sendiri bahwa sebagai warga negara harus sekuat tenaga menunjang kesatuan bangsa meski dalam skala kecil. Kemerdekaan yang hakiki masih belum kita peroleh....
Sudah Indonesiakah anda?
Bambang Priantono