Bambang's posts with tag: indonesia-malaysia
Sewaktu dapet kesempatan pergi berhari raya di Malaysia tempo hari, gue bener-bener mendapat kejutan yang gak bakalan gue lupain seumur hidup. Pakdhe Karto ngajak gue nonton P. Ramlee The Musical yang dimulai tanggal 18 Mei. Beliau bahkan berselancar di internet untuk pesen karcis masuknya, dan emang beliau udah komitmen untuk ngenalin apa-apa tentang Malaysia ke gue. Sempet sih ada rasa pesimis karena kuatirnya kursi udah penuh apalagi hari pertama, tapi alhamdulillah, setelah dikonfirmasi akhirnya kita dapet kursi juga, malahan dapet yang tengah pula, jadi gak kedeketan dan gak kejauhan…apalagi salah satu pemainnya gue kenal banget…Mpok Siti Nurhaliza!! Wah, kesempatan emas banget bisa ketemu datuk satu ini, apalagi kalo bisa ambil gambarnya….pasti banyak yang ngiri nih. Acara P. Ramlee The Musical ini diadakan di Istana Budaya tanggal 18 Oktober sampai 3 Nopember 2007, dan gue dapet kesempatan yang tanggal 18, pas dua hari menjelang kepulangan gue ke Indonesia tercinta. Sebelumnya gue gak banyak tau soal P. Ramlee yang nama aslinya njekethek Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh, yah Aceh abis kedengarannya, yang dalam acara operet itu diperanin oleh Sean Ghazi, sedangkan Siti Nurhaliza berperan sebagai Azizah, cinta pertama P. Ramlee yang tampak sekali menjadi inspirasi dalam film Penarek Becha (Penarik Becak, atau ejaan lamanya Penarik Betjak) produksi tahun 1955. Dalam kesempatan itu, Pakdhe dapat empat karcis, yang satunya kosong…nah, akhirnya gue hubungi saja Zuraidah (gerimis) lewat SMS dan chatting. Akhirnya Zu bersedia datang, tapi agak lambat katanya. Meskipun telat, dan datang detik2 terakhir, akhirnya gue kopdar juga ama Zu. Hehehehe. Operet P. Ramlee ini nyeritain kisah hidup beliau mulai dari masa kecil sampai menjelang kematiannya. Nah, ceritanya dimulai dari setting 1973, ketika P. Ramlee baru selesai ngegubah lagu ‘Air Mata di Kuala Lumpur’ dimana sang istri, Saloma bersamanya dan bernostalgia tentang masa mudanya. Hmm….alur ceritanya sih dimulai dari Pulau Penang, asal muasalnya…mulai dari dia jatuh cinta dengan seseorang bernama Azizah yang hingga akhir hayatnya menjadi ilham dalam setiap karyanya (kalo gak salah lho), petualangannya di Singapura, pernikahannya dengan Junaidah Daeng Harris, Noorizan Mohd Noor (kerabat Kerajaan Perak) sampai pernikahan terakhirnya dengan Salmah Ismail (Saloma) yang namanya terukir di sebuah rumah makan di Kolumpo. Alur ceritanya jujur aja bikin gue kebawa, meskipun gak dibolehin motret selama pertunjukan. Ada masa jedanya selama 15 menit, nah ini kesempatan emas untuk pergi nguras muatan di WC, mana antriannya juga kayak ular tangga lagi… Kalau nggak salah sih durasinya sekitar 2-3 jam gitu, mulai jam 7 sampe jam 10 malem waktu sini. Aransemen musiknya ternyata diatur juga oleh Erwin Gutawa! Wah, jadi tambah seneng…apalagi dia terkenal sebagai komposer yang keren punya. Sesi terakhir setelah acara selesai adalah tandatangan bareng dan berbanci kamera sekejap dengan pelakonnya. Inilah saat ketemu Mpok Siti dari jarak hanya 20 cm, salaman tapi gak sempet foto secara keburu disuruh satpam ngacir duluan, banyak yang ngantri secara. Nah, menjelang kepulangan gue ke tanah air, besoknya Pakdhe hadiahin gue 5 cakram padat film-film P. Ramlee, seperti : Penarik Becak Ibu Mertuaku Antara Dua Darjah Anakku Sazali, dan Anak Bapak (dimana Saloma ada didalamnya) Tapi dari kelimanya ini, gue paling demen nonton Penarik Becak, malah sering gue pantengin berkali-kali, apalagi bahasa Melayu yang dipakai dalam film-film yang saya punya ini masih bisa dipahami dengan mudah karena lebih baku. Kalau dipikir-pikir memang antara bahasa Indonesia dan Melayu Malaysia dimasa itu masih belum banyak perbedaannya. Yang bikin ngiri gue adalah, film-film kuno ini masih beredar bebas dan bisa dibeli warganya, sedangkan film-film Indonesia kuno…pada kemana semua? Gue pengen banget nonton film-film seperti Rentjong Atjeh, Loetoeng Kasaroeng, Euis Atjih, Njai Dasima, Darah dan Doa, Tiga Dara, Gagal, Sepatu Roda, Terang Boelan, Enam Djam di Djokdja, Asrama Dara dan kawan-kawannya….tapi dimanakah film-film itu semua? Hanya disimpan di Gedung Arsip Nasional, tanpa diedarkan ke masyarakat. Kalau begini, mana kita tahu sejarah perfilman kita sendiri? Hanya dikaji oleh orang-orang tertentu dan disimpan dalam-dalam digudang yang berdebu? Ah, jangan pelit-pelit dong bagi-bagi sejarah ke bangsa sendiri!!!
