Bambang's posts with tag: keluyuran malaysia
|  | Yah, dalam liburan hari raya kemarin, saya dapet kesempatan nggandol KRL bersama Rashid, anak Jember yang mukim disana. Bersih dan rapi...moga-moga punya kita besok bisa lebih oke ya...Gak ada asongan, gak ada pengamen. Tapi kalau Terminal Bis Pudu Rayanya sih sama saja...ribet dan banyak copet, bisa bikin cupet..hehehehe...
Berangkat dari Stasiun Ampang sampai Pudu...lumayan juga, hanya dengan karcis sekali jalan |
Saya memang nggak pinter bicara soal makanan. Banyak ahlinya, apalagi yang punya akun di MP. Waduh, ngeper saya kalau ngomong soal makan memakan, bisa-bisa dibabat dach..hahahahaha. Tapi…sutralah, kan saya ngomong sesuai dengan apa yang saya ketahui toh. Alhamdulillah saya dikaruniai oleh-Nya naluri suka makan...hehehehehe
Salah satu makanan yang baru saya jumpai saat di Malaysia adalah Ketan Mangga. Memang jajanan itu bukan asli Malaysia, melainkan asal tetangga sebelahnya yakni negeri Gajah Putih alias Thailand. Itupun tidak sengaja, setelah makan Laksa Kluang di Kluang Station daerah Ampang, dan itu menjelang kita pergi pulang, Pakdhe Karto mendatangi gerai makanan khas Thailand yang penjaganya juga kebetulan orang Thai tulen. Hmmm…aneka jajanan khas Thailand bergelimpangan disana, tapi yang paling menarik perhatian saya adalah dua buah bakul besar yang isinya adalah ketan (pulut). Warnanya agak beda…yang satu putih-putih mangkak, sedangkan yang satunya putih tapi agak kehijau-hijauan. Kata Pakdhe, yang putih mangkak itu hanya pakai santan, alias polos. Sedangkan yang agak semu kehijauan itu pakai air daun pandan. Hmmm, pantes warnanya agak lain. Pakdhe pun belikan satu buat saya, yang uniknya sih…kedua-duanya dibeli, cara menyusunnya adalah…ketan dimasukkan dalam kemasan, kemudian diatasnya diberi irisan mangga manis, bukan yang kemampo (Jw : setengah matang). Tak lupa beliau mengucapkan khop khun krab alias terima kasih kepada si penjajanya dengan sikap tangan persis orang Bali. Ketan mangga yang nama aslinya adalah Khao Neow Ma-maung ini rasanya manis sekali, paduan manisnya ketan yang dimasak dengan santan kental, gula dan garam ini sangat terasa, dan kesannya jadi mirip krim alias creamy, lengket-lengket dan dimakan bersama dengan mangga. Waduh, enak banget, meski jujur aja agak neg, karena manis ketan dengan manis mangga. Kalau menurut versi saya sendiri sih enakan kalau mangganya yang kemampo atau ketannya yang nggak manis. Hehehee… dasar lidah Jowo, apalagi saya seringnya makan ketan pakai bubuk kedelai dan kelapa parut, jadi waktu ketemu khao neow ma-maung alias ketan mangga ini lidah jadi terasa ndheso. Tapi jelasnya lumayanlah, pengalaman lidah dan lambung kian bertambah…Mungkin kalau musim mangga entar mau saya coba ah, tapi dengan versi sendiri yang gak terlalu manis. Gak bagus untuk kesehatan kalau kebanyakan.. Matur nuwun sanget Pakdhe Karto amargi panjenengan sampun ngenalaken kaliyan kudapan saking Thailand niki... Bambang Priantono 160608 (foto asli jepretan sendiri)
|  | Hari raya di Malaysia kemarin bener-bener menyenangkan....bisa ketemu dengan MPers Malaysia, bahkan yang gak disangka-sangka bisa ketemuan dengan Baby (myybaby) di Kuala Lumpur....kebetulan sekalian diajak ke Open Housenya Aidit, putra Pakdhe Karto. Sempat lho salah paham saat menjemput Baby....dikira disisi A, eh ternyata dia nunggu di sisi B yang lumayan jauh, dekat Singapore House. Nah, setelah ketemu barulah kita saling kenalan dan sama-sama pergi ke rumah Aidit yang ada dekat FELDA... Suasananya ramai banget, karena siapapun bisa masuk kedalamnya dan makan-makan dengan nikmat. Yah, namanya juga suasana hari raya...disitu juga saya ketemu dengan pembantu Aidit yang ternyata orang Pamanukan, dan .....Maizan (tuneman) serta Pakdinpun datang pulak....ahahahaha...tambah heboh aja suasananya, Baby kayaknya juga seneng dengan suasana ini..apalagi dia dah lumayan lama tinggal di Malaysia lho..
