Bambang's posts with tag: malang kembali
Satu hal lagi yang justru mengaburkan kejadulan Festival Malang Kembali adalah, banyak dijualnya 'tanduk-tanduk iblis' dikawasan 'pasar malam Malang Kembali' ini. Sepanjang perjalanan ke dalam festival yang memakan waktu sekitar 5 jam (dari jam lima sampai sepuluh malam), hampir dipastikan ada penjual 'tanduk syaiton' yang berkeliaran...tidak pakai baju jaman dulu dan nyelonong seenaknya. Mereka berjualan tanduk-tanduk iblis dari sudut satu ke sudut lainnya dan banyak yang membelinya. Warnanyapun ada dua, biru serta merah. Walhasil warna-warna kelap-kelip biru, merah berbentuk tandukpun bergelimpangan dimana-mana.. Jadi nuansa kekunoan yang terjadi di FMK tahun kemarin kian kabur entah kemana Ah, kenapa kok jadi gini ya? Dah gak kuno lagi, tanduk iblis juga bergentayangan dimana-mana...hehehehe. Namanya juga cari duit, dimanapun ada keramaian pasti disitu mereka datang. Entah kapan FMK ini benar-benar menemukan kesejatiannya. Nuansa kuno, makanan kuno dan pakaian yang kuno juga, tapi tentunya dengan pembatasan demi pembatasan atau dilombakan sekalian, snapshot busana jadul terbaik, pasti banyak yang ikutan....ah, massa...susah ngaturnya. Bambang Priantono 280508
Meskipun hanya sehari saya datang ke FMK (Festival Malang Kembali), saya seperti menangkap suatu kekecewaan dalam diri saya sendiri pada khususnya. Sejak dari awal jalan kedalam, suasana yang nampak tentunya semakin malam semakin semrawut. Pertunjukan yang adapun masih belum bisa memuaskan hati ini.
Mulai dari dress code yang digunakan, rasanya juga masih jauh panggang daripada api. Anjuran atau bahkan kewajiban bagi peserta untuk memakai busana jaman dulu masih diinterpretasikan berbeda-beda. Dibanyak stand, malah sebagian hanya memakai baju biasa, dan interpretasinya, baju jaman dulu ya kemeja batik, rok batik dan sebagainya. Bagi saya pribadi itu masih terlalu moderen, karena dijaman dulu mana ada rok batik, celana batik dan bahkan kemeja batikpun mungkin belum ditemukan..hehehehehe.
Sedangkan makanan-makanannya pun kalau boleh dibilang lebih mengarah pada makanan jaman sekarang. Jajanan jaman dulu yang pernah mewarnai festival malang kembali justru makin sedikit, dan rasanya kok saya kehilangan momen keduluan yang pernah menggayuti festival ini. Malahan kalau boleh jujur, suasananya lebih mirip bazaar biasa daripada nuansa festival tempo doeloe itu sendiri.
Ah, namanya juga massa. Kepala banyak, isi kepentingan juga banyak. Yang niat berpakaian jaman dulupun juga tidak banyak....malah aslinya kalau saya bayangkan, seharusnya festival ini banyak mengangkat seni-seni jaman dulu yang sekarang sudah punah atau mendekati kepunahan, termasuk diantaranya makanan dan budaya. Barangkali masyarakat kita masih lebih memikirkan soal perut dibandingkan soal pelestarian budaya, sehingga tingkat penghargaannya terhadap budaya sendiri masih sangat rendah. Maka jangan salahkan kalau kelak justru orang lain yang melestarikannya, bukan kita sendiri. Jangan mencak-mencak ya...
Yah, kalau boleh dibilang festival kali ini paling semrawut dan amburadul menurut saya. Kereta kuda saja tidak bisa melintas kalau malam hari, tidak berimbang dengan jumlah pengunjung yang membludak sampai tidak bisa bergerak sama sekali.....Mungkin ini keluhan yang harus saya ungkapkan, dan biarpun tidak dipedulikan semoga saja ini bergaung kemana-mana. Panitia perlu meninjau ulang semuanya dan suasana tempo doeloe itu pergi kemana???
Ah......saya rindu suasana FMK sebelumnya yang jauh lebih kuno dan jujur lebih saya nikmati.
