Pulau yang terletak di Laut Jawa, antara Pulau Jawa dan Kalimantan ini menyimpan banyak pesona. Pulau ini juga mempunyai banyak nama, antara lain Pulau Maceti dan kata ‘Bawean’ konon artinya ‘Matahari Terbit’, yang dalam lidah Melayu berubah menjadi Boyan.
Selain dari keindahan alam, serta kebiasaan masyarakatnya yang suka merantau hingga Singapura, Malaysia dan Vietnam, aspek budaya masyarakat Bawean juga menarik untuk diamati. Pulau yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik dengan dua kecamatan yakni Sangkapura dan Tambak, merupakan tempat persinggahan berbagai suku bangsa yang membawa budayanya masing-masing hingga membaur menjadi masyarakat Bawean yang sekarang ini. Mari kita lihat keunikannya terlebih dahulu :
Masyarakat
Masyarakat Bawean konon merupakan perbauran dari berbagai suku di Nusantara, seperti Madura, Jawa, Sumatera (Palembang khususnya), Bugis dan Kalimantan.
Bahasa
Dari segi bahasa, masyarakat Bawean menggunakan semacam dialek dari bahasa Madura, yang ditinjau dari kosakata dan lagu wicara lebih dekat dengan dialek Sumenep di belahan timur dibandingkan Bangkalan yang notabene lebih dekat jaraknya dengan Bawean. Dialek Bawean banyak dipengaruhi kosakata bahasa Inggris, Melayu, Bugis, Jawa dan lain-lain…
Busana Tradisional
Mungkin di Jawa Timur pulau ini yang paling unik, karena untuk laki-laki menggunakan baju Teluk Belanga (sebagai pengaruh dari Sumatera).
Kesenian Tradisional
Dikarenakan seluruh penduduk Bawean umumnya Islam, maka kebudayaannyapun banyak diwarnai dengan nafas Islam. Beberapa aliran pencak silatpun banyak terdapat di Pulau Bawean, namun banyak yang belum tercatat didalam persatuan pencak silat Indonesia…
Kesenian khas Bawean antara lain :
Jibul
Berupa seni bercerita yang dilagukan, dengan iringan rebana, jidor dan kompang. Biasa dilakukan setelah Isya sampai menjelang Subuh. Biasanya berkisah tentang nabi-nabi. Bahasa yang dipakai biasanya dialek Bawean dan bahasa Indonesia.
Dikker
Kesenian ini berawal dari zikir yang kemudian menjadi bagian dari budaya setempat. Syair-syair yang dilantunkan berasal dari Barzanji, hampir serupa dengan kesenian-kesenian zikir lainya.
Kercek(ng)an
Sama dan sebangun dengan hadrah. Ditarikan oleh kaum hawa, dan gerakan-gerakannya didasarkan pada gerakan sholat atau membentuk lafaz Allah.
Mandiring
Ada dua versi tentang kata ‘mandiring’ ini. Versi pertama menyatakan kalau mandiring berasal dari ‘Mandailing’, namun versi kedua menyebutkan berakar dari kalimat Bahasa Inggris, yakni ‘ My Darling’.
Kesenian ini berupa balas pantun yang dilakukan oleh sepasang muda-mudi, dan biasa dijadikan ajang untuk mencari jodoh dan mengungkapkan rasa kasih sayang.
Kesenian-kesenian dan budaya Bawean ini juga perlu diangkat lebih luas, khususnya sebagai aset kebudayaan Jawa Timur yang sederajat dengan kesenian-kesenian lainnya, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok BAKU BHEI-BHEI BAWEAN, organisasi kesenian Bawean yang berupaya mengangkat budaya setempat.
Bambang Priantono
040607