Bambang's posts with tag: makan-makan
Saya memang nggak pinter bicara soal makanan. Banyak ahlinya, apalagi yang punya akun di MP. Waduh, ngeper saya kalau ngomong soal makan memakan, bisa-bisa dibabat dach..hahahahaha. Tapi…sutralah, kan saya ngomong sesuai dengan apa yang saya ketahui toh. Alhamdulillah saya dikaruniai oleh-Nya naluri suka makan...hehehehehe
Salah satu makanan yang baru saya jumpai saat di Malaysia adalah Ketan Mangga. Memang jajanan itu bukan asli Malaysia, melainkan asal tetangga sebelahnya yakni negeri Gajah Putih alias Thailand. Itupun tidak sengaja, setelah makan Laksa Kluang di Kluang Station daerah Ampang, dan itu menjelang kita pergi pulang, Pakdhe Karto mendatangi gerai makanan khas Thailand yang penjaganya juga kebetulan orang Thai tulen. Hmmm…aneka jajanan khas Thailand bergelimpangan disana, tapi yang paling menarik perhatian saya adalah dua buah bakul besar yang isinya adalah ketan (pulut). Warnanya agak beda…yang satu putih-putih mangkak, sedangkan yang satunya putih tapi agak kehijau-hijauan. Kata Pakdhe, yang putih mangkak itu hanya pakai santan, alias polos. Sedangkan yang agak semu kehijauan itu pakai air daun pandan. Hmmm, pantes warnanya agak lain. Pakdhe pun belikan satu buat saya, yang uniknya sih…kedua-duanya dibeli, cara menyusunnya adalah…ketan dimasukkan dalam kemasan, kemudian diatasnya diberi irisan mangga manis, bukan yang kemampo (Jw : setengah matang). Tak lupa beliau mengucapkan khop khun krab alias terima kasih kepada si penjajanya dengan sikap tangan persis orang Bali. Ketan mangga yang nama aslinya adalah Khao Neow Ma-maung ini rasanya manis sekali, paduan manisnya ketan yang dimasak dengan santan kental, gula dan garam ini sangat terasa, dan kesannya jadi mirip krim alias creamy, lengket-lengket dan dimakan bersama dengan mangga. Waduh, enak banget, meski jujur aja agak neg, karena manis ketan dengan manis mangga. Kalau menurut versi saya sendiri sih enakan kalau mangganya yang kemampo atau ketannya yang nggak manis. Hehehee… dasar lidah Jowo, apalagi saya seringnya makan ketan pakai bubuk kedelai dan kelapa parut, jadi waktu ketemu khao neow ma-maung alias ketan mangga ini lidah jadi terasa ndheso. Tapi jelasnya lumayanlah, pengalaman lidah dan lambung kian bertambah…Mungkin kalau musim mangga entar mau saya coba ah, tapi dengan versi sendiri yang gak terlalu manis. Gak bagus untuk kesehatan kalau kebanyakan.. Matur nuwun sanget Pakdhe Karto amargi panjenengan sampun ngenalaken kaliyan kudapan saking Thailand niki... Bambang Priantono 160608 (foto asli jepretan sendiri)
|  | Ini hasil buatannya...memang seh belum rata tepung rotinya, tapi setidaknya itu hobi kesukaan saya, masak dan masak... Belum apa-apa, gak kayak orang-orang yang sudah profesional. Tapi insyaallah dengan belajar dan terus belajar lama-lama nanti juga ketemu yang pas. Maaf ya, resepnya sih saya rahasiain...demi menjaga keaslian gitu..
Hehehehe, bukannya sok lho...hanya masih ujicoba terus...
Selamat ngiler |
Nugget... Makanan olahan yang cepat saji, terbuat dari daging baik sapi atau ayam dan dibalur tepung roti serta mudah saja menggorengnya ini sudah jamak dalam pola konsumsi kita semua. Nah, kemarin setelah mengikuti sebuah acara diskusi di perpustakaan daerah, saya mewujudkan apa yang sudah menari-nari dalam otak kecil saya, yakni coba-coba buat nugget sendiri. Sebenarnya ide muncul gara-gara saat jaga toko, saya iseng-iseng membaca resep yang ada dikemasan salah satu bumbu penyedap. Nah, salah satu diantaranya adalah nugget tahu yang kelihatan asyik saja...apalagi bahan-bahannya gampang didapat dan prosesnya gak seribut kalau buat nugget ayam atau sapi.