Bersambung
Bambang Priantono 270508
Kalau ingat pesan yang terpampang di baliho Malang Kembali 'Hargai Tradisi, Pakailah Busana Tradisi' rasa-rasanya jadi pengen ketawa lagi. Malahan kalau dalam pemberitaan bakalan ada petugas yang menjaga agar busana para pengunjung sesuai dengan tema. Tapi yang saya lihat kemarin hanyalah satu gerai tempat pembelian cenderamata berupa kaos dan kain berbentuk ikat kepala yang sesuai dengan tema Malang Kembali.
Saya nggak sempat melihat apalagi membeli karena sudah kadung bete duluan. Katanya ada petugasnya? Lantas bagaimana dengan peserta festival...ternyata kalau saya lihat sih masih banyak yang tidak memakai busana sesuai tema, alias tidak tempo doeloe, cuma pakai kemeja batik, padahal dijaman dulu juga jarang ada. Kemudian juga pengunjungpun mayoritas tetap memakai baju biasa. Yah, namanya juga massa, pasti bakalan susah mengendalikannya.
Pakaiannya sih tetap ada yang pakai rok batik, atau baju putih celana hitam dan sarungan, kemudian juga pakai jarit tapi diatas lutut kayak pake rok mini aja. Tapi ada yang lebih parah lagi....didekat tugu mawar depan Museum Brawijaya, saya sempat melihat dua orang ABG memakai kain batik mulai dari dada hingga batas paha, jadi mirip orang yang mau pergi mandi di kali (sungai) hehehehehee...
Tambah lagi ada pemandangan lucu dan seger, ada beberapa ABG yang dua diantaranya pakai kebaya tapi bawahannya pakai hotpants alias celana super pendek....wah-wah-wah....paduan macam apa neh?? hehehehehe...rasanya emang seger lihat pemandangan kayak itu. Tapi kalau tema festivalnya jadul...apa dijaman itu ada yang pakai celana jeans super mini kayak gitu? Paling2 seh dulu telanjang dada...hehehehee
Emang repot sih...kayaknya panitia Malang Kembali harus meninjau ulang sosialisasinya...jujur aja masih MENGECEWAKAN bagi saya!!!
Bambang Priantono 260508
|  | Yang datang cuma seger, ale, vivi, bayu, fajar, nina, ihwan dan bunga...tapi tetep seru kok.. Untung aku ada tunggalannya...bayu dan fajar sama-sama pakai baju jadul..lumayan buat rame-rame nih...
Selamat menikmati Tetep semangat!!!! |
|  | Ini hasil jepretan kemarin...yah...sebenarnya bagi saya agak mengecewakan. Tapi apa mau dikata, yang penting senang melihat nuansa jaman dulu meski tidak seberapa kental seperti tahun-tahun sebelumnya..
Selamat menikmati |
Pembarep
Sebenarnya saya sudah datang sejak pukul 16.55 WIB, dengan pakaian lengkap sebagaimana yang disebut dalam jurnal sebelumnya. Nah, saya disangka sebagai peserta Festival sehingga tidak disuruh bayar karcis parkir seharga 2000 rupiah, dan alhamdulillah masuk aja dengan entengnya kedalam lokasi Festival. Suasana masih belum begitu ramai hingga saya putuskan untuk masuk dulu kedalam…ada beberapa perubahan yang saya lihat pada FMK kali ini, yakni ketiadaan tulisan-tulisan seperti ‘BOLEH GOEMBIRA TAPI DJANGAN LOEPA KANTONG’ yang merupakan keunikan tersendiri dalam festival tempo doeloe ini. Sebagaimana yang pernah saya sampaikan dalam pesan pribadi, dan atas usulan seorang rekan untuk kopdar tanggal 23 Mei 2008 di ajang Festival Malang Kembali, sayapun berusaha untuk dandan sejadul mungkin karena perkiraan teman-teman juga akan melakukan hal serupa. Sayang sekali, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Ternyata sama saja dengan tahun kemarin. Yang berbusana jadul (atau setengah jadul) tidak berbanding dengan jumlah pengunjung yang pakai baju biasa. Sambil menunggu teman-teman sayapun putuskan jalan kedalam. Yah, disana ketemu dengan Dian (Tjahaju) yang membuka stand di nomor 177, jualannya juga pernik-pernik lucu dan ada pakaiannya juga. Dia sepertinya heran melihat penampilan saya kali ini, sementara dia sendiri nggak seberapa jadul dandanannya. Setelah ketemu Dian, sayapun berputar, melihat diorama, mengambil gambar dan saat jam 18.00 WIB langsung kembali ke Poltek Kesehatan untuk menunggu anak-anak.