Tapi yang paling mengesankan buat saya adalah pertemuan dengan seorang arek Jember bernama ADI yang ternyata menjadi vokalis band setempat SIXTH SENSE...katanya sudah setahun lebih dia tinggal di Malaysia dan telah manggung dibeberapa tempat di Malaysia. Nah dengan dia saya pakai bahasa Jawa, sehingga mungkin ada 4 atau 5 bahasa yang terdengar saat itu...ah, yang penting happy...itu saja...
Kapan ya semua ini terulang? semoga segera.... |
Sewaktu dapet kesempatan pergi berhari raya di Malaysia tempo hari, gue bener-bener mendapat kejutan yang gak bakalan gue lupain seumur hidup. Pakdhe Karto ngajak gue nonton P. Ramlee The Musical yang dimulai tanggal 18 Mei. Beliau bahkan berselancar di internet untuk pesen karcis masuknya, dan emang beliau udah komitmen untuk ngenalin apa-apa tentang Malaysia ke gue. Sempet sih ada rasa pesimis karena kuatirnya kursi udah penuh apalagi hari pertama, tapi alhamdulillah, setelah dikonfirmasi akhirnya kita dapet kursi juga, malahan dapet yang tengah pula, jadi gak kedeketan dan gak kejauhan…apalagi salah satu pemainnya gue kenal banget…Mpok Siti Nurhaliza!! Wah, kesempatan emas banget bisa ketemu datuk satu ini, apalagi kalo bisa ambil gambarnya….pasti banyak yang ngiri nih. Acara P. Ramlee The Musical ini diadakan di Istana Budaya tanggal 18 Oktober sampai 3 Nopember 2007, dan gue dapet kesempatan yang tanggal 18, pas dua hari menjelang kepulangan gue ke Indonesia tercinta. Sebelumnya gue gak banyak tau soal P. Ramlee yang nama aslinya njekethek Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh, yah Aceh abis kedengarannya, yang dalam acara operet itu diperanin oleh Sean Ghazi, sedangkan Siti Nurhaliza berperan sebagai Azizah, cinta pertama P. Ramlee yang tampak sekali menjadi inspirasi dalam film Penarek Becha (Penarik Becak, atau ejaan lamanya Penarik Betjak) produksi tahun 1955. Dalam kesempatan itu, Pakdhe dapat empat karcis, yang satunya kosong…nah, akhirnya gue hubungi saja Zuraidah (gerimis) lewat SMS dan chatting. Akhirnya Zu bersedia datang, tapi agak lambat katanya. Meskipun telat, dan datang detik2 terakhir, akhirnya gue kopdar juga ama Zu. Hehehehe. Operet P. Ramlee ini nyeritain kisah hidup beliau mulai dari masa kecil sampai menjelang kematiannya. Nah, ceritanya dimulai dari setting 1973, ketika P. Ramlee baru selesai ngegubah lagu ‘Air Mata di Kuala Lumpur’ dimana sang istri, Saloma bersamanya dan bernostalgia tentang masa mudanya. Hmm….alur ceritanya sih dimulai dari Pulau Penang, asal muasalnya…mulai dari dia jatuh cinta dengan seseorang bernama Azizah yang hingga akhir hayatnya menjadi ilham dalam setiap karyanya (kalo gak salah lho), petualangannya di Singapura, pernikahannya dengan Junaidah Daeng Harris, Noorizan Mohd Noor (kerabat Kerajaan Perak) sampai pernikahan terakhirnya dengan Salmah Ismail (Saloma) yang namanya terukir di sebuah rumah makan di Kolumpo. Alur ceritanya jujur aja bikin gue kebawa, meskipun gak dibolehin motret selama pertunjukan. Ada masa jedanya selama 15 menit, nah ini kesempatan emas untuk pergi nguras muatan di WC, mana antriannya juga kayak ular tangga lagi… Kalau nggak salah sih durasinya sekitar 2-3 jam gitu, mulai jam 7 sampe jam 10 malem waktu sini. Aransemen musiknya ternyata diatur juga oleh Erwin Gutawa! Wah, jadi tambah seneng…apalagi dia terkenal sebagai komposer yang keren punya. Sesi terakhir setelah acara selesai adalah tandatangan bareng dan berbanci kamera sekejap dengan