Saya nitip bahan bakunya ke Mama, yakni tahu. Terlebih tetangga sebelah rumah juga punya industri rumahan tahu sehingga harganya agak miring. Sekitar jam 14.20 saya sudah mulai buat...berdasarkan instruksi resep yang tercantum dalam kemasan bumbu penyedap itu. Hancurkan tahu, tambahkan bumbu, telur, pala, merica dan untuk modifikasi saya tambahkan bawang putih dua siung. Kemudian prosedurnya sama seperti pembuatan nugget pada umumnya, yang kebetulan tepung rotinya masih sisa banyak.
Hanya sayang, saya kurang rata membalurkan tepung rotinya, sehingga hasilnya belang-belang....hehehehehe...saya cobakan juga ke ipar, katanya sih kurang asin. Ya memang sih, karena proses pengukusan akhirnya bumbunya jadi agak tenggelam...jadi ada pelajaran bagus yang didapat dari proses pembuatan nugget.
Beri bumbu sedikit lebih banyak dari yang dianjurkan
Karena menurut pengalaman selama masak memasak, jika kita terlalu ikuti takaran yang dianjurkan, sering kali rasanya kurang maksimal. Makanya kalau masak tumisan atau gorengan saya selalu beri bumbu dengan jumlah suka-suka dan e...alah, malah banyak yang suka.
Senangnya, kemampuan saya nambah lagi....yaitu bikin nugget...dan dari 12 potong yang saya buat (masih ada sisa banyak dan disimpan dikulkas), tadi pagi saya lihat tinggal 2 potong....
Yah, pelajaran lainnya adalah...ide bisa muncul dari mana saja
Bambang Priantono 050508
Berbicara soal makanan, apalagi hujan-hujan begini memang sangat mengasyikkan. Selain membangkitkan rasa lapar, juga rasanya ingin cepat-cepat pulang kerumah. Jika ke Minangkabau jangan lupa rendangnya Bila ke Pasundan jangan lupa oncomnya Kalau ke Surabaya jangan lupa rujak cingurnya Saat ke Makassar jangan lupakan cotonya..
Akibat kopdar kemarin makan-makan di warung Coto Makassar, saya jadi ingat enaknya makanan khas Makassar/Sulawesi Selatan lainnya. Waktu itu saya pesan Coto mangkok kecil yang isinya campuran daging dan jerohan (babat, usus, hati, dkk), dan tidak lupa satu porsi es pallu butung yang enak. Memang Cotonya tidak sama persis dengan yang diasalnya, yang katanya lebih enak kalau mangkoknya dari tanah...setidaknya yang jual adalah orang sana dan tahu cara membuatnya. Masakan Indonesia sendiri sangat beragam, termasuk yang di Sulawesi Selatan alias Makassar ini. Selama di Surabaya kadang saya juga icip-icip makanan khas Sulawesi Selatan ini, yang warungnya ada dimana-mana. Ciri khasnya ada tulisan 'Coto Makassar, asuhan Daeng A'. Saya sempat bertanya2, maksudnya 'asuhan' ini apa? Lambat laun saya paham kalau maksudnya 'asuhan' itu ya dipimpin atau dibina kali..hehehehe... Ngomong-ngomong... Apa saja ya jenis masakan khas Sulawesi Selatan/Makassar yang pernah saya cicipi? Jelasnya yang paling sering Coto Makassar, dimakan dengan ketupat atau buras, bisa juga dimakan polosan saja atau nasi... Kemudian yang kedua dan menurut saya paling enak adalah Sup Konro (alias Iga). Ada dua jenis Konro yang dicicipi disini, yakni Konro biasa, atau Konro bakar dengan bumbu sate....nah, yang pakai bumbu sate ini yang paling enak. Hanya saja ribet makannya..hehehehehe....Konon sup ini adalah makanan para bangsawan lho. Jadi saya merasa jadi raja kalau makan sup ini...cieeee... Sedang untuk pencuci mulutnya sih, yang paling familier dari Makassar adalah es pisang ijo (dibuat dari pisang yang dibungkus kulit dari tepung beras warna pandan dan dikasih es plus sirup, susu, dan kacang merah), dan es pallu butung (dari pisang rebus dicampur bubur seperti bubur sumsum, kacang merah, sirup merah dan susu)...waduh, benar-benar lezat luar biasa lho kalau dipikir-pikir.... Sampai waktu ada tetangga baru dari Makassar membawakan pisang ijo, langsung saya sikat sampai habis...paruhan dengan Mama, karena beliau kurang suka dengan makanan yang aneh-aneh (baginya lho) Yang masih belum dicoba antara lain : sarabba dan sup saudara....namanya kok sup saudara ya? apa saudaraan? atau gimana? Entahlah...kayaknya sih perlu dicoba nanti-nanti. Tapi juga ada saran, khususnya bila makan coto makassar atau sup konro....jangan keseringan makan makanan jenis itu, karena bisa meningkatkan kadar kolesterol dan bisa jadi KFC (Kolesterol Fans Club) hehehehehe....Jadi ya sesekali sih boleh saja, apalagi ini salah satu kekayaan kuliner kita yang patut dijaga...
