Indonesia, Dangerously Beautiful!!!!

Bambang's posts with tag: pengalaman

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pengalaman
Blog EntryJIKA SATU PULAU MATI LAMPU....Jun 19, '08 7:23 PM
for everyone
Kalau satu RT mati lampu? itu lumrah
Kalau satu kelurahan mati listrik? biasa
Kalau satu kota kena pemadaman bergilir? Ya..gitu dech
Bagaimana kalau satu pulau mati lampu? Pusing nggak seh?

Gara-gara pemadaman bergilir ini saya jadi inget kejadian sembilan tahun yang lalu. Satu pulau listriknya (kalau yang gak ngerti, listrik itu letrik) mati semua. Ini bukan karena krisis energi, bukan karena jadwal pemadaman bergilir, tapi karena kabel penghubung antar pulaunya copot. Kenapa copot? gara-gara kecantol jangkar kapal barang di Tanjung Perak.

Saya lupa persisnya bulan apa, yang jelas kejadiannya tahun 1999. Ada sebuah kapal barang yang saat buang sauh tidak sengaja membuangnya dekat dengan jaringan kabel listrik Jawa-Madura, dan kemudian kecantollah jangkar itu hingga akhirnya listrik untuk Pulau Madura tewas dengan sukses. Seharian padam? nggak!!! malah justru Madura terpaksa tidak mendapat aliran listrik selama dua bulan. Bayangkan saja, dari ujung ke ujung tidak ada listrik dan kalau malam hari akhirnya terpaksa menghidupkan lampu teplok, lilin atau strongking (petromaks).

Atas kesalahan inipun pemilik kapal kena hukuman, perbaikan jaringan makan waktu sangat lama hingga pemda Kalimantan Barat juga kirimkan genset untuk penerangan di Pulau Madura, kendati saat itu juga sedang panas-panasnya antara Dayak dan Madura di Sambas. Toh, tetap dengan rasa solidaritas satu bangsa dan tanah air, akhirnya tetap kirim bantuan.

Saya merasakan sendiri pemadaman di Madura ini waktu diundang mengajar disebuah pondok pesantren. Oleh salah satu pengurusnya saya diajak keliling dan memang makin malam nuansa lampu teplok kian kental, semuanya menghidupkan lampu-lampu darurat agar ada sedikit penerangan disana. Yah, mandipun terpaksa dengan penerangan lilin. Tapi saya bertanya-tanya, apa mereka juga tetap bayar tagihan PLN biarpun listrik terputus begitu?

Akhirnya saat kembali ke Surabaya, dari atas ferry saya melihat gemerlap lampu-lampu kota Surabaya yang indah didepan saya, sementara saat menoleh ke belakang, pulau Madura nampak samar-samar bermandikan cahaya lampu teplok....Perbedaan yang kontras, hanya karena kesalahan menaruh jangkar, jutaan orang dirugikan.

Semoga saja neh, kasus seperti di Pulau Madura ini tidak terulang lagi, apalagi sampai 2 bulan..pusing tujuh keliling....



Bambang Priantono
200608


Blog Entry(Cerita Ajah) : SAWAH DEKAT RUMAH GUE...May 8, '08 1:23 AM
for everyone

Daerah sekitar rumah gue masih banyak yang kosong. Baik itu lahan tidur, atau ditanemin macem-macem, kayak kacang tanah, lombok (cabe rawit atawa cili kalo tetangga seberang omong), jagung, singkong dan yang penting lagi adalah padi!!!....

Memang banyak lahan tidur itu yang udah mulai dibangun rumah yang megah magrong-magrong, terlebih memang tanahnya masih luas dan dalam waktu dekat bakalan jadi pusat pemukiman baru. Tapi ada hal-hal penting yang suka gue perhatiin kalau sedang ada dirumah.

Dari lantai dua rumah, gue kadang suka melihat kesana kemari, ternyata masih ada saja sepetak sawah tepat dibelakang rumah. Saat ini gue bisa ngelihat dengan jelas dari dekat proses pembajakan sawahnya dan sekarang sih sudah mulai tumbuh dan siap panen. Sedangkan ada dua petak sawah lagi sekitar 200 meter dari rumah, berseberangan dengan kebon kacang yang menghijau dengan padi...

Alhamdulillah ternyata masih banyak sawah didalam kota yang kian membangun ini. Gue suka banget ngeliat lama-lama apalagi kalau sawah sedang ijo-ijonya....sampai-sampai gue sempat sedih banget, waktu sawah disebelah pujasera (medan selera) LUMBUNG PADI di jalan Soekarno-Hatta diurug tanah, mau dijadikan bangunan. Padahal citranya pas dengan nama pujasera itu.