pelakonnya. Inilah saat ketemu Mpok Siti dari jarak hanya 20 cm, salaman tapi gak sempet foto secara keburu disuruh satpam ngacir duluan, banyak yang ngantri secara. Nah, menjelang kepulangan gue ke tanah air, besoknya Pakdhe hadiahin gue 5 cakram padat film-film P. Ramlee, seperti : Penarik Becak Ibu Mertuaku Antara Dua Darjah Anakku Sazali, dan Anak Bapak (dimana Saloma ada didalamnya) Tapi dari kelimanya ini, gue paling demen nonton Penarik Becak, malah sering gue pantengin berkali-kali, apalagi bahasa Melayu yang dipakai dalam film-film yang saya punya ini masih bisa dipahami dengan mudah karena lebih baku. Kalau dipikir-pikir memang antara bahasa Indonesia dan Melayu Malaysia dimasa itu masih belum banyak perbedaannya. Yang bikin ngiri gue adalah, film-film kuno ini masih beredar bebas dan bisa dibeli warganya, sedangkan film-film Indonesia kuno…pada kemana semua? Gue pengen banget nonton film-film seperti Rentjong Atjeh, Loetoeng Kasaroeng, Euis Atjih, Njai Dasima, Darah dan Doa, Tiga Dara, Gagal, Sepatu Roda, Terang Boelan, Enam Djam di Djokdja, Asrama Dara dan kawan-kawannya….tapi dimanakah film-film itu semua? Hanya disimpan di Gedung Arsip Nasional, tanpa diedarkan ke masyarakat. Kalau begini, mana kita tahu sejarah perfilman kita sendiri? Hanya dikaji oleh orang-orang tertentu dan disimpan dalam-dalam digudang yang berdebu? Ah, jangan pelit-pelit dong bagi-bagi sejarah ke bangsa sendiri!!!
Biarpun sekarang pada kemakan MTV, toh gue yakin masih banyak yang pengen nonton pelem jadul!!!Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya...
Bambang Priantono 090508
|  | Setelah mengunjungi Ajib (jawaboy) dikampungnya yang terkurung hutan sawit di Batu Pahat, kami bertiga (saya, pakdhe dan budhe) melanjutkan perjalanan menuju Pontian, dimana ada rekan kerja pakdhe bernama Encik Burhanuddin yang kebetulan sedang pulang kampung. Desanya ada di Penerok, Pontian dan tinggal 10 km lagi (kalo gak salah) dari titik terselatan Benua Asia (Tanjung Piai)...keluarga Encik Burhanuddin ternyata juga keturunan Jawa dan banyak sekali orang Indonesia yang tinggal didesa itu....saya sempat berkenalan dengan orang Lumajang yang tinggal di Skudai, tapi sayang gak bisa lama-lama karena keburu harus pergi ke JB... |
|  | Ini foto2 sisa yang belum sempat diunggah kesini....yah, sekitar Jalan Mahkamah Persekutuan, Gedung Sultan Samad, Lapangan Merdeka...saat-saat hari raya... Mudah2an bisa kesana lagi suatu saat |
|  | Selepas dari Muar, kita melanjutkan perjalanan menuju Batu Pahat yang kira-kira menempuh waktu satu jam perjalanan dari Muar. Banyak Parit dan Seri...itu yang saya lihat sepanjang jalan. Bahkan ada Lorong Hj. Mohd Dom juga..wakakakakkk...tapi tanpa Karto lho...nanti Pakdhe ge-er...Nah, setelah teteleponan maupun SMS-an, ternyata Fazlipun (nicknya ilzaf...dan bagi saya he is my dearest friend...best lah for me!!).. dengan rela hati datang ke Pekan Parit Raja (baca : Parit Rojo) tempat kita berkopdar untuk kali ini. Kampung Ajib (jawaboy) ini berada di kampung Sungai Rambut yang masih jauh masuk kedalam perkebunan kelapa sawit. Dirumah bergaya Melayu itu, kita berjumpa dengan nenenda Ajib, yakni Nyai Ma'inah yang ternyata masih mampu berbahasa Jawa, meskipun juga malu-malu karena terkesan 'ngeles' dan nampaknya belum ada mitra bercakap2 yang pas. Yah, Jawa Malaysia.... Tapi intinya pertemuan ini sebagai ajang silaturrahmi dengan sedhulur yang meski beda negara tapi tetep satu akar...