Panengah Sekitar jam 18.00 WIB saya sudah menunggu didepan Poltek Kesehatan. Yah, sesuai dengan yang disampaikan di pesan pribadi sebelumnya. Saya sempat mondar-mandir lama sampai disangka anggota Polsek yang sedang berpatroli dengan menyamar. Sebel! Masak dandan gini dibilang anggota Polsek. Sampai lebih dari setengah jam saya menunggu seperti orang kesasar, sementara jumlah pengunjung kian membludak. Ada kira-kira setengah jam sampai akhirnya saya lihat Vivi dan Ale. Sayang, mereka tidak pakai busana jaman dulu dengan alasan (Vivi) pulang kerja. Kemudian ngobrollah kita ngalor ngidul sambil menelepon beberapa teman. Winda (rumahwinda) katanya tidak bisa datang karena mengantar kerabatnya kemoterapi, sementara sang pengusul (dewimarthaindria) justru berhalangan hadir sebab jaga di Rumah Sakit (sedihnyaa), sedangkan Yuan (bayusutu) waktu saya telepon tidak bisa datang juga karena ada kajian rutin dan Yossy juga demikian….yah, memang begitu resikonya. Sementara beberapa rekan lainnya yang antusias di pesan pribadi justru tidak datang. Yah, jujur saja saya agak kecewa, tapi apa mau dikata, karena setiap orang ada hal-hal yang mungkin membuat mereka tidak bisa datang. Mungkin lain waktu. Tak lama datang s3g3r dengan seorang cewek yang bernama Elis, tapi tidak tahu itu saudaranya atau ‘saudara’nya? Hehehehee….sambil bernarsis ria, kita tidak lupa menanyakan kabar. Tapi jelasnya Cuma saya yang pakai baju jadul. Ah…nggak masalah…toh yang lain bisa lihat. Nah, ditengah ketidakpastian itu, tiba-tiba ada telepon dari Bayu, katanya masih on the way. Tapi kata si Vivi, kalau Bayu bilang begitu artinya masih lama…..apalagi katanya masih di Café Teras Matos, jadi pasti tertahan lama, terlebih situasi makin ramai dan padat. Maka kami putuskan untuk masuk duluan…situasi sangat padat, apalagi parkiran ada ditengah-tengah dan lautan manusia makin membludak. Kami berlima saling melihat agar tidak nyasar nantinya terlebih Vivi…dikhawatirkan dia akan amblas kalau tidak kita jaga..hehehehee… Benar-benar sesak, sampai saya SMSan dengan Fazli juga dengan agak mengumpat…mengumpat situasi yang super padat ini. Kira-kira 10 menit barulah kita terbebas dari kesesakan ini dan menyaksikan panggung keroncong. Nah, saat di panggung keroncong itu Bayu menelepon lagi katanya sedang menuju lokasi panggung keroncong. Dan pastinya lama lagi karena Bayu dan Fajar kan sama-sama gede…hehehehe, kuatirnya nyangkut. Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya saya gak merasa sendirian lagi. Karena Bayu berpakaian layaknya cantrik, sedang Fajar bak seorang modin yang mau menikahkan siapa atau apa gitu..hehehehehee…Nah, akhirnya sambil foto2an banci kamera, kita nonton keroncong dan jalan menuju kios si Dian Tjahaju….mereka pada bingung dimana lokasinya, mana Ale juga kok ya giras banget pengen ketemuan dengan Dian…hehehehehe.. Ketemu Dian, tetep dengan narsisnya…Dian selalu demikian setiap difoto, dan kenarsisan juga terus berlanjut. Namun sayang, Ale dan Vivi pamitan entah mau kemana, dan S3g3r mau antarkan adiknya atau ‘adiknya’ pulang, maka tinggal saya, Bayu dan Fajar yang jalan…kali ini menuju stand nomor 211, stand milik kerabat Ihwan (nawhi).