Lumayan nih buat basa-basi akhir pekan...hehehehe...selamat menikmati
Bambang Priantono 030508 (foto coto makassar, ketupat, buras dan es pallu butung)
|  | Dari Kopdar kemarin dapat pelajaran berharga, sudah lama nggak jelajah kuliner yang enak-enak dan akhirnya keturutan dengan makan Coto Makassar yang enaknya selangit, tapi jangan keseringan, nanti bisa kolesterol... Paduan daging dan jerohan serta kuah coto (aslinya sih soto) yang panas, dengan sedikit air jeruk nipis.Jangan lupa dimakan dengan ketupat atau buras...dan pencuci mulutnya bisa Es Pallu Butung, atau dengan Es Pisang Ijo yang segar dan enak punya..
Lokasi : COTO DAENG RUDI, Jl. Borobudur, Malang
Coba saja di... |
 Saya kurang tahu asal-usulnya dari mana, tapi yang jelas didaerah saya banyak sekali orang yang berjualan jenis makanan satu ini. Kalau di desa-desa disebut sebagai jangan tempe (sayur tempe), tapi begitu masuk ke kota, namanya menjelma menjadi orem-orem.
Sekilas rupa penampilannya seperti laksa atau kari, tetapi perbedaan yang menonjol sangatlah kentara. Karena isinya lebih sederhana dari laksa. Isian utamanya adalah tempe yang dipotong kecil-kecil dan direbus biasanya bersama dengan kuah orem-orem yang tidak jauh beda dengan kari atau laksa, hanya santannya lebih encer, berwarna kuning dan ada sedikit kulit dan tulang ayam sebagai penyedap. Penyajiannya ya seperti ini :
a. potong ketupat hingga menjadi kemasan sekali gigit b. Taruh dalam mangkok c. Taburkan toge dalam mangkok sekaligus tempe yang sudah direbus d. Siramkan kuah orem-orem dan jangan lupa beri kecap manis e. Tambahkan telur asin atau ayam, jika suka f. Selamat makan
Paling enak sih gabungan antara telur asin dan ayam. Rasanya nendang banget...memang kurang pedas, tapi bisa ditambahin kok jika suka. Setahu saya, orem-orem ada dua warna...yang kuning dan yang putih. Yang putih biasanya suka dibuat Ibu saya, dan selalu pedas, sedang yang kuning seperti yang ada di Jalan Blitar, tempat kami kopdar tempo hari.... Harganya murah kok... Pakai telur asin Rp. 4000 Pakai ayam Rp. 5000 Tidak pakai apa-apa Rp. 3000 Kalau di ringgitkan coba berapa? Murah kok...hehehehee, bukan promosi neh..cuma cerita saja. Wajah mirip laksa, tapi isinya adalah tempe...
Bahkan sudah ada MPers yang terprovokasi neh dengan foto2nya...hehehehehe....terbukti...