The next destination is...PONTIAN!!!! tunggu ya...hehehehehehe
Oh ya...ini terjadi tanggal 15 Oktober 2007 lhoooo |
|  | Kota ini konon menjadi tempat pelarian para bangsawan Malaka yang dikalahkan oleh tentara Portugis pada abad ke-16. Mereka membangun kota ini tepat ditepi Sungai Muar yang menjadikannya kota strategis.. Kota ini banyak dihuni oleh pekerja-pekerja dari berbagai negara, dan pada saat-saat libur seolah banyak orang asing dibanding penduduk lokal. Nah, kesempatan ini saya buat untuk mengabadikan kesibukan kota Muar Bandar Maharani dengan segala pesonanya...baik diluar maupun dari dalam mobil.. Puanas banget...tapi tak kisah lah...yang penting jalan2
Lidah setempat melafalkan Muar dengan Muo... |
|  | Selepas merayakan Idul Fitri dengan keluarga Bang Aidil dan Kak Zana di Pelabuhan Klang. Sorenya, saya ikut Pakdhe dan Budhe menempuh perjalanan panjang dari Klang menuju Muar. Sepanjang perjalanan kita banyak berhenti, karena hujan deras dan akhirnya setelah 3 jam lebih kita datang ke Muar Bandar Maharani. Singgah sejenak di rumah keluarga besar Pakdhe Karto dan kemudian saya diinapkan ke sebuah penginapan yang cukup jauh dari rumah keluarga tersebut...
Cerita lengkapnya? nanti saja ya... |
|  | Nah, akhirnya sampailah di penghujung foto2 seri Putrajaya...yang jelas kagum dengan arsitektur yang ada disana. Namun, kapankah kita bisa mempunyai tempat semacam ini kalau semua-muanya pada ribut melulu? Yuk, dipikirkan bersama-sama cara membangun kota agar lebih indah...
Sekian dari Putrajaya |
|  | Surprising Putrajaya... Memang bikin terkejutlah.... Cantik dengan tatanan bangunan yang oke punya, tapi hawanya? minta ampun, panaaassss...hehehehehehe... Tapi danaunya bikin menghibur juga...sekalian ngicipin angin...:) |
|  | Dari segi senibangunnya, Putrajaya sangat luar biasa. Perpaduan arsitektur dari berbagai budaya ada disini...dari yang semula bekas perkebunan kelapa sawit disulap menjadi wilayah pusat pemerintahan yang cantik. Tapi kesannya sangat lengang, karena dihuni kebanyakan oleh para pegawai (kakitangan) dan pejabat (jawatan) saja. Pemandangan paling bagus kalau dari danau buatan... Yah, sejenak tidak ambil pusing soal panasnya hubungan kedua negara..saya cuma ingin senangkan hati dulu...okey |
|  | Alhamdulillah, hari ini saya baru pulang dari Putrajaya...ibukota pemerintahan Malaysia yang jaraknya sekitar 45 menit dari Ampang, tempat saya duduk saat ini. Panas banget, tidak ada angin..tapi bangunannya benar-benar mempesona. Cerita selanjutnya menyusul ya...
Ditunggu saja...oke? |
|  | Baru pulang dari Johor nih, jadi sebelum pulang ke rumah Pakdhe di Ampang sempet-sempetin 'mbanci kamera' sejenak di KLCC...mumpung KL sudah mulai sepi.. Diambil disekitar KLCC, pukul 11.00 waktu setempat...
Seperti gak percaya....gue di KL neh
Jom, sila tengok kat sini...:) |
| |