Biarpun sekarang pada kemakan MTV, toh gue yakin masih banyak yang pengen nonton pelem jadul!!!Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya...
Bambang Priantono 090508
False friend? maksudnya adalah kata-kata yang sama dalam dua bahasa, baik dalam bunyi maupun ejaan tetapi mempunyai makna yang seringkali berlainan. Tidak jauh-jauhlah, kata 'atos' saja....dalam bahasa Jawa maknanya 'keras', tetapi dalam bahasa Sunda maknanya 'sudah'. Sama halnya dengan kata 'Manuk'. Dibahasa-bahasa seperti Batak, FIlipino dan lainnya maknanya adalah 'ayam', sedangkan dalam bahasa Jawa dan Sunda, 'manuk' artinya burung. Nah, yang kali ini ingin saya obok-obok adalah false friend antara bahasa Indonesia tercinta dengan tetangga tersayang, Malaysia. Saya dulunya suka bingung dengan apa yang dikatakan sahabat dan saudara saya diseberang saya, ya akibat false friends itu tadi....dan insyaallah setiap minggu (pekan) akan saya post-kan false friend ini, menurut sudut pandang saya...
Contoh yang kali ini adalah kata 'percuma'. Sewaktu pertama kali kenal dengan bahasa Melayu Malaysia, saya suka tertawa kalau mendengar kata 'percuma', misalnya dalam kasus kalimat seperti ini : 'Dijual percuma, RM200 sahaja' 'Iklan percuma' 'Penghantaran percuma' 'Barangan terpakai untuk dijual/diberi percuma' Empat kalimat ini saja sudah cukup untuk mewakili false friend kali ini...Nah, setelah lama berkenalan itu, saya menyadari kalau ternyata percuma versi Malaysia maknanya sama dengan gratis atau cuma-cuma. Hanya selalu tetap terdengar aneh bagi masyarakat Indonesia yang belum tahu....Kalau diterjemahkan dalam format bahasa Indonesia akan menjadi seperti ini
'Dijual gratis/cuma-cuma, Hanya RM200' 'Iklan gratis' 'Pengiriman gratis' 'Barang bekas untuk dijual/diberikan cuma-cuma'.
Bagi yang belum paham (terutama orang Indonesia), pasti akan bingung dengan kata percuma diatas...
Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata percuma artinya sama dengan tidak berguna atau useless dalam bahasa Inggris Kulonnya. Contohnya bagaimana? Nih....lihat yaa
Percuma saja kau disini, kalau hanya buat masalah saja. Rasa-rasanya penetapan anggaran sekarang ini percuma. Sudahlah, percuma kamu beritahu dia. Dia tidak akan pernah mau tahu. Ngapain dia beli barang itu, percuma aja...gak bakal untung!
Nah, sudah jelas belum bedanya? Percuma Indonesia dengan Percuma Indonesia...hehehehehe, jadi silakan cari jalur aman untuk saling bercakap-cakap nantinya...
Oke, disambung false friend seriesnya minggu depan...
Bambang Priantono 010308
| |