Nongkrong di Stand 211 Akhirnya sampai di stand 211, saya panggil Ihwan yang sedang melayani tamu. Berhubung haus ya kita ngaso dulu disana. Apalagi dengan kepadatan pengunjung seperti itu tak pelak mengundang rasa haus….kami bertiga pesan es temulawak yang segar. Eh, disitu baru terbongkar kalau Fajar ternyata baru kali ini mencoba es temulawak. Bayu menjelaskan kalau yang asli rasanya agak getir, yang kami minum ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa kok sehingga rasanya enak. Sayang telur untuk lontong sayurnya sudah habis sehingga hanya sayur yang tersisa. Bayu pesan dengan ayam bakar, sedangkan saya dan Fajar pesan polosan saja. Saat mau membayar? Eh, ternyata tidak diperbolehkan alias gratis. Waduh, benar-benar rejeki nomplok neh…trims ya Wan…hehehehehee… Singkatnya lagi, Nina dan Hana menelepon, katanya mau datang ke lokasi. Terlebih sejatinya sudah janjian untuk bertemu dengan Ihwan pula tapi nyasar. Sandal saya sempat hilang sebelah waktu selesai makan di stand keluarga Ihwan (nanti ada ceritanya sendiri), mungkin ketendang atau gimana, tapi alhamdulillah ada anak yang menemukan dan mengembalikannya kesaya. Nina dan Hana nongol, tapi Ale dan Vivi juga nongol…katanya pulang eh ternyata ‘kencan’ dulu…kakakakaakakkkkk….ritual pertama adalah ‘foto-fotoan berbanci kamera ria’…itu sudah mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar…apalagi Ihwan juga akhirnya ikutan kita. Berjalan lagilah kita…
Penutup Jam semakin malam, namun kita tetap bergembira ria…terlebih ada pertunjukan ketoprak yang cukup menghibur. S3g3r datang sendiri…ya, sempat kita cari-carian karena dia gak paham kita posisinya dimana. Gila-gilaan, bercanda, bersukaria tetap dilakukan meski dengan jumlah lebih sedikit. Mulai dari foto-fotoan di sawah buatan, ngasoh sebentar dan macam-macam dah…yang penting melepas lelah setelah lama gak ketemuan. Sayangnya saya nggak bisa lama-lama karena harus membelikan obat untuk Mama di apotik dan sekitar jam 22.00 WIB saya pamit ke teman-teman saat sampai di Diorama Islam….Yah, guys…sampai ketemu lagi ya. Mudah-mudahan besok-besok bisa lebih lengkap meski tidak didalam Festival Malang Kembali kali ini. Terlebih jujur saja, saya merasa kecewa dengan Festival yang sekarang.
Bravo Mpers Malang…
Bersambung (foto bareng minus vivi, soale dia yang motret hehehehe)
Untuk FMK (Festival Malang Kembali) tahun ini saya sengaja tampil total. Total diantara orang-orang lain yang tidak memakai baju tempo doeloe atau cuma sebagian saja...kira-kira memang jumlah pemakai baju jadul kian banyak, hanya saja sering salah kaprah. Ada yang pakai rok batik, atau celana batik, ada juga yang pakai model Jogja. Tapi untuk dress code tahun ini saya sengaja pakai tema pelajar tempo doeloe. Terinspirasi oleh penampilan para mahasiswa STOVIA tahun 1908 yang memadukan pakaian barat dengan tradisional...yakni
1. Atasan menggunakan kemeja, plus dasi...seharusnya sih pakai rompi dalam, tapi nggak ada, dan ditutup dengan jas. 2. Bawahannya pakai kain jarit (batik), karena gak sempat mewiru ya dibiarkan los saja.. 3. Blangkon atau udeng. Karena gak punya, akhirnya kain batik saya sulap jadi udeng alias penutup..
Hasilnya? banyak yang ngeliatin penampilan saya yang mungkin nyeleneh ini...Gak terlalu mirip memang, secara harusnya pakai dasi kupu2 dan rompi ala jaman dulu tapi komitmen tetep...pakai baju tempo doeloe selama festival dan gak ikut arus.... Merdeka!!!