Bambang priantono 040607
Hari Minggu kemarin saya diundang rekan kerja untuk datang ke rumahnya di kawasan Sawojajar. Kebetulan sudah beberapa hari sebelumnya saya sudah ada janji dengan dia untuk mampir ke rumahnya…..apalagi dalam waktu beberapa minggu mendatang, dia sudah tidak lagi bekerja di tempat sekarang karena akan pulang kampung ke Flores. Seperti kunjungan sebelumnya, saya pesan pada teman tersebut untuk makan Lomak yang merupakan masakan khas daerahnya….perlu tahu, teman saya ini berasal dari Manggarai, Flores Barat yang masuk wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sesampai di rumahnya setelah online pukul 10.30, teman tadi sedang menonton pertandingan tinju. Sudah ada piring berisi semacam bubuk yang nongkrong dikarpet rumahnya yang sederhana. “Apa ini Pak?” saya bertanya “Itu rebok” Jawabnya… “Re…boq?” saya berusaha mengeja “Rebok” ralatnya Oooooo, saya maklum…..teman tadi menjelaskan kalau rebok ini juga salah satu makanan khas Manggarai, saya coba sesendok, agak keras tapi rasanya seperti biskuit. Pas istrinya ada akhirnya sayapun bertanya juga “Ini bahannya apa, bu?” Tanya saya “Dari tepung beras, telur, vanili dan kelapa disangrai” dengan nada agak malu “Keras ya Pak?” Tanya istri teman itu lagi “Iya, tapi rasanya seperti biskuit” sambil terus makan….. Makanan ini memang unik sih, sederhana namun lumayan untuk teman minum kopi. Sementara sayapun diberi sepiring rebok dengan teh panas, secara saya kurang begitu suka kopi kental. Yang paling saya tunggu adalah Lomak, yang serupa dengan urap-urap, hanya bahannya lebih sederhana. Saya sekalian juga potret-potret proses pembuatannya didapur….malu-malu tuh istri dan saudara teman tadi…gak papa, soalnya bulan depan sudah pulang dan belum tentu saya bisa mencicipi lagi Lomak itu. Sekalian saja makan yang puas… Akhirnya, setelah setengah jam, tersedialah Lomak dengan ikan asin yang dimasak dengan tomat. Suasananya serasa di Pulau Flores kalau sudah begini, seharusnya Lomak dimakan dengan tangan, tapi karena males…akhirnya sudah saya makan dengan sendok. Enak lho, pahit2nya daun singkong (pucuk ubi) dipadu dengan asin pedasnya ikan asin masak tomat…. Ditambah dengan obrolan hangat sambil minum teh. Alhamdulillah, paling tidak saya sudah nambah wawasan lagi soal makanan. Mau nambah tapi kekenyangan, dan akhirnya semangkuk besar Lomak habis ludes…hehehe Pendek kata, setelah makan Orem-orem pada hari Sabtu, saya masih makan Lomak dan Rebok yang paling tidak menjadi petualangan kuliner yang tidak kalah dengan kunjungan ke resto-resto mahal. Bahannya murah, nggak perlu nguras kocek lagi…Kapan-kapan saya ingin coba buat sendiri ah…. Bambang Priantono 040607 (foto menyusul nanti sore)
|  | Inilah tempat kopdar MPers Malang jilid ke-3... Terletak di Jalan Blitar, Malang dan kesannya sederhana namun rasanya enak. Orang-orang desa biasa menyebutnya JANGAN (sayur) TEMPE, tapi begitu masuk kota, namanya berubah menjadi OREM-OREM... Sekilas warnanya seperti laksa, namun bahan utamanya selain kuah kuning dan ketupat adalah tempe dan toge...untuk menambah nikmatnya, boleh ditambah telur asin atau ayam... Harga orem-orem satu porsi sekitar 3000 rupiah Orem-orem dengan telur asin 4500 rupiah, dan Orem-orem dengan ayam 5000 rupiah atau kalau dikurskan ke ringgit jadi RM 2 Kalau di Singapura paling cuma berapa sen...murah kan? Harusnya dipadu dengan es Jamu, tapi pas nggak ada ya sudahlah hanya dengan teh botol dan dua kerupuk putih..yang penting enaaaakkkk |
|  | Sempat jalan-jalan ke Jalan Kawi habis anter si PETUALANG WAKTU. Makan pecel kawi yang sudah top sejak tahun 1975...porsinya biasa aja, hanya enak banget rasanya. Si PETUALANG WAKTU cuma pesan daging ama telor kalu gak salah...tapi okelah... Dia besok-besok harus ke sini lagi.... |
| |