Kadang kalau ngeliatin sawah dibelakang rumah, gue suka mikir...sampai berapa lama sawah ini bakal bertahan? Apakah nanti akan dibeli dan digusur untuk dijadikan perumahan? Lantas pegimana dengan sawah sisanya? Gue gak tau apa yang bakal kejadian besok...apalagi beras juga malah mahal gara-gara bencana dan juga gusur sana gusur sini. Beras cap lombok dirumah gue harganya dah 29 rebu per lima kilonya lho...ntah kalo yang Piala Dunia...

Padahal tanpa sawah ini, apakah kita bisa hidup? Apa cuma ngandelin beras dari negeri tetangga? Lantas gimana dengan orang miskin yang sekarang malah mlarat dengan makan nasi aking? Ah.....kalo ngeliat sawah dibelakang rumah itu gue suka miris sendiri....apa nanti digusur juga? Lantas kalo sawah-sawah dikota pada habis, apa kita terus ngandelin yang didesa, yang saat ini juga belum karuan bisa menuhin kebutuhan kota?

Ah, moga-moga aja sawah dilingkungan rumah gue gak cepet-cepet digusur...karena gue masih ingin mensyukuri nikmat-Nya yang asli, bukan yang udah gusuran. Kasian juga anak-anak entar kalo nanti gak ada lagi sawah....mau main layangan dimana?

Nikmati saja sawah itu dulu sedari bisa...


Bambang Priantono
080508


Njenengan dalam bahasa Jawa artinya 'anda'
Bentuk panjangnya adalah 'panjenengan' dan ini sangat halus...

Njenengan ini lebih banyak terdengar diJawa Tengah, Jogja dan Jawa Timur bagian barat ketimbang belahan timur, jadi bagi saya pribadi seseorang yang menyebut saya dengan njenengan itu kesannya sopan banget...gak kayak saya yang sehari-harinya paling pol menyebut 'sampeyan', yang di Jawa Timur Arekan sudah dianggap sangat respektif.
Tadi pagi saya mengantarkan sisa undangan HRD gathering ke beberapa sekolah dan dua perusahaan. Satu kantor notaris dan satunya perusahaan di Lawang.
Nah, yang saya datangi tadi salah satunya adalah kantor notaris, terpampang nama Tan Lyla Herawati, SH (dari nama depannya sudah terlihat kalau dia keturunan Tionghoa), dan memang lazimnya mayoritas keturunan Cina di Indonesia mempunyai dua nama, yakni nama Cina dan nama Indonesia (yang seringkali berbau Jawa atau dijawa-jawakan, sebagai dampak dimasa lalu). Mahasiswi-mahasiswi saya ada tiga orang yang magang dikantornya yang lebih mirip rumah..memang, rumah merangkap kantor.
Agak lama sih nunggu orangnya, karena beliau nampaknya masih sibuk banget dengan kerjaannya. Sayapun melihat-lihat sekeliling...ada foto-foto yang menunjukkan siapa Ibu Lyla ini...yang kata rekan saya super cerewet...hehehehe...banyak fotonya yang memakai kebaya dan nampak 'njawani' dengan busana tersebut..
Tak lama setelah 10 menit jamuran menunggu, orang yang dimaksud keluar dari ruangannya dan menyapa saya dengan hangat..
'Dengan Pak Siapa ini?'
'Pak Nono, Bu'  ikutan menjabat dengan hangat
Nah, saya jelaskan maksud tujuan saya pada beliau, yakni menyampaikan undangan. Beliau nampak antusias karena yang membawakan adalah pimpinan John Robert Power Asia Tenggara sendiri. Nah, dari gaya bicaranya, meski usianya nampak sudah memasuki setengah abad, namun beliau kelihatan enerjik dan kosakatanya lebih banyak didominasi bahasa Jawa, malah halus sekali...
Termasuk kalimatnya berikut :
Ini saya cuma bilang ke njenengan
Yang mana tidak banyak orang keturunan Tionghoa yang menguasai atau menggunakannya.
Mungkin biasa bagi orang lain, tapi bagi saya ini merupakan pengalaman yang menarik...apalagi jarang sekali orang Tionghoa menggunakan kata njenengan ini kecuali kalau dia berasal dari Jawa Tengah, Jogja atau bagian barat Jawa Timur.
Terlebih Bu Lyla meski kesannya ceriwis, tapi sangat-sangat Jawa perilakunya...Ya mungkin sebagai dampak pembauran ya...atau setidaknya meski didalam mempertahankan budayanya, tapi menyesuaikan diri dengan budaya sekitarnya..
Sekali lagi, mungkin cerita ini biasa saja, atau malah remeh...tapi bagi saya ini luar biasa...apalagi baru sekali ini saya ketemu orang keturunan Cina yang seperti Bu Lyla ini....(maksud saya, biasanya sih sehari2nya terdengar kasar...terlebih anak muda sekarang)


Bambang Priantono
070508

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help