Bambang Priantono 240508 (sori rada blur fotonya, foto beda generasi...kakakakakkk)
Festival Malang Kembali 2008 ini adalah penyelenggaraan tahun ketiga sejak diadakan pada tahun 2006. Hanya untuk kali ini festival diadakan dengan lebih singkat dari tahun-tahun sebelumnya, dari semula 5 hari menjadi hanya 4 hari, mulai dari tanggal 22 sampai tanggal 25 Mei 2008. Slogan yang dipakai adalah ‘Sejuta Tradisi, Satu Aksi’ dimana berbagai atraksi kesenian dan segala macamnya tumpah ruah dalam festival yang berlangsung di sepanjang Jalan Ijen ini. Aneka lomba dan pertunjukan juga digelar, seperti lomba Kakang Mbakyu Cilik yang diselenggarakan hari Jumat tanggal 23 Mei pada pagi hari, lomba egrang, serta yang lebih penting adanya diorama. Gembar-gembor itu juga kian diperkuat dengan munculnya spanduk-spanduk ejaan Ophuysen yang berjajar disepanjang jalan mendekati Jalan Ijen bahkan sampai jalan Jakarta (dekat kantor). Dan menurut berita yang saya dengar dari beberapa media, dikatakan Festival Malang Kembali untuk kali ini akan dibuat lebih tertib dengan melarang penjual jalanan untuk memasuki areal festival dan parkir yang lebih teratur serta peraturan lebih ketat dari biasanya. Kesan penerapan aturan itu tercermin dengan sebuah baliho yang terpampang di Jalan DI Panjaitan, tergambar seorang laki-laki berbusana Jawa dan beberapa penari dengan latar belakang candi, slogannya adalah ‘Hargailah Boedaja Sendiri, Pakailah Boesana Tradisi’. Baliho besar itu sudah terpasang selama lebih dari dua minggu sebagai pengganti baliho bergambar Pak Peni (Walikota Malang). Kemudian juga beberapa diorama yang sebelumnya tidak ada kini diadakan, seperti diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah kota Malang dan sekitarnya mulai jaman Mataram Hindu sampai dengan penjajahan Belanda serta pertunjukan berbagai seni budaya, seperti festival Batik Malang yang diadakan Jumat pagi (sayang sekali tidak bisa dating karena masuk kerja), pertunjukan Ludruk, Keroncong, Ketoprak hingga Qasidah yang setiap hari temanya (katanya) berbeda. Malahan ada diorama sawah berikut ternaknya (kerbau dan bebek) yang dipasang dekat dengan Museum Brawijaya Tapi yang paling menarik lagi (seharusnya), adalah para pengunjung disarankan untuk memakai baju jaman dahulu. Baik baju petani atau baju-baju jaman perjuangan. Ini yang sebenarnya menjadi daya tarik bagi siapapun yang datang ke festival tahunan ini. Seharusnya dan seharusnya. Malahan dibeberapa sumber, ada pengamanan berlapis untuk memantau pemakaian busana tempo doeloe dan dibuka persewaan untuk baju tempo doeloe dan pernak-perniknya seharga 5000 sampai 15.000 perak didepan gerbang festival. Inilah slogannya, tapi apa yang terjadi? Mungkin ini pandangan saya, ada kegembiraan sekaligus kekecewaan yang terbersit dalam pikiran saya saat datang ke festival itu hari Jumat sorenya… Bersambung, karena masih ada kelanjutannya Bambang Priantono 240508
Festival Malang Kembali hari ini akan dibuka, moga-moga aja lebih baik dari tahun sebelumnya. Semalam saya sempat kebingungan mau cari pinjaman blangkon. Mana blangkon milik saya sudah dihadiahkan kepada sahabat tersayang, hingga akhirnya tidak punya sama sekali. Sebelnya, festivalnya kok diadakan pas tanggal tua ya? mana duit sudah kian menipis, dompet kian kritis....hehehehe... Semalam saya bilang ke adik untuk pinjam kain jarit (batik)nya. Dia langsung bawakan dua helai sekaligus dengan corak berbeda tapi warna dasarnya sama yakni coklat. Saya cobain satu-satu, eh...alhamdulillah pas saja meski kurang panjang. Paling sebatas mata kaki, tak perlu diwiru lah, karena kalau diwiru justru tampak kependekan. Sedangkan saya ingin tampil ala pelajar tempo doeloe, namun beskap (baju jawa) tiada. Akhirnya terlintas ada satu jas yang belum pernah saya pakai. Warnanya abu-abu tua (mendekati hitam), dan belum dikeluarkan dari plastik, so ambil saja dan dicoba. Nah...ternyata setelah kerahnya (collar) dinaikkan dan dikancingkan menyamping, jadilah beskap darurat..hehehehee. Blangkon Bagaimana dengan blangkon? usut punya usut, diakibatkan tidak ada yang punya maka saya bingung mau pakai apa. Sempat kepikiran mau pakai kopiah saja, tapi kok malah katon wagu? Sembari melayani pelanggan toko, karena Papa Mama sedang keluar, saya mikir....eh! ketika mata saya tertumbuk pada kain batik punya adik, tiba-tiba saya berpikiran, gimana kalau ini saja yang dijadikan ikat kepala?
Ternyata....jalan!!! meski kelihatan kepanjangan, tapi 'blangkon' atau udheng atau ikat kepala darurat ini. Sedang untuk kain jaritnya saya ikat saja dengan sabuk (tali keledar) biar tidak lepas dan...jadi dach tampil ala tempo doeloe... Ah, lega rasanya sudah ketemu jalan keluar. Soal alas kakinya, gampanglah bisa diatur...entah pakai theklek, atau sepatu atau sekalian aja nyeker alias telanjang kaki...lihat saja. Namanya juga akal-akalan saat tanggal tua. Bambang Priantono 220508
Dari tulisan-tulisan saya sebelumnya, semua orang selalu mempersoalkan ini jilbab apa kerudung...bagi saya sih gak masalah, kalau orang jadul ya bilangnya saya kirang kerudung, termasuk model HR Rasuna Said itu... Untuk yang model HR Rasuna Said dan santriwati jaman baheula ini, berikut gambarannya agar jelas...(abis kalau disuruh peragaan ya repot, huehehehehe)...Nah, biar juelas...monggo dilihat nih
a. Kain kerudung bahannya dari selendang panjang dengan renda dipinggirnya, warnanya sih biasanya cerah. Bahannya juga tebal, atau bisa dengan kain jilbab panjang putih dilapis selendang berenda...batasnya juga melampaui pundak dan menutup dada. Caranya dengan dililitkan hingga hanya terlihat wajah seperti menggunakan jilbab biasa, tapi dikancingkan dekat pipi kiri, seperti contoh HR Rasuna Said itu. b. Untuk bajunya....dianjurkan menggunakan kebaya lebar, disesuaikan dengan santriwati tempo doeloe...yang memakai kebaya lebar atau baju atasan seperti baju kurung Melayu. (coraknya terserah asal gak kelihatan moderen)...bahan mengkilap kayaknya gak perlu dech...pakai yang simpel aja. c. Sedang untuk bawahannya, gunakan saja batik, tapi agak lebar ya biar jalannya leluasa.
Kurang jelas? hehehehehe, hubungi saya sekali lagi, mumpung kurang 10 hari lagi lhoo
Bambang Priantono 120508 (gambarnya sama seperti kemarin....)
Tadi pagi waktu ada yang nanya tentang jilbab jaman dulu, saya sempet bingung...yang saya ingat malahan model HR Rasuna Said yang memang rapat dan belibet, pakaian model santriwati jaman dahulu kala (dan sekarang juga) yang dipadu dengan baju kurung atau kebaya lebar dan kain sarung atau batik. Nah, barusan saya inget lagi satu model jilbab yang dipakai orang jaman dulu, terutama yang ditanah Jowo...
Saya teringat seorang nenek yang sering lewat di kos-kosan saya waktu masih di Surabaya, beliau selalu memakai jilbab transparan yang dipadu dengan kain dan kebaya....jilbab tapi transparan alias tembus pandang, karena kita masih bisa melihat samar-samar leher dan rambutnya yang digelung atau kadang ditutup dengan istilah kami disini kerpus...
Sayapun teringat dengan sebuah foto kuno yang diambil tahun 1913, dimana ada prosesi upacara di Keraton (lupa dimana) dan seorang wanita dengan jilbab transparan plus kebaya ada didalamnya...
Nampaknya model ini juga cocok bagi yang ingin jadul di Festival Malang Kembali, utamanya yang pakai jilbab (baik yang biasa atau gaul)...sedang bagi yang panjang jilbabnya mungkin kurang cocok jika menyangkut aurat. Karena jaman dulu dan sekarang beda sih....dan kerudung model HR Rasuna Said saat itu konon lebih familier di Sumatera ketimbang di Pulau Jawa..
Mau coba? silakan..
Bambang Priantono 110508
|  | Dulu sih jilbab modelnya ya seperti HR Rasuna Said, tapi saya baru tersadar kalau ada lagi model jilbab yang dipakai di Jawa jaman dulu... Ada sebagian wanita muslim yang memakai jilbab transparan yang menutup sampai batas dada dan dipadu dengan kebaya serta kain batik saja... Nah, mungkin bagi anda yang berjilbab panjang dan rapat bisa mencontoh model yang nomor dua, sedang yang berjilbab biasa...bisa mencontek model pertama. Saya pernah melihat seorang nenek di Surabaya yang masih memakai jilbab jadul model transparan ini...
Nah, semoga bermanfaat yaa... |
|  | Spanduk yang menjadi pengingat, sekaligus sindiran.... |
|  | Poster-poster seperti ini sudah mulai dipasang diberbagai tempat dikota Malang, khususnya di Jalan Ijen yang akan menjadi lokasi festival tahunan yang mengusung tema tempo doeloe ini... Nah, bagi yang kurang familier dengan ejaan Ophuysen, silakan dibaca dengan teliti...
Enjoy it!!! |
Festival Malang Kembali 2008 segera digelar tanggal 22-25 Mei nanti. Nah, bagi yang berjilbab apalagi jilbab panjang mungkin mengalami kebingungan, apa kira-kira yang hendak dipakai terlebih jika anda pemakai jilbab sangat panjang. Saya yakin sebagian jilbaber panjang juga ingin merasakan gimana sih baju jadul itu? Barangkali jilbaber pendek masalahnya tidak serumit jilbaber panjang. Bagi jilbaber pendek atau biasa bisa menggunakan pilihan sebagai berikut (ini cuma anjuran saja, terserah mau digunakan atau nggak)... a. Boleh pakai kebaya asal kebayanya gak kelewat ketat dengan kain batik yang longgar...ingat, jangan pakai rok batik atau samarkan saja biar tidak terkesan seperti rok.. b. Mau model ibu Malin Kundang atau wanita tani yang kepalanya ditutupi selendang dan jika masih kurang yakin nutup aurat bisa juga pakai jilbab kecil tapi ditutup dengan selendang...sedang model bajunya, boleh kebaya ala petani...
Nah, barusan saya terlintas gambaran pahlawan nasional kita HR Rasuna Said, cara berjilbab beliau ini nampaknya pantas bagi wanita berjilbab panjang yang ingin tampil sebagaimana dimasa lampau. Setahu saya, santriwati-santriwati dijaman sebelum kemerdekaan memakai jilbab model HR Rasuna Said ini, dan dipadu dengan baju kurung atau kebaya lebar...Hnaaa, sepertinya model jilbab beliau ini yang pantas!!! Jilbab panjang dipadu dengan selendang dan cara seperti yang ada pada contoh gambar ini bisa dijadikan acuan bagi semuanya, khususnya bagi yang berjilbab panjang...
Semoga bermanfaat....
Bambang Priantono 100508
|  | Lokasi : Jalan Semeru
Beberapa baliho soal ini festival sudah beredar dibeberapa titik kota Malang...silakan dilihat apa saja yang ada dan sekalian sebagai pengumuman buat semuanya...jangan lupa, tinggal beberapa pekan lagi.
|
| Start: | May 22, '08 7:00p | | End: | May 25, '08 | | Location: | Sepanjang Jalan Ijen, Kota Malang |
Alhamdulillah, festival ini kembali segera dirayakan. Temanya berbeda dengan diorama Singosari, tetapi pakaiannya tetap bebas, yang penting mencerminkan jaman dahulu. Mulai dari jaman Singosari sampai Belanda... Keterangan lebih lanjut, mari ikuti terus perkembangannya Dibuka pada tanggal 22 Mei 2008 pukul 19.00 WIB
|  | Nih iklan-iklan jaman dulu.... Yang dua emang asli jadul Yang satunya bo'ong2an saja...
Silahkan diintip dan dikomentari...hehehehe |
|  | Akhirnya, sampei juga di bagian akhir foto2 festival malang kembali ini....memang sih butuh waktu beberapa hari untuk ambil semuanya. Tapi demi kepuasan semuanya ini saya unggahkan... Poster, foto, kegiatan dan benda-benda lainnya....selamat menikmati dan sampai jumpa di festival tahun depan....:))
|
|  | Silakan dilihat-lihat lagi apa saja yang ada di ceceran sisa foto untuk habis2in file, secara mau disalin di cakram setelah ini agar kapasitas piranti kerasnya bisa lega...
Mari, mari dilihat suasana Festival Malang Kembali meski sudah lama berlalu...hehehehe |
| |